Minggu, 04 April 2010

laporan kelainan tulang

1. Kelainan Tulang Akibat Gangguan kongenital/bawaan
Kelainan Bawaan (Kelainan Kongenital) adalah suatu kelainan pada struktur, fungsi maupun metabolisme tubuh yang ditemukan pada bayi ketika dia dilahirkan. Sekitar 3-4% bayi baru lahir memiliki kelainan bawaan yang berat. Beberapa kelainan baru ditemukan pada saat anak mulai tumbuh, yaitu sekitar 7,5% terdiagnosis ketika anak berusia 5 tahun, tetapi kebanyakan bersifat ringan.
Dalam praktek sehari-hari kita akan menemukan anak dengan variasi normal kelainan musculoskeletal dalam bentuk serta fungsinya terutama pada anggota gerak. Kelainan dan variasi ini sering ditemukan pada anaj-anak dan berkurang oada saat mencapai dewasa dan menandakan adanya perbaikan secara spontan. Meskipun kelainan ini merupakan suatu variasi normal pada seorang anak yang sehat dan akan terjadi regrasi spontan tetapi tetap terdapat kegelisahan pada orang tua dan nenek penderita.
a. Etiologi
Kebanyakan bayi yang lahir dengan kelainan bawaan memiliki orang tua yang jelas-jelas tidak memiliki gangguan kesehatan maupun faktor resiko. Seorang wanita hamil yang telah mengikuti semua nasihat dokternya agar kelak melahirkan bayi yang sehat, mungkin saja nanti melahirkan bayi yang memilii kelainan bawaan. 60% kasus kelainan bawaan penyebabnya tidak diketahui; sisanya disebabkan oleh faktor lingkungan atau genetik atau kombinasi dari keduanya.

Kelainan struktur atau kelainan metabolisme terjadi akibat:
• hilangnya bagian tubuh tertentu
• kelainan pembentukan bagian tubuh tertentu
• kelainan bawaan pada kimia tubuh.
Kelainan struktur utama yang paling sering ditemukan adalah kelainan jantung, diikuti oleh spina bifida dan hipospadia. Kelainan metabolisme biasanya berupa hilangnya enzim atau tidak sempurnanya pembentukan enzim. Kelainan ini berbahaya bahkan bisa berakibat fatal, tetapi biasanya tidak menimbulkan gangguan yang nyata pada anak. Contoh dari kelainan metabolisme adalah penyakit Tay-Sachs (penyakit fatal pada sistem saraf pusat) dan fenilketonuria.
Penyebab lain dari kelainan bawaan adalah:
• Pemakaian alkohol oleh ibu hamil. Pemakaian alkohol oleh ibu hamil bisa menyebabkan sindroma alkohol pada janin dan obat-obat tertentu yang diminum oleh ibu hamil juga bisa menyebakan kelainan bawaan.
• Penyakit Rh, terjadi jika ibu dan bayi memiliki faktor Rh yang berbeda.
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan meningkatnya resiko kelainan bawaan:
• Teratogenik
Teratogen adalah setiap faktor atau bahan yang bisa menyebabkan atau meningkatkan resiko suatu kelainan bawaan. Radiasi, obat tertentu dan racun merupakan teratogen.
Secara umum, seorang wanita hamil sebaiknya:
- mengkonsultasikan dengan dokternya setiap obat yang dia minum
- berhenti merokok
- tidak mengkonsumsi alcohol
- tidak menjalani pemeriksaan rontgen kecuali jika sangat mendesak.
Infeksi pada ibu hamil juga bisa merupakan teratogen. Beberapa infeksi selama kehamilan yang dapat menyebabkan sejumlah kelainan bawaan:
- Sindroma rubella kongenital ditandai dengan gangguan penglihatan atau pendengaran, kelainan jantung, keterbelakangan mental dan cerebral palsy
- Infeksi toksoplasmosis pada ibu hamil bisa menyebabkan infeksi mata yang bisa berakibat fatal, gangguan pendengaran, ketidakmampuan belajar, pembesaran hati atau limpa, keterbelakangan mental dan cerebral palsy
- Infeksi virus herpes genitalis pada ibu hamil, jika ditularkan kepada bayinya sebelum atau selama proses persalinan berlangsung, bisa menyebabkan kerusakan otak, cerebral palsy, gangguan penglihatan atau pendengaran serta kematian bayi
- Penyakit ke-5 bisa menyebabkan sejenis anemia yang berbahaya, gagal jantung dan kematian janin
- Sindroma varicella kongenital disebabkan oleh cacar air dan bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada otot dan tulang, kelainan bentuk dan kelumpuhan pada anggota gerak, kepala yang berukuran lebih kecil dari normal, kebutaan, kejang dan keterbelakangan mental.
• Gizi
Menjaga kesehatan janin tidak hanya dilakukan dengan menghindari teratogen, tetapi juga dengan mengkonsumsi gizi yang baik. Salah satu zat yang penting untuk pertumbuhan janin adalah asam folat. Kekurangan asam folat bisa meningkatkan resiko terjadinya spina bifida atau kelainan tabung saraf lainnya. Karena spina bifida bisa terjadi sebelum seorang wanita menyadari bahwa dia hamil, maka setiap wanita usia subur sebaiknya mengkonsumsi asam folat minimal sebanyak 400 mikrogram/hari.
• Faktor fisik pada rahim
Di dalam rahim, bayi terendam oleh cairan ketuban yang juga merupakan pelindung terhadap cedera. Jumlah cairan ketuban yang abnormal bisa menyebabkan atau menunjukkan adanya kelainan bawaan.
Cairan ketuban yang terlalu sedikit bisa mempengaruhi pertumbuhan paru-paru dan anggota gerak tubuh atau bisa menunjukkan adanya kelainan ginjal yang memperlambat proses pembentukan air kemih. Penimbunan cairan ketuban terjadi jika janin mengalami gangguan menelan, yang bisa disebabkan oleh kelainan otak yang berat (misalnya anensefalus atau atresia esofagus).
• Faktor genetik dan kromosom
Genetik memegang peran penting dalam beberapa kelainan bawaan. Beberapa kelainan bawaan merupakan penyakit keturunan yang diwariskan melalui gen yang abnormal dari salah satu atau kedua orang tua. Gen adalah pembawa sifat individu yang terdapat di dalam kromosom setiap sel di dalam tubuh manusia. Jika 1 gen hilang atau cacat, bisa terjadi kelainan bawaan.

Pola pewarisan kelainan genetik:
1. Autosom dominant
Jika suatu kelainan atau penyakit timbul meskipun hanya terdapat 1 gen yang cacat dari salah satu orang tuanya, maka keadaannya disebut autosom dominan.
Contohnya adalah akondroplasia dan sindroma Marfan.
2. Autosom resesif
Jika untuk terjadinya suatu kelainan bawaan diperlukan 2 gen yang masing-masing berasal dari kedua orang tua, maka keadaannya disebut autosom resesif.
Contohnya adalah penyakit Tay-Sachs atau kistik fibrosis.
3. X-linked
Jika seorang anak laki-laki mendapatkan kelainan dari gen yang berasal dari ibunya, maka keadaannya disebut X-linked, karena gen tersebut dibawa oleh kromosom X. Laki-laki hanya memiliki 1 kromosom X yang diterima dari ibunya (perempuan memiliki 2 kromosom X, 1 berasal dari ibu dan 1 berasal dari ayah), karena itu gen cacat yang dibawa oleh kromosom X akan menimbulkan kelainan karena laki-laki tidak memiliki salinan yang normal dari gen tersebut. Contohnya adalah hemofilia dan buta warna.
4. Kelainan pada jumlah ataupun susunan kromosom juga bisa menyebabkan kelainan bawaan.
Suatu kesalahan yang terjadi selama pembentukan sel telur atau sperma bisa menyebabkan bayi terlahir dengan kromosom yang terlalu banyak atau terlalu sedikit, atau bayi terlahir dengan kromosom yang telah mengalami kerusakan.
Contoh dari kelainan bawaan akibat kelainan pada kromosom adalah sindroma Down. Semakin tua usia seorang wanita ketika hamil (terutama diatas 35 tahun) maka semakin besar kemungkinan terjadinya kelainan kromosom pada janin yang dikandungnya. Kelainan bawaan yang lainnya disebabkan oleh mutasi genetik (perubahan pada gen yang bersifat spontan dan tidak dapat dijelaskan). Meskipun bisa dilakukan berbagai tindakan untuk mencegah terjadinya kelainan bawaan, ada satu hal yang perlu diingat yaitu bahwa suatu kelainan bawaan bisa saja terjadi meskipun tidak ditemukan riwayat kelainan bawaan baik dalam keluarga ayah ataupun ibu, atau meskipun orang tua sebelumnya telah melahirkan anak-anak yang sehat.
b. gejala
Kelainan bawaan menyebabkan gangguan fisik atau mental atau bisa berakibat fatal. Terdapat lebih dari 4.000 jenis kelainan bawaan, mulai dari yang ringan sampai yang serius, dan meskipun banyak diantaranya yang dapat diobati maupun disembuhkan, tetapi kelainan bawaan tetap merupakan penyebab utama dari kematian pada tahun pertama kehidupan bayi.
c. pencegahan
Beberapa kelainan bawaan tidak dapat dicegah, tetapi ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko terjadinya kelainan bawaan:
- Tidak merokok dan menghindari asap rokok
- Menghindari alcohol
- Menghindari obat terlarang
- Memakan makanan yang bergizi dan mengkonsumsi vitamin prenatal
- Melakukan olah raga dan istirahat yang cukup
- Melakukan pemeriksaan prenatal secara rutin
- Mengkonsumsi suplemen asam folat
- Menjalani vaksinasi sebagai perlindungan terhadap infeksi
- Menghindari zat-zat yang berbahaya.
- Vaksinasi
- Zat yang berbahaya
Meskipun bisa dilakukan berbagai tindakan untuk mencegah terjadinya kelainan bawaan, ada satu hal yang perlu diingat yaitu bahwa suatu kelainan bawaan bisa saja terjadi meskipun tidak ditemukan riwayat kelainan bawaan baik dalam keluarga ayah ataupun ibu, atau meskipun orang tua sebelumnya telah melahirkan anak-anak yang sehat.

d. Variasi Normal Kelainan Muskuloskeletal Pada Bayi Dan Anak
1) Kelainan karena variasi dari hipermobilitas sendi
Tingkat mobilitas sendi pada anak-anak sangat bervariasi, yang disebabkan oleh adanya kekenduran pada ligament. Hipermobilitas paling sering ditemukan pada bayi, berkurang pada anak dan jarang pada remaja. Meskipun kekenduran ligament akan berkurang setelah dewasa, namun ada 2 kelebihan yang dapat menetap, yaitu :
- Kaki ceper
Pada saat umur satu tahun ketika anak mulai berjalan secara normal biasan ya terdapat kekenduran dari ligamne pada jari-jari tangan dan kaki. Kekenduran pada ligament akan menyebabkan kaki bentuk ceper terutama pada sqaat menapakkan kaki. Apabila keadaan ini berlanjut sampai dewasa maka kekenduran ligament akan menetap dan merupakan kelainan yang tidak terkoreksi. Kelainan ini tidak membutuhkan pengobatan atau koreksi khusus hanya diperlukan penjelasan yang memadai meskipun demikian orang tua penderita biasanya sangat khawatir.
- Genu valgum

Ditandai oleh adanya kekenduran pada ligament sendi lutut yang merupakan salah satu manifestasi kekenduran ligament pada seluruh sendi badan.. genu valgum terjjadi akibat kekenduran ligament kolateral medial sendi lutut dan lebih jelas terlihat apabila naak dalam posisi berdiri.
2) Variasi akibat deformitas torsional anggota gerak bawah
Deformitas torsional anggota gerak bawah dapat menyebabkan :
- Terputar keluar oleh karena torsi eksaterna anggota gerak bawah
- Jari-jari kaki terputar ke dalam akibta torsi interna anggota gerak bawah
Jari-jari kaki terbuka keluar
- Torsi femoral eksterna
Keadaan di mana jari kaki mengalamai rotasi keluar yang biasanya disebabkan karena torsi dari femur.
- Torsi tibial eksterna
Dapat terjadi secra sekunder oleh karena ketidakseimbangan otot misalnya pada penyakit poliomyelitis, paralisis atau spina bifida eksterna

Jari-jari terputar ke dalam
- Torsi femoral interna

Disebabakan oleh anak yang mempunyai kebiasaan duduk dengan posisi televise maka dapat menyebabkan rotasi femoral interna yang progresif sampai anak berumur 5 tahun
- Torsi tibial interna
Adanya kebiasaan tengkurap dengan lutut dan kaki berputar ke dalam keadaan terputar maka torsi tibial akan menjadi lebih berat dan penyembuhan spontan tidak dapat terjadi.
- Genu varum
Genu varum merupakan kombinasi dari torsi interna dan varus tibia bersama dengan torsi eksterna dari femur. Genu varum terjadi setelah lahir yang berkitan dengan posisi intrauterine janin dank an terkoreksi secara spontan.
3) Kelainan bawaan yang bersifat umum
Pada tulang
- Osteogenesis imperfekta
Merupakan suatu kelainan jaringan dan tulang yang bersifat herediter dengan manifestasi klinik berupa kerapuhan tulang, kelemahan persendia, kerapuhan pembuluh darah, sclera biru, serta gangguan kulit.


Osteogenesis Imperfekta adalah suatu keadaan dimana tulang-tulang menjadi rapuh secara abnormal. Osteogenesis imperfekta merupakan suatu penyakit keturunan. Penyakit ini terjadi akibat adanya kelainan pada jumlah atau struktur kolagen tipe I, yang merupakan bagian penting dari tulang. Osteogenesis imperfekta ditemukan pada 1 diantara 20.000 bayi. Tulang mudah patah sehingga bayi biasanya terlahir dengan banyak tulang yang patah. Selama persalinan berlangsung, bisa terjadi trauma kepala dan perdarahan otak karena tulang tengkorak sangat lembut; bayi bisa meninggal dalam beberapa hari setelah lahir.
Banyak bayi yang bertahan hidup, tetapi patah tulang multipel seringkali menyebabkan kelainan bentuk dan dwarfisme (cebol). Jika otaknya tidak terkena, maka kecerdasannya adalah normal.
Trias osteogenesi imperfekta terdiri dari:
- tulang yang rapuh
- gangguan pendengaran
- blue sclerae (bagian putih mata tampak kebiruan).
Tetapi tidak semua penderita memiliki blue sclerae maupun gangguan pendengaran. Semua penderita memiliki tulang yang rapuh, tetapi tidak selalu terjadi patah tulang.
Gejala lainnya yang biasa ditemukan pada osteogenesis imperfekta:
- patah tulang
- pada suatu waktu terjadi lebih dari 1 patah tulang (patah tulang multipel)
- patah tulang bisa terjadi setelah cedera ringan maupun sudah ada ketika bayi lahir
- kelainan bentuk pada anggota gerak
- tuli (gangguan pendengaran konduktif bisa terjadi pada remaja dan dewasa)
- kifosis
- kifoskoliosis
- postur tubuh yang pendek
- kelainan gigi
- pektus karinatum
- pektus ekskavatum (kaki cekung, punggung kaki melengkung sehingga bagian depan punggung kaki menyentuh lantai)
- pes planus (kaki datar, seluruh telapaknya menyentuh lantai)
- persendian yang lemah
- hipermobilitas
- mudah memar
- tungkai melengkung.
- Diafisial aklasia
Merupakan kelainan bawaan ditandai dengan penonjolan tulang yang multiple pada metafisis tulang poanjang terutama pada distal femur, proksimal tibia, proksimal humerus dan pergelangan tangan.
- Akondroplasia
Kelainan bawaan yang diturunkan secara autosomal dimana anggota gerak penderita lebih pendek dari normal dan tulang belakang biasanya tidak terkena sehingga terlihat gambaran cebol yang khas pada penderita.
4) kelainan bawaan yang bersifat lokal
a. Kelainan Wajah
 Celah Bibir & Celah Langit-langit
Celah Bibir dan Celah Langit-langit adalah suatu kelainan bawaan yang terjadi pada bibir bagian atas serta langit-langit lunak dan langit-langit keras mulut.
Celah bibir (Bibir sumbing) adalah suatu ketidaksempurnaan pada penyambungan bibir bagian atas, yang biasanya berlokasi tepat dibawah hidung.
Celah langit-langit adalah suatu saluran abnormal yang melewati langit-langit mulut dan menuju ke saluran udara di hidung.
Celah bibir dan celah langit-langit bisa terjadi secara bersamaan maupun sendiri-sendiri. Kelainan ini juga bisa terjadi bersamaan dengan kelainan bawaan lainnya. Penyebabnya mungkin adalah mutasi genetik atau teratogen (zat yang dapat menyebabkan kelainan pada janin, contohnya virus atau bahan kimia).
Selain tidak sedap dipandang, kelainan ini juga menyebabkan anak mengalami kesulitan ketika makan, gangguan perkembangan berbicara dan infeksi telinga.
Faktor resiko untuk kelainan ini adalah riwayat celah bibir atau celah langit-langit pada keluarga serta adanya kelainan bawaan lainnya. Gejalanya berupa:
- pemisahan bibir
- pemisahan langit-langit
- pemisahan bibir dan langit-langit
- distorsi hidung
- infeksi telinga berulang
- berat badan tidak bertambah
- regurgitasi nasal ketika menyusu (air susu keluar dari lubang hidung).
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik di daerah wajah.
Pengobatan melibatkan beberapa disiplin ilmu, yaitu bedah plastik, ortodontis, terapi wicara dan lainnya.
Pembedahan untuk menutup celah bibir biasanya dilakukan pada saat anak berusia 3-6 bulan. Penutupan celah langit-langit biasanya ditunda sampai terjadi perubahan langit-langit yang biasanya berjalan seiring dengan pertumbuhan anak (maksimal sampai anak berumur 1 tahun). Sebelum pembedahan dilakukan, bisa dipasang alat tiruan pada langit-langit mulut untuk membantu pemberian makan/susu.
Pengobatan mungkin berlangsung selama bertahun-tahun dan mungkin perlu dilakukan beberapa kali pembedahan (tergantung kepada luasnya kelainan), tetapi kebanyakan anak akan memiliki penampilan yang normal serta berbicara dan makan secara normal pula. Beberapa diantara mereka mungkin tetap memiliki gangguan berbicara.
 Sindroma Pierre Robin
Sindroma Pierre Robin adalah sekelompok kelainan yang terutama ditandai dengan adanya rahang bawah yang sangat kecil dengan lidah yang jatuh ke belakang dan mengarah ke bawah. Bisa juga disertai dengan tingginya lengkung langit-langit mulut atau celah langit-langit.
Penyebab yang pasti tidak diketahui, bisa merupakan bagian dari sindroma genetik.
Gejalanya berupa:
- rahang yang sangat kecil dengan dagu yang tertarik ke belakang
- lidah tampak besar (sebenarnya ukurannya normal tetapi relatif besar jika dibandingkan dengan rahang yang kecil) dan terletak jauh di belakang orofaring
- lengkung langit-langit yang tinggi
- celah langit-langit lunak
- tercekik/tersedak oleh lidah.
Bayi harus ditempatkan pada posisi membungkuk sehingga gaya tarik bumi akan menarik lidah ke depan dan saluran udara tetap terbuka. Pada kasus yang agak berat perlu dipasang selang melalui hidung ke saluran udara untuk menghindari penyumbatan saluran udara. Pada kasus yang berat, jika terjadi penyumbatan saluran udara berulang, perlu dilakukan pembedahan. Kadang perlu dilakukan trakeostomi.
Menyusui atau memberi makan harus dilakukan secara sangat hati-hati untuk menghindari tersedak dan terhirupnya cairan/makanan ke saluran udara,
Tersedak dan gangguan pemberian makan/susu akan berkurang secara spontan, sejalan dengan pertumbuhan rahang.
b. Anggota Gerak Atas
 Jari Picu (Trigger Thumb)

Kelainan ini disebabkan oleh karena kontriksi congenital dari selaput fibrosa tendo fleksor polisis longus ibu jari tangan disertai pembesaran. Gangguan ini menyebabkan gangguan ekstensi aktif dari sendi interfalangeal yang kadang-kadang secara pasif tak dapat dilakukan dengan menimbulkan gejala yang disebut trigger phenomenon.
 Sindaktili
Sindaktili merupakan kelinan bawaan yang paling sering ditemukan pada jari-jari tangan, dimana jari-jari tidak terpisah dn bersatu dengan yang lain. Dapat terjadi satu, dua, atau lebih.









 Polidaktili

Polidaktili adalah terjadinya duplikasi jari-jari tangan melebihi dari biasanya. Kelainan dapat terjadi mulai dari duplikasi yang berupa jaringan lunak sampai duplikai yang disertai dengan metacarpal dan falang sendiri. Selain itu hubungan pada jari tangan yaitu pada metacarpal dapat mempunyai sendi atau tanpa sendi. Pemeriksaan radiologist diperlukan untuk menentkan tindakan yang akan dilakukan
 Ektrodaktili

Hilangnya satu atau lebih jari tangan. Apabila fungsi tangan cukup, maka tidak perlu tindakan apa-apa. Dapat dipertimbangkan polisasi dari salah satu jari-jari dengan bedah mikro.
 Constriction Band Syndrome

Constriction Band Syndrome adalah kelainan dimana terjadi cekikan pada jari-jari atau dapat pula terjad pada lengan bawah. Tindakan dilakukan sesuai dengan tindakan cekikan.

 Radial Clubhand

Kelainan ini berupa hipoplasia atau aplasia dari radius, skafoid, trapezium, metacarpal I dan tidak terbentuknya ibu jari serta struktur-struktur yang melekat padanya yaitu otot, saraf, dan pembuluh darah.
 Sinostosis Radio Ulna

Sinostosis Radio Ulna adalah kelainan dimana terjadi hubungan sinortosis yang congenital antara radius dan ulna di bagian proksimal pada daerah sendi radio-ulnar. Kelainan ini jarang ditemukan.
 Amputasi Kongenital
Amputasi Kongenital (Missing Limbs) adalah suatu keadaan dimana bayi baru lahir tidak memiliki sebuah lengan atau sebuah tungkai atau bagian dari lengan maupun tungkai.
Penyebabnya tidak diketahui. Pemakaian talidomid sebagai obat untuk mengatasi morning sickness pada wanita hamil, diduga merupakan penyebab terjadinya kelainan ini. Agar anggota gerak lebih fungsional, bisa digunakan lengan atau tungkai palsu.
 Deformitas Sprengel
Skapula pada masa pertumbuhan embrional mengalami penurunan. Pada keadaan ini scapula tidak turun sesuai dengan biasanya sehingga letaknya lebih tinggi. Kelaina ini disertai dengan kelainan vertebra servikal dimana terjadi hubungan liamen antara prosesus spinosus vertebra servikal bagian bawah dengan bagian permukaan medial scapula yang disebut ligament omovertebral. Logamen ini dapat mengalami osifikasi sehingga berupa tulang yang disebut tulang omovertebral. Skapula disamping letaknya tinggi juga lebih kecil dari biasanya serta posisi rotasi interna (adduksi) yang menyebabkan gangguan geakan abduksi dari scapula.
c. Anggota Gerak Bawah
 Metatarsus Primus Varus

Terjadinya varus/adduksi pada metatarsus satu terhadap metatarsus lainnya. Bagian medial dari ibu jari menjauh terhadap metatarsus kedua sehingga terdapat ruangan diantaranya.
 Metatarsus Varus (Metatarsus Adduktus)

Terjadi varus dan addksi dari kelima metatarsal. Selurh kaki bagian depan tidak saja mengalami adduksi, juga supinasi. Keadaan ini biasa disertai dengan torsi tibial interna.
 Palantar Fleksi Kongenital (Vertikal Kalus)
Kelainan ini walaupun jarang ditemukan, tetapi merupakan suatu kelainan congenital dari kaki, dimana tals terfiksasi dalam posisi ekuinus, sedangkan bagian depan kaki yng juga sangat rigid dalam posisi dorso fleksi dan eversi sehingga memberikan gambaran terbalik dari arkus longitudinal kaki yang normal. Diagnosis ditegakkan dengan foto rontgen lateral.

 Spasmodic Flat Foot (Rigid Flatfoot)
Kelainan ini sebenarnya tidak membrikangambaran kak ceper tetapi memberikan gambaran abnormal kaki dalam keadaan evrsi dan spasme pada otot. Kelainan ini dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu plantar fleksi congenital (vertical) talus dan tarsal coalition. Kedua kelainan ini dapat dibedakan dengan pemeriksaan foto roentgen lateral pada kaki.
 Tarsal Coalition (Rigid Valgus Foot)

Pada keadaan ini terjadi coalition atau jembatan antara tulang tarsal yang bisanya terjadi anata tulang talokalkanea atau kalkaneonvikular. Pada waktu lahir dan asa anak-anak hubungan ini berupa hubungan tulang rawan (sinkondrosis), tetapi pada waktu dewasa mengalami osifikasi (sinostosis). Adanya jembatan antara kedua tulang tarsal, akan memberikan keterbatasan gerakan sendi kaki. Kaki dalam posisi valgus terlihat ceper dan tidak mobile, tetapi lebih rigid dan nyeri disertai dengan spasme dan kontraktur dari otot peroneal (peroneal spastic flat foot). Diagnosis didasarkan atas pemeriksaan roentgen pada kaki.
 Tarsal Navikular Asesoris (Os Tibiale Externum)
Tulang navkular tarsal pada waktu lahir merupakan tulang rawan. Dibagian medial dari tulang inibisa ditemukan tulang navikuler yang berupa tulang kecil asesoris selain tulang navikular yang asli. Antara kedua tulang ini biasanya lebih melekat, teapi bersendi dimana melekat muskulus tibialis posterior.





 Talipes Ekuinovarus Kongenital (Congenital Clubfoot)

Clubfoot (talipes) adalah suatu keadaan dimana bentuk atau posisi kaki terpuntir.
Lengkung kaki bisa sangat tinggi atau kaki berputar ke dalam maupun ke luar.
Clubfoot sejati disebabkan oleh kelainan anatomis.
Jika tidak terdapat kelainan anatomis, maka keadaan ini bisa diperbaiki dengan pemasangan gips dan terapi fisik. Pengobatan dini dengan gips bisa memperbaiki clubfoot sejati tetapi biasanya perlu dilakukan pembedahan.
 Talipes Kalkaneus Valgus Kongenital

Clubfoot adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan deformitas umum dimana kaki berubah/bengkok dari keadaan atau posisi normal. Beberapa dari deformitas kaki termasuk deformitas ankle disebut dengan talipes yang berasal dari kata talus (yang artinya ankle) dan pes (yang berarti kaki). Talipes kalkaneus valgus congenital berlawanan dengan talipes ekuinovarus congenital, dimana kaki mengalami eversi dan dorsopleksi. Kelainan ini tidak begitu serius disbanding dengan talipes ekuinovarus congenital.
Deformitas kaki dan ankle dipilah tergantung dari posisi kelainan ankle dan kaki. Deformitas talipes diantaranya :
- Talipes varus : inversi atau membengkok ke dalam
- Talipes valgus : eversi atau membengkok ke luar
- Talipes equinus : plantar fleksi dimana jari-jari lebih rendanh daripada tumit
- Talipes calcaneus : dorsofleksi dimana jari-jari lebih tinggi daripada tumit
Clubfoot yang terbanyak merupakan kombinasi dari beberapa posisi dan angka kejadian yang paling tinggi adalah tipe talipes equinovarus (TEV) dimana kaki posisinya melengkung kebawah dan kedalam dengan berbagai tingkat keparahan. Unilateral clubfoot lebih umum terjadi dibandingkan tipe bilateral dan dapat terjadi sebagai kelainan yang berhubungan dengan sindroma lain seperti aberasi kromosomal, artrogriposis (imobilitas umum dari persendian), cerebral palsy atau spina bifida
Frekuensi clubfoot dari populasi umum adalah 1 : 700 sampai 1 : 1000 kelahiran hidup dimana anak laki-laki dua kali lebih sering daripada perempuan. Berdasarkan data, 35% terjadi pada kembar monozigot dan hanya 3% pada kembar dizigot. Ini menunjukkan adanya peranan faktor genetika
Patofisiologi
Penyebab pasti dari clubfoot sampai sekarang belum diketahui. Beberapa ahli mengatakan bahwa kelainan ini timbul karena posisi abnormal atau pergerakan yang terbatas dalam rahim. Ahli lain mengatakan bahwa kelainan terjadi karena perkembangan embryonic yang abnormal yaitu saat perkembangan kaki ke arah fleksi dan eversi pada bulan ke-7 kehamilan. Pertumbuhan yang terganggu pada fase tersebut akan menimbulkan deformitas dimana dipengaruhi pula oleh tekanan intrauterine
 Makrodaktili

Kelainan ini berupa pembesaran jari-jari kaki, terutama di temukan pada ibu jari kaki. Biasanya disebabkan oleh fibrolipoma yang difus pada jari kaki, tetapi disamping itu juga terjadi pembesaran dari tulang-tulang metatarsal.

 Pseudoartrosis Tibia

Kelainan ini jarang ditemukan, merupakan kelainan congenital dimana terjadi pseudoartosis pada tibia sejak lahir. Kelainan ini tidak diketahui penyebabnya, sebagian oleh karena adanya neurofibromatosis.
 Hipoplasia Tulang Panjang
Hipoplasia atau aplasia tulang panjang dapat megenai fibula, tibia dan femur. Hipoplasia congenital pada fibula biasanya disertai dengan tibia yang melengkung kedepan disertai kelainan ekuinovalgus pada kaki yang hipoplastik. Hipoplasia pada fibula lebih sering daripada hipoplasia pada tibia.
 Amputasi Kongenital
Hilangnya bagian distal dari anggota gerak bawah disebut amputasi congenital. Amputasi congenital dapat terjadi pada setiap ketinggian anggota gerak bawah mulai dari daerah kaki sampai dengan pada daerah tungkai atas. Kelainan ini sering disertai dengan annular contricting band. Apbila kontriksing band melingkar pada anggota gerak, sering menyebabkan pembengkakan yang hebat disertai dengan gangguan vaskularisasi sehingga diperlukan operasi Z plastic segera.
 Torsi Femoral

Torsio femoral adalah suatu keadaan dimana lutut menghadap ke depan atau ke samping. Keadaan ini seringkali membaik dengan sendirinya pada saat anak tumbuh dan mulai berdiri serta berjalan.
 Dislokasi Panggul Bawaan

Pada awal masa bayi, agar kaput femoralis tetap berada dalam kantungnya, bisa dipasang alat untuk memisahkan tungkai dan melipatnya ke arah luar (seperti kodok).
Jika posisi diatas sulit dipertahankan, bisa digunakan gips yang secara periodik diganti sehingga pertumbuhan tulang tidak terhambat. Jika tindakan tersebut tidak berhasil atau jika dislokasi diketahui setelah anak cukup besar, maka dilakukan tindakan pembedahan.
Dislokasi Pinggul Bawaan adalah suatu kelainan bentuk pada persendian pinggul yang ditemukan pada bayi baru lahir atau pada awal masa kanak-kanak.
Pinggul adalah suatu persendian bola dan kantung; bolanya adalah kaput femoralis (kepala tulang paha) yang berada di puncak tulang paha, sedangkan kantungnya adalah asetabulum yang berasal dari panggul. Penyebabnya tidak diketahui, tetapi diduga melibatkan faktor genetik. Kelainan yang dirasakan mungkin baru muncul pada usia 30-40 tahun, dan bisa menyerang salah satu maupun kedua pinggul.
Kelainan ini lebih sering ditemui pada:
- Anak pertama
- Bayi perempuan
- Bayi dalam letak bokong
- Riwayat dislokasi pinggul pada keluarga.
Kelainan ini ditemukan pada 1 diantara 1.000 bayi baru lahir.
Gejalanya bisa berupa:
- Pergerakan yang terbatas di daerah yang terkena
- Posisi tungkai yang asimetris
- Lipatan lemak paha yang asimetris
- Setelah bayi berumur 3 bulan : rotasi tungkai asimetris dan tungkai pada sisi yang terkena tampak memendek.
Pemeriksaan yang paling penting adalah USG pinggul. Pada bayi yang lebih besar dan anak-anak bisa dilakukan rontgen pinggul.
 Dislokasi Lutut

Dislokasi lutut adalah suatu keadaan dimana tungkai bawah pada lutut melipat ke depan. Kelainan ini jarang terjadi tetapi jika terjadi harus segera diatasi. Biasanya dilakukan tindakan menekuk lutut bayi secara perlahan ke depan dan ke belakang sebanyak beberapa kali/hari serta memasang bidai agar lutut tetap tertekuk.
d. Tulang Belakang
 Leher Pendek Kongenital

Kelainan ini berupa kegagalansegmentasi dari vertebra servikal sehingga terjadi fusi congenital (sinostosisi) diantara beberapa vertebra.
 Tortikolis Muskuler (Wry Neck, Infantile Tortikolisis)
Tortikolis Kongenitalis adalah suatu keadaan dimana leher bayi terpuntir ke salah satu sisi dan kepalanya miring ke sisi tersebut. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh:
 Cedera pada otot atau pembuluh darah leher selama proses persalinan berlangsung
 Kelainan posisi kepala bayi ketika masih berada di dalam rahim
 Sindroma Klippel-Feil (penyatuan tulang belakang leher)
 Fusi atlanto-oksipital (penyatuan tulang belakang leher pertama dengan tulang tengkorak).
Gejalanya bisa berupa:
 pembengkakan otot leher
 kepala miring ke sisi yang terkena
 bahu pada sisi yang terkena tampak terangkat
 otot leher tampak kaku
 pergerakan leher terbatas
 tremor kepala.
Tujuan pengobatan adalah meregangkan otot leher yang memendek.
Pada bayi dan anak kecil dilakukan peregangang pasif. Jika teknik tersebut gagal, pada usia pra-sekolah dilakukan pembedahan.
 Hemivertebra (Skoliosis Kongenital)
Skoliosis adalah lengkungan atau kurvatura lateral pada tulang belakang akibat rotasi dan deformitas vertebra.

Skoliosis adalah lengkungan atau kurvatura lateral pada tulang belakang akibat rotasi dan deformitas vertebra. Tiga bentuk skoliosis struktural yaitu :
1. Skoliosis Idiopatik adalah bentuk yang paling umum terjadi dan diklasifikasikan menjadi 3 kelompok yaitu infantile, yang muncul sejak lahir sampai usia 3 tahun; anak-anak, yang muncul dari usia 3 tahun sampai 10 tahun; dan remaja, yang muncul setelah usia 10 tahun (usia yang paling umum).
2. Skoliosis Kongenital adalah skoliosis yang menyebabkan malformasi satu atau lebih badan vertebra. suatu kelainan pada lengkung tulang belakang bayi baru lahir. Kelainan ini jarang terjadi dan biasanya berhubungan dengan gangguan pada pembentukan tulang belakang atau peleburan tulang rusuk.
3. Skoliosis Neuromuskuler, anak yang menderita penyakit neuromuskuler (seperti paralisis otak, spina bifida, atau distrofi muskuler) yang secara langsung menyebabkan deformitas. (Nettina, Sandra M.)
Skoliosis bisa menyebabkan kelainan bentuk yang serius pada anak yang sedang tumbuh, karena itu seringkali dilakukan tindakan pengobatan dengan memasang penyangga (brace) sedini mungkin. Jika keadaan anak semakin memburuk, mungkin perlu dilakukan pembedahan.
Etiologi
Penyebab terjadinya skoliosis diantaranya kondisi osteopatik, seperti fraktur, penyakit tulang, penyakit arthritis, dan infeksi. Pada skoliosis berat, perubahan progresif pada rongga toraks dapat menyebabkan perburukan pernapasan dan kardiovaskuler. (Nettina, Sandra M.)

Terdapat 3 penyebab umum dari skoliosis:
1. Kongenital (bawaan), biasanya berhubungan dengan suatu kelainan dalam pembentukan tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatu
2. Neuromuskuler, pengendalian otot yang buruk atau kelemahan otot atau kelumpuhan akibat penyakit berikut:
- Cerebral palsy
- Distrofi otot
- Polio
- Osteoporosis juvenil
3. Idiopatik, penyebabnya tidak diketahui.
Patofisiologi

Manifestasi Kinis
Gejalanya berupa:
- tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping
- bahu dan/atau pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya
- nyeri punggung
- kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama
- skoliosis yang berat (dengan kelengkungan yang lebih besar dari 60%) bisa menyebabkan gangguan pernafasan.
Kebanyakan pada punggung bagian atas, tulang belakang membengkok ke kanan dan pada punggung bagian bawah, tulang belakang membengkok ke kiri; sehingga bahu kanan lebih tinggi dari bahu kiri. Pinggul kanan juga mungkin lebih tinggi dari pinggul kiri.


Penatalaksanaan Medis
Pengobatan yang dilakukan tergantung kepada penyebab, derajat dan lokasi kelengkungan serta stadium pertumbuhan tulang. Jika kelengkungan kurang dari 20%, biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan, tetapi penderita harus menjalani pemeriksaan secara teratur setiap 6 bulan.
Pada anak-anak yang masih tumbuh, kelengkungan biasanya bertambah sampai 25-30%, karena itu biasanya dianjurkan untuk menggunakan brace (alat penyangga) untuk membantu memperlambat progresivitas kelengkungan tulang belakang. Brace dari Milwaukee & Boston efektif dalam mengendalikan progresivitas skoliosis, tetapi harus dipasang selama 23 jam/hari sampai masa pertumbuhan anak berhenti. Brace tidak efektif digunakan pada skoliosis kongenital maupun neuromuskuler.
Jika kelengkungan mencapai 40% atau lebih, biasanya dilakukan pembedahan. Pada pembedahan dilakukan perbaikan kelengkungan dan peleburan tulang-tulang. Tulang dipertahankan pada tempatnya dengan bantuan 1-2 alat logam yang terpasang sampai tulang pulih (kurang dari 20 tahun). Sesudah dilakukan pembedahan mungkin perlu dipasang brace untuk menstabilkan tulang belakang.
Kadang diberikan perangsangan elektrospinal, dimana otot tulang belakang dirangsang dengan arus listrik rendah untuk meluruskan tulang belakang.
Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan fisik penderita biasanya diminta untuk membungkuk ke depan sehingga pemeriksa dapat menentukan kelengkungan yang terjadi. Pemeriksaan neurologis (saraf) dilakukan untuk menilai kekuatan, sensasi atau refleks.

















Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:
• Rontgen tulang belakang.
X-Ray Proyeksi Foto polos : Harus diambil dengan posterior dan lateral penuh terhadap tulang belakang dan krista iliaka dengan posisi tegak, untuk menilai derajat kurva dengan metode Cobb dan menilai maturitas skeletal dengan metode Risser. Kurva structural akan memperlihatkan rotasi vertebra; pada proyeksi posterior-anterior, vertebra yang mengarah ke puncak prosessus spinosus menyimpang kegaris tengah; ujung atas dan bawah kurva diidentifikasi sewaktu tingkat simetri vertebra diperoleh kembali.
• Pengukuran dengan skoliometer (alat untuk mengukur kelengkungan tulang belakang) Skoliometer
Skoliometer adalah sebuah alat untuk mengukur sudut kurvaturai. Cara pengukuran dengan skoliometer dilakukan pada pasien dengan posisi membungkuk, kemudian atur posisi pasien karena posisi ini akan berubah-ubah tergantung pada lokasi kurvatura, sebagai contoh kurva dibawah vertebra lumbal akan membutuhkan posisi membungkuk lebih jauh dibanding kurva pada thorakal. Kemudian letakkan skoliometer pada apeks kurva, biarkan skoliometer tanpa ditekan, kemudian baca angka derajat kurva.
Pada screening, pengukuran ini signifikan apabila hasil yang diperoleh lebih besar dari 5 derajat, hal ini biasanya menunjukkan derajat kurvatura > 200 pada pengukuran cobb’s angle pada radiologi sehingga memerlukan evaluasi yang lanjut.
• MRI (jika ditemukan kelainan saraf atau kelainan pada rontgen).



KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
PEMERIKSAAN FISIK
a. Mengkaji skelet tubuh
Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang abnormal akibat tumor tulang. Pemendekan ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran anatomis. Angulasi abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi biasanya menandakan adanya patah tulang.
b. Mengkaji tulang belakang
Skoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang). Kifosis (kenaikan kurvatura tulang belakang bagian dada). Lordosis (membebek, kurvatura tulang belakang bagian pinggang berlebihan)
c. Mengkaji system persendian
Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif, deformitas, stabilitas, dan adanya benjolan, adanya kekakuan sendi
d. Mengkaji system otot
Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi, dan ukuran masing-masing otot. Lingkar ekstremitas untuk mementau adanya edema atau atropfi, nyeri otot.
e. Mengkaji cara berjalan
Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Bila salah satu ekstremitas lebih pendek dari yang lain. Berbagai kondisi neurologist yang berhubungan dengan caraberjalan abnormal (mis. cara berjalan spastic hemiparesis - stroke, cara berjalan selangkah-selangkah – penyakit lower motor neuron, cara berjalan bergetar – penyakit Parkinson).
f. Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau lebih dingin dari lainnya dan adanya edema. Sirkulasi perifer dievaluasi dengan mengkaji denyut perifer, warna, suhu dan waktu pengisian kapiler.
DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
a. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penekanan paru
Tujuan: Pola napas efektif
Intervensi:
1) Kaji status pernapasan setiap 4 jam
2) Bantu dan ajarkan pasien melakukan napas dalam setiap 1 jam
3) Atur posisi tidur semi fowler untuk meningkatkan ekspansi paru
4) Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi napas setiap 2 jam
5) Pantau tanda vital setiap 4 jam
b. Nyeri punggung berhubungan dengan posisi tubuh miring ke lateral
Tujuan: nyeri berkurang/ hilang
Intervensi:
1) Kaji tipe, intensitas, dan lokasi nyeri
2) Atur posisi yang dapat meningkatkan rasa nyaman
3) Pertahankan lingkungan yang tenang untuk meningkatkan kenyamanan
4) Ajarkan relaksasi dan teknik distraksi untuk mengalihkan perhatian, sehingga mengurangi nyeri
5) Anjurkan latihan postural secara rutin untuk memperbaiki posisi tubuh
6) Ajarkan dan anjurkan pemakaian brace untuk mengurangi nyeri saat aktivitas
7) Kolaborasi dalam pemberian analgetik untuk meredakan nyeri
c. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan postur tubuh yang tidak seimbang
Tujuan: meningkatkan mobilitas fisik
Intervensi:
1) Kaji tingkat mobilitas fisik
2) Tingkatkan aktivitas jika nyeri berkurang
3) Bantu dan ajarkan latihan rentang gerak sendi aktif
4) Libatkan keluarga dalam melakukan perawatan diri
5) Tingkatkan kembali ke aktivitas normal
d. Gangguan citra tubuh atau konsep diri yang berhubungan dengan postur tubuh yang miring kelateral
Tujuan: meningkatkan citra tubuh
Intervensi:
1) Anjurkan untuk mengungkapkan perasaan dan masalahnya
2) Beri lingkungan yang mendukung
3) Bantu pasien untuk mengidentifikasi gaya koping yang positif
4) Beri harapan yang realistik dan buat sasaran jangka pendek untuk memudahkan pencapaian
5) Beri penghargaan untuk tugas yang dilakukan
6) Beri dorongan untuk melakukan komunikasi dengan orang terdekat dan memerlukan sosialisasi dengan keluarga serta teman
7) Beri dorongan untuk merawat diri sesuai toleransi
e. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakitnya
Tujuan: pemahaman tentang program pengobatan
Intervensi:
1) Jelaskan tentang keadaan penyakitnya
2) Tekankan pentingnya dan keuntungan mempertahankan program latihan yang di anjurkan
3) Jelaskan tentang pengobatan: nama, jadwal, tujuan, dosis, dan efek sampingnya
4) Peragakan pemasangan dan perawatan brace atau korset
5) Tingkatkan kunjungan tindak lanjut dengan dokter
EVALUASI KEPERAWATAN
Setelah intervensi keperawatan, diharapkan:
a. Pola napas efektif
1) menunjukkan bunyi napas yang normal
2) frekuensi dan irama napas teratur
b. Nyeri hilang atau berkurang
1) Melaporkan tingkat nyeri yang dapat diterima
2) Memperlihatkan tenang dan rileks
3) Keseimbangan tidur dan istirahat
c. Meningkatkan mobilitas fisik
1) Melakukan latihan rentang gerak secara adekuat
2) Melakukan mobilitas pada tingkat optimal
3) Secara aktif ikut serta dalam rencana keperawatan
4) Meminta bantuan jika membutuhkan
d. Meningkatkan harga diri
1) Mencari orang lain untuk membantu mempertahankan harga diri
2) Secara aktif ikut serta dalam perawatan dirinya
3) Menggunakan keterampilan koping dalam mengatasi citra tubuh
e. Pemahaman pengetahuan
1) Mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, rencana pengobatan, dan gejala kemajuan penyakit
2) Memperagakan pemasangan dan perawatan brace atau korset
3) Mengekspresikan pengertian tentang jadwal pengobatan
Asuhan Keperawatan Pasca Operasi Skoliosis
1. Pengkajian
Pengkajian pada pasien pasca operasi Skoliosis, antara lain :
a. Kaji status neurovaskular
b. Status pernapasan pasien, kesulitan bernapas, sianosis, takipnea, dan batuk
c. Penurunan sensasi dan aktivitas motorik pada ekstremitas
d. Status sirkulasi ekstremitas, perubahan warna kulit, nadi, dan suhu
e. Kelurusan tubuh dan terdapatnya alat imobilisasi
f. Kaji lokasi, intensitas, dan durasi nyeri
g. Karakter dan jumlah drainase luka
h. Drainase Hemovac jika terpasang
i. Pengeluaran urine.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan mencakup darah lengkap, elektrolit, pemeriksaan radiologi spinal, dan pemeriksaan kultur urine.
2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Keperawatan
Diagnosa keperawatan dan intervensi keperawatan untuk pasien pasca operasi, diantaranya :
a. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan anastesi, insisi operasi, dan nyeri.
Tujuan : Pola napas efektif
Intervensi :
1) Kaji status pernapasan setiap 2 jam.
2) Bantu dan ajarkan pasien untuk melakukan napas dalam setiap 1 jam.
3) Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi napas setiap 2 jam.
4) Pertahankan tirah baring dengan meninggikan kepala tempat tidur 30-450.
5) Pantau tanda-tanda vital tiap 2 jam untuk 8 jam pertama kemudian setiap 2 jam.
6) Beri spirometer intensif setiap 1 sampai 2 jam sekali.
7) Kolaborasi dalam pemberian analgesik untuk mempertahankan rasa nyaman, sehingga dapat meningkatkan pernapasan.
b. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan status puasa atau/dan kehilangan cairan abnormal.
Tujuan : Tidak terjadi kekurangan volume cairan atau volume cairan seimbang.
Intervensi :
1) Pertahankan puasa.
2) Beri cairan parenteral dengan elektrolit sesuai program.
3) Sambungkan selang nasogastrik dan alat penghisap intermiten.
4) Jika terpasang nasogastrik, lakukan irigasi dengan cairan salin normal yang jumlahnya telah diukur untuk mempertahankan kepatenan.
5) Sambungkan kateter uretral menetap dan sistem drainase gravitasi tertutup.
6) Pantau pengeluaran urine setiap jam. Jika kurang dari 20-30 ml/jam, lapor dokter.
7) Ukur masukkan dan keluaran cairan setiap 8 jam.
8) Observasi tanda dehidrasi : turgor kulit, mukosa mulut.
9) Pantau balutan untuk adanya drainase setiap jam untuk 24 jam pertama, kemudian tiap 4 jam.
10) Pantau Hb, Ht, dan elektrolit.
11) Lakukan hygiene naso-oral setiap jam ; pertahankan agar tetap lembab.
12) Pantau TTV setiap 4 jam.
13) Auskultasi bising usus tiap 8 jam, lapor dokter jika sudah terdengar.
14) Observasi terhadap kemungkinan distensi abdomen.
15) Beri diet sesuai toleransi jika bising usus telah terdengar atau nasogastrik dikelem/dilepaskan.
16) Beri cairan peroral secara bertahap, tingkatkan dengan diet lunak kemudian dengan diet biasa.
17) Lepaskan uretra menetap sesuai indikasi.
18) Beri pelunak feses sesuai program.
c. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif dan menurunnya pertahanan primer.
Tujuan : Tidak terjadi infeksi
Intervensi :
1) Pantau TTV tiap 4 jam.
2) Pantau balutan setiap 2 jam selam 24 jam pertama, kemudian setiap 4 jam pertama.
3) Ganti balutan luka operasi secara aseptic teinik sesuai program.
4) Observasi tanda infeksi dari luka operasi.
5) Lapor dokter jika ada pengeluaran (darah, nanah) berlebihan dari luka.
6) Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium : Hb, Ht, eritrosit, dan kultur cairan yang keluar jika ada indikasi.
7) Kolaborasi dalam pemberian antibiotic sesuai program.
d. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuluskeletal dan nyeri.
Tujuan : Mobilitas fisik dipertahankan.
Intervensi :
1) Pertahankan tirah baring biasanya pada posisi telentang/telungkup.
2) Pertahankan imobilisasi spinal.
3) Pertahankan kesejajaran tubuh selama prosedur ; jangan fleksikan lutut terlalu jauh.
4) Tinggikan kepala tempat tidur 30-450.
5) Kaji aktivitas motorik, sensasi, warna kulit, nadi dan suhu ekstremitas bawah tiap 4 jam.
6) Laporkan pada dokter jika terjadi perubahan.
7) Balik pasien hanya jika ada instruksi. Beri obat penurun nyeri sebelum membalikkan pasien.
8) Saat membalikkan pasien sangga tungkai pasien diantara kedua lutut menggunakan bantal, sangga kepala dan punggung dengan bantal kecil, kemudian balik pasien dalam 1 gerakan kontinyu.
9) Lepaskan alat imobilisasi sesuai program dan periksa adanya gangguan integritas kulit.
10) Seimbangkan antara aktivitas dengan istirahat.
11) Tingkatkan aktivitas sesuai program.
12) Bantu dan ajarkan pasien melakukan rentang gerak pasif dan aktif setiap 4 jam sesuai indikasi.
e. Nyeri berhubungan dengan intervensi operasi.
Tujuan : Nyeri teratasi.
Intervensi :
1) Kaji lokasi, tipe, dan intensitas nyeri ; gunakan skala nyeri.
2) Bantu pasien dalam mengganti posisi dan mempertahankan kesejajaran tubuh untuk meningkatkan rasa nyaman.
3) Beri dorongan pada pasien untuk melakukan aktivitas hiburan.
4) Ajarkan dan anjurkan melakukan teknik relaksasi untuk mengurangi nyeri.
5) Beri analgesic sebelum melakukan aktivitas.
f. Tidak efektifnya regimen terapeutik berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang pelaksanaan perawatan di rumah.
Tujuan : Pasien mendapatkan pemahaman tentang penatalaksanaan perawatan di rumah.
Intervensi :
1) Tekankan pentingnya akivitas, latihan, pantangan yang telah diprogramkan, derajat akivitas, dan perawatan diri yang diperbolehkan.
2) Jelaskan perlunya mempertahankan kesejajaran tubuh yang baik.
3) Latihan rentang gerak sendi sesuai yang diperbolehkan.
4) Jangan melakukan pengangkatan beban yang berat, latihan yang berlebihan, mengendarai kendaraan, menunduk/membungkuk.
5) Jelaskan perlunya matras padat dengan papan tempat tidur.
6) Jelaskan tentang diet dan masukkan cairan yang adekuat.
7) Jelaskan tentang pengobatan : nama, jadwal, tujuan, dosis dan efek samping.

2. Kelainan Tulang Akibat Gangguan metabolik dan degeneratif.
Penderita dengan kelainan metabolic tulang biasanya menunjukkan gejala dan tanda osteopenia yaitu menurunnya massa tulang (osteoporosis) dan menurunnya mineralisasi tulang (osteomalasia). Kelainan metabolikpada tulang dapat menyebabkan nyeri, fraktur, dan deformitas pada tulang dan mungkin pula terdapat gejala sistemik dari hiperkalsemia berupa anoreksia, nyeri abdomen, depresi, batu ginjal, atau kalsifikasi yang bersifat metastatic. Pada foto rontgen dapat ditemukan fraktur stress, kompresi pada vertebra, penipisan korteks tulang, atau hilangnya struktur trabekula/densitas tulang. Kelainan ini sering ditemukan pada penderita lanjut usia. Setiap penderita yang dicurigai mengalami gangguan metabolic tulang dilakukan pemeriksaan sebagai berikut:
• Gambaran klinis
- Rambut rontok.
- Atrofi testis.
- Adanya gangguan fisik seperti penyakit rakitis.
- Moon face (muka bulan) yang menunjukkan adanya hiperkortisonisme.
- Mungkin pula ditemukan kifosis pada daerah torak akibat osteoporosis.
• Pemeriksaan radiologis
Pada foto rontgen penurunan densitas tlang dapat terlihat tetapi gambaran ini baru jelas setelah terjadi penurunan mineralisasi massa tulang lebih dari 30%. Mungkin pula ditemukan tanda-tanda fraktur, baik fraktur baru maupun lama, terutama pada tulang belakang, tulang iga, dan ramus pubis. Pada vertebra ditemukan adanya fraktur kompresi serta pembentukan tulang baji (wedging) pada beberapa bagian. Elain itu,
mungkin pula ditemukan gambaran khas penyakit tulang seperti rakitis, hiperparatiroidisme, penyakit akibat metastatis pada tualang, atau myeloma multiple.
• Penilaian radiologis massa tulang
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menilai massa tulanng pada pemeriksaan radiologis, yaitu:
 Indeks kortikal
Indeks kortikal ditetapkan dengan mengukur tebalnya tulang korteks dan dibandingkan dengan diameter tuang
 Indeks trabekular
Penilaian massa tuang dilakukan dengan melihat distribusi dari trabekular tulang pada foto rontgen
 Absorbs foton
Penilaian massa tulang dilakukan berdasarkan absorbs foton pada tulang
 Kuantifikasi dengan Computed tomography
Penilaian dilakukan dengan menggunakan CT-scan
• Pemeriksaan biokimia
Pemeriksaan biokimia yang dapat dilakukan untuk menilai adanya kelainan metabolic pada tulang adalah:
 Pemeriksaan kadar kalsium dan fosfat darah
 Pemeriksaan kadar osteokalsin (Gla protein)
 Pemeriksaan aktivitas hormone paratiroid
 Pemeriksaan kadar vitamin D plasma melalui pengukuran aktviitas 1,25-DHCC plasma
 Pemeriksaan ekskresi kalsium dan fosfat urin
 Pemeriksaan ekskresi hidroksiprolin urin
 Pemeriksaan ekskresi pyridinium compound
• Pemeriksaan biopsi tulang
Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan histologist untuk menilai volume tulang, formasi osteoid, dan distribusi relative dari resorpsi dan formasi permukaan tulang.
a. rakitis
Rakitis adalah kelainan dengan gangguan pertumbuhan tulang akibat kegagalan deposisi garam kalsium pada matriks tulang (osteoid) dan pada tulang rawan pra-osseus dari epifisis. Deposisi normal kalsium pada osteoid dan tulang rawan pra-osseus dipengaruhi oleh kadar kalsium dan fosfor plasma yang merupakan hasil interaksi dari absorbsi pada usus,ekskresi pada ginjal, dan mobilisai kalsium dari/ke dalam tulang. Keseimbangan ini diatur oleh vitamin D, hormone paratiroid, serta tirokalsitonin.
• Etiologi
Gangguan deposisi kalsium dalam tulang dapat dijumpai pada keadaan-keadaan:
1. Defisiensi vitamin D
2. Insufisiensi ginjal kronik
3. Insufisiensi tubulus renalis
• Jenis-jenis rakitis
Berdasarkan gambaran klinisnya, rakitis dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu:
1. Tipe I
Rakitis tipe I (simple rachitis) terjadi akibat defisiensi vitamin D dan terutama ditemukan pada anak-anak umur 1 tahun. Tipe ini dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan dengan pemberian vitamin D dosis biasa serta makanan yang mengandung banyak vitamin D dapat member hasil terapi yang baik. Pada stadium dini terjadi hipokalsemi yang ditandai dengan konvulsi dan tetani
Defisieni vitamin D dapat pula disebabkan oleh gangguan absorbs pada usus akibat steatore dan gangguan yang diebut celiac ricket.
2. Tipe II
Pada rakitis tipe II terjadi osteodistrofi akibat insufisiensi renalis yang kronik (osteodiatrofi azotemik). Tipe ini jarang ditemukan, disamping menyebabkan lesi pada tulang juga terjadi hiperparatiroid sekunder yang pada akhirnya menyebabkan gangguan berupa metafisis yang ireguler, erosi korteks tulang, dan osteoporosis. Pengobatan yang dilakukan adalah pemberian vitamin D dosis tinggi (500.000 IU/hari). Pada kasus yang resisten dapat diberikan preparat 1,25-DHCC/vit D3 (metaolit vitamin D yang aktif).
3. Tipe III
Pada tipe ini, gangguan resorpsi fosfat pada tubulus ginjal, ekskresi fosfat pada urin meningkat sehingga timbul hipofosfatemia. Rakitis tipe III diturunkan secara sexlinked atau dominan autosomal.
• Gambaran Klinis
1. Pertumbuhan fisik lambat
2. Wajah pucat
3. Deformitas tulang
4. Dapat terjadi miopati
5. Bengkak pada lokasi lempeng epifiis khususna bagian distal radius dan sendi kostokondral yang dikenal sebagai rosary rachitis.
Pada pemeriksaan radiologis, lempeng epifisis terlihat melebar dan ireguler. Dapat pula ditemukan osteoklerosis pada tulang rangka dan gambaran rugger jersey pada bagian lateral tulang belakang dimana gambaran ini terjadi akibat berkurangnya densitas tulang. Pada anak-anak dengan rakitis yang lama dapat terlihat gambaran epifisiolisis. Pada pemeriksaan lboratorum ditemukan penurunan kadar kalsium plasma, peningkatan kadar fosfat, dan alkali fosfatase plasma, penurunan ekskrei kalsium dan fosfat pada urin serta peningkatan kadar hormone pituitary-tiroid.
• Patologi
Perubahan yang terjadi adalah berkurangnya matriks kalsifikasi pada tulang dan bertambahnya matriks non-kalsifikasi, yang pada foto rontgen terlihat hipodensitas disertai penipisn tulang. Selain itu, pada tulang rawan pra-osseus di bgian epifisis tidak terjadi klsifikai yang biasanya terdapat pada penulngan normal tulang rawan. Kalsium berfungsi dalam pengerasan tulangsehingga daerah yang tidak mengalami kalsifikasi menjadi rapuh serta terjadi deformitas yang progresif pada tulang dan lempeng epifisis.
• Pemeriksaan laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan:
1. Peningkatan kadar alkali fosfatase darah
2. Peningkatan kadar ureum dan fosfat inorganic darah menunjukkan adanya lesi pada glomerulus renalis
3. Hipofosfatemia dengan kadar ureum yang normal dan tanpa disertai defisiensi vitamin D yang menunjukkan adanya gangguan pada tubulus renalis
• Pengobatan
1. Pemberian obat-obatan untuk mengontrol penyakit, sehingga tidak terjadi deformitas tambahan akibat rekurensi penyakit.
2. Pemasangan bidai pada deformitas torsional, genu vrum, dan genu valgum
3. Osteotomi pada deformitas yang menetap, yag tidak efektif dengan pengobatan local dan obat-obatan.
b. osteomalasia
Osteomalasia adalah penyakit rakitis pada orang dewasa dan sebagaimana penyakit rakitis, kelainan ini berkaitan dengan gangguan deposisi kalsium pada matriks tulang (gangguan mineralisasi).
• Etiologi
Osteomalasia terutama disebabkan oleh:
1. Defisiensi vitamin D
2. Asidosis tubulus renalis
• Gambaran klinis
1. Anoreksia
2. Penurunan berat badan
3. Kelemahan otot
4. Nyeri tulang
5. Deformitas yang progresif pada tulang belakang dan anggota gerak bawah
• Patologi
Terjadi penurunan matriks kalsifikasi pada tulang dan bertambahnya matriks non-kalsifikasi, yang pada foto rontgen terlihat gambaran penipisan (rarefaksi) pada tulang panjang. Secara progresif tulang menjadi rapuh dan berkembang menjadi deformitas.
Gambaran mikroskopik yang dapat ditemukan adalah pelebaran daerah osteosit di sekitar tulang yang mengalami kalsifikasi. Pada osteomlasia yang berat, dapat ditemukan pseudofraktur yang ikenal sebagai sindroma Milkman.
• Pemeriksaan radiologis
Pada foto rontgen terlihat deformitas yang luas pada rangka tulang (penekanan vertebra, distorsi pelis, pembengkakan tulang panjang) dan penipisan seluruh tulang. Pada sindroma Milkman terlihat pseuofraktur pda tulang iga, pelvis, dn pangkal femur.
• Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan:
1. Peningkatan alkali fosfatase darah
2. Penurunan fosfat darah
• Pengobatan
1. Pemberian vtamin D dan kalsium dosis tinggi untuk meningkatkan kalsifikasi pada matriks
2. Osteotomi bila terjadi deformitas yang menetap.
c. penyakit skorbut (avitaminosis c)
Pada penyakit ini kerapuhan (porosis) tulang disertai perdarahan subperiosteal/submukosa akibat gangguan pembentukan osteoblstik yang diebabkan oleh defisiensi bitamin C (asam askorbat). Penyakit skorbut terutama ditemukan pada anak-anak umur 6 bulan-1 tahun meskipun kadangkadang ditemukan juga pada orang dewasa yang disebabkan oleh defisiensi vitamin C.

• Patologi
Osteoporosis terjadi akibat penurunan pembentukan ostebolastik pada matriks tulng, dan resorpsi oleh osteoklas tetap berjalan sebagaimana biasa. Penurunan kalsifikasi pada lempeng epifisis menyebabkan daerah kalsifikasi tulang rawan tetap ada dan menenbal. Aviitaminosis C juga menyebabkan kerapuhan dinding kapiler yang dapat menimulkan perdarahan spontan pada periosteum, mukosa gusi, dan mukosa usus. Bila terjadi perdarahan massif subperiosteal, maka perlekatan epifisis/lempeng epifisis ke metafisis terganggu sehingga epifisis dapat terpisah.
• Gambaran klinis
1. Anak menjadi rewel
2. Terdapat pembengkakan anggota gerak bawah khususnya pada paha disertai nyeri pda pergerakan anggota gerak tersebut (peudo-paralisis)
• Pemeriksaan radiologis
Pada foto rontgen ditemukan penipisan pda seluruh tulang. Pada bagian sisi metafisis dari lempeng epifisis terlihat garis berwarna putih dimana garis itu juga ditemukan melingkari epifisis. Mungkin pula dapat ditemukan gmbaran separasi dari epifisis. Bila terdapat hematoma subperiosteal maka dapat ditemukan adanya massa jaringan lunak di sekitar tulang.
• Diagnosis
Diagnosa ditegakkan bila ditemukan pembengkakan dan perdarahan pada gusi.
• Diagnosis banding
1. Osteomielitis
2. Sifilis congenital
3. Penganiayaan anak (child abuse)
• Pengobatan
Pemberian vitamin C (asam askorbat)
d. osteoporosis
Osteoporosis merupakan kelainan metabolic tulang dimana terdapat penurunan massa tulang tanpa disertai kelainan pada matriks tulang. Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resorpsi tulang lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, pengakibatkan penurunan masa tulang total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh dan mudah patah; tulang menjadi mudah fraktur dengan stres yang tidak akan menimbulkan pengaruh pada tulang normal. Osteoporosis merupakan hasil interaksi kompleks yang menahun antara factor genetic dengan factor lingkungan.
• Insidens
Kelainan ini 2 kali lebih sering pada wanita dibandingkan pria. Dari seluruh penderita, satu di antara 3 wanitayag berumur di ats 60 tahun dan satu di antara 6 pria yang berumur di atas 75 tahun akan mengalami patah tulang akibat kelainan ini.
• Etiologi
Osteoporosis merupakan hasil interksi kompleks yang menahun antara factor geneik dan factor lingkungan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usia lanjut:
1 Determinan Massa Tulang
 Faktor genetik
Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat kepadatan tulang. Beberapa orang mempunyai tulang yang cukup besar dan yang lain kecil. Sebagai contoh, orang kulit hitam pada umumnya mempunyai struktur tulang lebih kuat/berat dari pacia bangsa Kaukasia. Jacii seseorang yang mempunyai tulang kuat (terutama kulit Hitam Amerika), relatif imun terhadap fraktur karena osteoporosis.
 Faktor mekanis
Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di samping faktor genetk. Bertambahnya beban akan menambah massa tulang dan berkurangnya beban akan mengakibatkan berkurangnya massa tulang. Dengan perkataan lain dapat disebutkan bahwa ada hubungan langsung dan nyata antara massa otot dan massa tulang. Kedua hal tersebut menunjukkan respons terhadap kerja mekanik Beban mekanik yang berat akan mengakibatkan massa otot besar dan juga massa tulang yang besar. Sebagai contoh adalah pemain tenis atau pengayuh becak, akan dijumpai adanya hipertrofi baik pada otot maupun tulangnya terutama pada lengan atau tungkainya; sebaliknya atrofi baik pada otot maupun tulangnya akan dijumpai pada pasien yang harus istrahat di tempat tidur dalam waktu yang lama, poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa. Walaupun demikian belum diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanis yang diperlukan dan berapa lama untuk meningkatkan massa tulang di sampihg faktor genetik
 Faktor makanan dan hormon
Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup (protein dan mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai dengan pengaruh genetik yang bersangkutan. Pemberian makanan yang berlebih (misainya kalsium) di atas kebutuhan maksimal selama masa pertumbuhan, disangsikan dapat menghasilkan massa tulang yang melebihi kemampuan pertumbuhan tulang yang bersangkutan sesuai dengan kemampuan genetiknya.
2 Determinan penurunan Massa Tulang
 Faktor genetik
Faktor genetik berpengaruh terhadap risiko terjadinya fraktur. Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat risiko fraktur dari pada seseorang dengan tulang yang besar. Sampai saat ini tidak ada ukuran universal yang dapat dipakai sebagai ukuran tulang normal. Setiap individu mempunyai ketentuan normal sesuai dengan sitat genetiknya serta beban mekanis den besar badannya. Apabila individu dengan tulang yang besar, kemudian terjadi proses penurunan massa tulang (osteoporosis) sehubungan dengan lanjutnya usia, maka individu tersebut relatif masih mempunyai tulang tobih banyak dari pada individu yang mempunyai tulang kecil pada usia yang sama
 Faktor mekanis
Di lain pihak, faktor mekanis mungkin merupakan faktor yang terpenting dalarn proses penurunan massa tulang schubungan dengan lanjutnya usia. Walaupun demikian telah terbukti bahwa ada interaksi panting antara faktor mekanis dengan faktor nutrisi hormonal. Pada umumnya aktivitas fisis akan menurun dengan bertambahnya usia; dan karena massa tulang merupakan fungsi beban mekanis, massa tulang tersebut pasti akan menurun dengan bertambahnya usia.
 Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses penurunan massa tulang sehubungan dengan bertambahnya Lisia, terutama pada wanita post menopause. Kalsium, merupakan nutrisi yang sangat penting. Wanita-wanita pada masa peri menopause, dengan masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak bak, akan mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif, sedang mereka yang masukan kalsiumnya baik dan absorbsinya juga baik, menunjukkan keseimbangan kalsium positif. Dari keadaan ini jelas, bahwa pada wanita masa menopause ada hubungan yang erat antara masukan kalsium dengan keseimbangan kalsium dalam tubuhnya. Pada wanita dalam masa menopause keseimbangan kalsiumnya akan terganggu akibat masukan serta absorbsinya kurang serta eksresi melalui urin yang bertambah. Hasil akhir kekurangan/kehilangan estrogen pada masa menopause adalah pergeseran keseimbangan kalsium yang negatif, sejumiah 25 mg kalsium sehari
 Protein
Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi penurunan massa tulang. Makanan yang kaya protein akan mengakibatkan ekskresi asam amino yang mengandung sulfat melalui urin, hal ini akan meningkatkan ekskresi kalsium.
Pada umumnya protein tidak dimakan secara tersendiri, tetapi bersama makanan lain. Apabila makanan tersebut mengandung fosfor, maka fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi kalsium melalui urin. Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah pengeluaran kalsium melalui tinja. Hasil akhir dari makanan yang mengandung protein berlebihan akan mengakibatkan kecenderungan untuk terjadi keseimbangan kalsium yang negative
 Estrogen.
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan kalsium. Hal ini disebabkan oleh karena menurunnya eflsiensi absorbsi kalsium dari makanan dan juga menurunnya konservasi kalsium di ginjal.
 Rokok dan kopi
Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan mengakibatkan penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertai masukan kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh merokok terhadap penurunan massa tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja.
 Alkohol
Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang sering ditemukan. Individu dengan alkoholisme mempunyai kecenderungan masukan kalsium rendah, disertai dengan ekskresi lewat urin yang meningkat. Mekanisme yang jelas belum diketahui dengan pasti .
• Factor-faktor risiko
1. Umur; lebih sering terjadi pada usia lanjut.
2. Ras; kulit putih mempunyai risiko paling tinggi.
3. Factor keturunan; ditemukan riwayat keluarga dengan keropos tulang.
4. Adanya kerangka tubuh yang lemah dan skoliosis vertebra. Keadaan ini terutama terjadi pada wanita umur 50-60 thun dengan densitas tulang yang rendah dan di atas umur 70 tahun dengan BMI (body mass index) yang rendah.
5. Aktivitas fisik yang kurang.
6. Tidak pernah melahirkan.
7. Menopause dini (menopause pada umur 46 tahun).
8. Gizi (antara lain protein), kandungan garam pada makanan, kekurangan protein dan kalsium dalam masa kanakkanak dan remaja menyebabkan tidak tercapainya massa tulang yang maksimal pada waktu dewasa.
9. Gaya hidup seperti peminum alcohol berat, peminum kopi berat, dan perokok berat.
10. Hormonal yaitu kadar estrogen plasma yang kurang.
11. Obat misalnya kortikosteroid.
12. Kerusakan tulang akibat kelelahan fisik (fatigue damage) misalnya jogging yang berlebihan tanpa diimbangi gizi yang cukup.
13. Jenis kelamin; 3 kali lebih sering terjadi pada wanita disbanding pria. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh factor hormonal dan rangka tulang yang lebih kecil.




• Jenis-jenis osteoporosis
1. Osteoporosis primer
Osteoporosis primer terbagi atas 2 tipe yaitu:
 Tipe 1
Adalah tipe yang timbul pada wanita pasca menopause
 Tipe 2
Terjadi pada orang lanjut usia bak pada wanita pasca menopause
2. Osteoporosis sekunder
Osteoporosis sekunder terutama disebabkan oleh penyakit-penyakit tulang erosif (misalnya myeloma multiple, hipertiroidisme, hiperparatiroidisme) dan akibat obat-obatan yang toksik untuk tulang (misalny glukokortikoid)
3. Osteoporosis idiopatik
Osteoporosis idiopatik adalah osteoporis yang tidak diketahui penyebabnya dan ditemukan pada:
 Usia anak-anak (juvenile)
 Usia remaja (adolesen)
 Wanita pra-menopause
 Pria usia pertengahan
Osteoporosis jenis ini jauh lebih jarang terjadi disbanding jenis lainnya.
• Gambaran klinis
1. Nyeri tulang
Nyeri terutama terasa pada tulang beakang yang intensitas serangannya meningkat pada malam hari.
2. Deformitas tulang
Dapat terjadi fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis anguler yang dapat menyebabkan meula spinalis tertekan sehingga dapat terjadi paraparesis.
• Diagnosis
1. Sebelum terjadi patah tulang
Penderita (terutama wanita tua) biasanya dating dengan nyeri tulang terutama tulang belakang, bungkuk, dan sudah menopause.
Untuk menegakkan diagnosis yang akurat dilakukan beberapa pemeriksaan, yaitu:
 Pemeriksaan non-invasif
 Pemeriksaan analisis aktifasi neutron yang bertujuan untuk memeriksa kalsium total dan massa tulang.
 Pemeriksaan absorpsiometri
 Pemeriksaan computer tomografi (CT)
 Pemeriksaan biopsy
Pemeriksaan ini bersifat invasive dan berguna untuk memberikan informasi mengenai keadaan osteoklas, osteoblas, ketebalan trabekula, dn kualitas mineralisasi tulang. Biopsy dilakukan pada tulang sternum atau Krista-iliaka.
 Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan kimia darah dan kimia urin biasanya dalam batas normal, sehingga pemeriksaan ini tidak banyak membantu kecuali pemeriksaan biomarkers osteocalcin (G1a protein) dan osteonektin untuk melihat proses mineralisasi serta untuk membedakannya dengan nyeri tulang oleh kausa yang lain
2. Sesudah terjadi patah tulang
Penderita biasanya dating dengan keluhan tiba-tiba punggung terasa sangant nyeri (nyeri punggung akut), nyeri pada pangkal paha atau bengkak pada pergelangan tangan setelah jatuh. Dengan pemeriksaan radiologis dapat dilihat gambaran patah tulang pada tempat-tempat tersebut.
• Penatalaksanaan
Penanganan yang dapat dilakukan pada penderita osteoporosis meliputi:
1. Diet
2. Pemberian kalsium dosis tinggi
3. Pemberian vitamin D dosis tinggi
4. Pemasangan penyangga tulang belakang (spinal brace) untuk mengurngi nyeri punggung.
• Pencegahan
1. Menghindari factor-faktor risiko osteoporosis misalnya rokok, mengurangi konsumsi alcohol, berhati-hati dalam aktivitas.
2. Penanganan terhadap deformits serta fraktur yang terjadi.















• Patofisiologi Osteoporosis
















3. Kelainan Tulang Akibat Gangguan infeksi dan inflamasi
A. OSTEOMIELITIS.
Osteomielitis adalah infeksi pada tulang dan medulla tulang baik karena infeksi piogenik atau non- piogenik misalnya mikobakterium tuberkulosa. Ostemielitis terbagi lagi menjadi :
- INFEKSI BAKTERI PIOGENIK :
1. Osteomielitis Hematogen Akut
Osteomielitis hematogen akut adalah infeksi tulang dan sumsum tulang akut yang disebabkan oleh bakteri piogen dimana mikro-organisme berasal dari fokus ditempat lain dan beredar melalui sirkulasi darah. Kelainan ini sering ditemukan pada anak – anak dan sangat jarang pada orang dewasa. Diagnosa yang dini sangat penting oleh karena prognosis tergantung dari pengobatan yang tepat dan segera.
Etiologi
Faktor predisposisi osteomielitis hematogen akut adalah :
Umur, terutama pada bayi dan anak – anak. Jenis kelamin, lebih sering pada laki – laki daripada perempuan dengan perbandingan 4 : 1. Trauma, hematoma akibat trauma pada daerah metafisis, merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya osteomielitis hemtogen akut. Lokasi, osteomielitis hematogen akut sering terjadi di daerah metafisis, karena daerah ini merupakan daerah aktif tempat terjadinya pertumbuhan tulang. Nutrisi, lingkungan dan imunitas yang buruk serta adanya fokus infeksi sebelumnya ( seperti bisul, tonsillitis ) merupakan factor predisposisi osteomielitis hematogen akut. Stafilokokus aureus hemolitikus ( koagulasi positif ) sebanyak 90% dan jarang oleh streptokokus hemolitikus. Hemofilus influenza ( 550% ) pada anak umur di bawah 4 tahun. Organisme lain seperti B. Colli, B. Aerogenus kapsulata, Pneumokokus, Salmonella tifosa, Pseudemonas aerogenus, Proteus mirabilis, Brucella, dan bakteri anaerobic yaitu Bakteroides fragilis.
Patologi dan Patogenesis
Penyebaran osteomielitis terjadi melalui 2 cara, yaitu :
• Penyebaran umum
Melalui sirkulasi darah berupa bakteremia dan septicemia Melalui embolus infeksi yang menyebabkan infeksi multifokal pada daerah – daerah lain.
• Penyebaran lokal
Subperiosteal abses akibat penerobosan abses melalui periost. Selulitis akibat abses subperiosteal menembus sampai di bawah kulit. Penyebaran ke dalam sendi sehingga terjadi arthritis septic. Penyebaran ke medulla tulang sekitarnya sehingga sistem sirkulasi dalam tulang terganggu. Hal menyebabkan kematian tulang local dengan terbentuknya tulang mati yang disebut sekuestrum.
Patologi yang terjadi pada osteomielitis hematogen akut tergantung pada umur, daya tahan penderita, lokasi infeksi serta virulensi kuman. Infeksi terjadi melalui aliran darah pada fokus tempat lain dalam tubuh pada fase bakteremia dan dapat menimbulkan septikemia. Embolus infeksi kemudian masuk ke dalam juksta epifisis pada daerah metafisis tulang panjang. Proses selanjutnya terjadi hiperemi dan edema di daerah metafisis disertai pembentukan pus. Terbentuknya pus dalam tulang dimana jaringan tulang tidak dapat berekspansi akan menyebabkan tekanan dalam tulang bertambah. Peninggian tekanan dalam tulang mengakibatkan terganggunya sirkulasi dan timbul trombosis pada pembuluh darah tulang yang akhirnya menyebabkan nekrosis tulang. Di samping proses yang disebutkan diatas, pembentukan tulang baru yang ekstensif terjadi pada bagian dalam periosteum sepanjang diafisis ( terutama pada anak – anak ) sehingga terbentuk suatu lingkungan tulang seperti peti mayat yang disebut involucrum dengan jaringan sekuestrum di dalamnya. Prose ini terlihat jelas pada akhir minggu kedua. Apabila pus menembus tulang, maka terjadi pengaliran pus ( discharge ) dari involucrum keluar melalui lubang yang disebut kloaka atau melalui sinus pada jaringan lunak dan kulit.
Gambaran Klinis
Gambaran klinis osteomielitis hematogen tergantung dari stadium patogenesis dari penyakit. Osteomielitis hematogen akut berkembang secara progersif atau cepat. Pada keadaan ini mungkin dapat ditemukan adanya infeksi baktreial pada kulit dan saluran nafas bgaian atas. Gejala lain dapat berupa nyeri yang konstan pada daerah infeksi, nyeri tekan dan terdapat gangguan fungsi anggota gerak yang bersangkutan. Gejala – gejala umum timbul akibat bakterimia dan septikemia berupa panas tinggi, malaise serta nafsu makan yang berkurang.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya :
Nyeri tekan
Gangguan pergerakan sendi oleh karena pembengkakan sendi dan gangguan akan bertambah berat bila terjadi spasme lokal. Gangguan pergerakan sendi juga dapat disebabkan oleh efusi sendi atau infeksi sendi (artritis sendi).
• Pemeriksaan Laboratotium
• Pemeriksaan darah
• Pemeriksaan feses
Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri Salmonella.
• Pemeriksaan biopsy
Dilakukan ditempat yang dicurigai
• Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan foto polos dalam 10 hari, tidak ditemukan kelainan radiologik yang berarti dan mungkin hanya ditemukan pembengkakan jaringan lunak.
• Pemeriksaan Ultrasonografi
Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan adanya efusi pada sendi.
Komplikasi
- Septikemia
- Infeksi yang bersifat metastastik
- Artritis supuratif
- Gangguan pertumbuhan
- Oateomielitis kronis
Pengobatan
Istirahat dan pemberian analgesik untuk menghilangkan nyeri. Pemberian cairan intravena dan bila perlu tranfusi darah. Istirahat lokal dengan bidai atau traksi. Pemberian antibiotik secepatnya sesuai dengan penyebab utama yaitu Stafilokokus aureus sambil menunggu hasil biakan kuman. Antibiotic diberikan hingga 2 minggu setelah laju endap darah normal. Drainase bedah. Apabila setelah 24 jam pengobatan lokal dan system antibiotic gagal, maka dapat dipertimbangkan drainase bedah (chirurgis).
Diagnosis Banding
- Selulitis
- Artritis supuraktif akut
- Demam reumatik
- Krisis sel sabit
- Penyakit Gaucher
- Tumor Ewing
2. Osteomielitis Hematogen Sub-akut
Kelainan ini dapat ditemukan di beberapa Negara dengan insidens yang hamper sama dengan osteomielitis akut. Gejala osteomielitis hamtogen sub–akut lebih ringan oleh karena organism penyebabnya kurang purulen dan penderita lebih resisten. Osteomielitis hamtogen sub-akut biasanya disebabkan oleh stafilokokus aureus dan umumnya berlokasi di bagian distal femur dan proksimal tibia.
Patologi
Biasanya terdapat kavitas dengan batas tegas pada tulang kanselosa dan mengandung cairan seropurulen. Kavitas dilingkari oleh jaringan granulasi yang terdiri atas sel – sel inflamasi akut dan kronik dan biasanya terdapat penebalan trabekula.
Gambaran Klinis
Osteomielitis hematogen sub-akut biasanya ditemukan pada anak – anak dan remaja. Gambaran klinis yang dapat ditemukan adalah atrofi otot, nyeri lokal, sedikit pembengkakan dan dapat pula penderita menjadi pincang. Terdapat rasanya nyeri pada daerah sekitar sendi selama beberapa minggu atau mungkin berbulan – bulan. Suhu tubuh penderita biasanya normal.
Pemeriksaan Laboraturium
Leukosit umumnya normal, tetapi laju endap darah meningkat.
Diagnosis
Dengan foto rontgen biasanya ditemukan kavitas berdiameter 1-2 cm terutama pada daerah metafisis dari tibia dan femur atau kadang – kadang pada daerah diafisis tulang panjang.
Pengobatan
Pengobatan yang dilakukan berupa pemberian antibiotik yang adekuat selama 6 minggu. Apabila diagnosis ragu – ragu, maka dapat dilakukan biopsi dan kuretase.
3. Osteomielitis Sklerosing
Osteomielitis sklerosing atau osteomielitis Garre adalah suatu osteomielitis sub-akut dan terdapat kavitas yang dikelilingi oleh jaringan sklerotik pada daerah metafisis dan diafisis tulang panjang. Penderita biasanya remaja dan orang dewasa, terdapat rasa nyeri dan mungkin sedikit pembengkakan pada tulang.
Pemeriksaan Radiologis
Pada foto rontgen terlihat adanya kavitas yang difus dan dikelilingi oleh jaringan tulang yang sklerotik.
Pengobatan
Pengobatan osteomielitis sklerosing berupa eksisi dan kuretase lesi.
4. Osteomielitis kronis
Osteomielitis kronis umumnya merupakan lanjutan adri osteomielitis akut yang tidak terdiagnosis atau tidak diobati dengan baik. Osteomielitis kronis dapat juga terjadi setelah tindakan operasi pada tulang. Bakteri penyebabnya osteomielitis kronis terutama oleh Stafilokokus aureus (75%), atau E. colli, Proteus atau Pseudemonas. Stafilokokus epidermis merupakan penyebab utama osteomielitis kronik pada operasi – operasi ortopedi yang menggunakan implan.
Patologi dan Patogenesis
Infeksi tulang dapat menyebabkan terjadinya sekuestrum yang menghambat terjadinya resolusi dan penyembuhan spontan yang normal pada tulang. Sekuestrum ini merupakan benda asing bagi tulang dan mencegah terjadinya penutupan kloaka (pada tulang) dan sinus (pada kulit). Sekuestrum diselimuti oleh involucrum yang tidak dapat keluar / dibersihkan dari medulla tulang kecuali dengan tindakan operasi. Proses selanjutnya terjadi destruksi dan sklerosis tulang yang dapat terlihat pada foto rontgen.
Gambaran Klinis
Penderita sering mengeluhkan adanya cairan yang keluar dari luka / sinus setelah operasi, yang bersifat menahun. Kelainan kadang – kadang disertai demam dan nyeri lokal yang hilang timbul di daerah anggota gerak tertentu. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya sinus, fistel atau sikatriks bekas operasi dengan nyeri tekan. Mungkin dapat ditemukan sekuestrum yang msenonjol keluar melalui kulit. Biasanya terdapat riwayat fraktur terbuka atau osteomielitis pada penderita.
Pemeriksaan Laboraturium
Pemeriksaan laboraturium menunjukkan adanya meningkatkan laju endap darah, leukositosis serta peningkatan titer antobodi anti-stafilokokus. Pemeriksaan kultur dan uji sensitivitas diperlukan untuk menentukan organisme penyebabnya.
Pemeriksaan Radiologis
- Foto polos
Pada foto rontgen dapat ditemukan adanya tanda – tanda pororsis dan sklerosing, penebalan periost, elevasi periosteum dan mungkin adanya sekuestrum.
- Radioisotop scanning
Radioisotop scanning dapat membantu menegakkan diagnosis osteomielitis kronis dengan memakai 99mTCHDP.
- CT dan MRI
Pemeriksaan ini bermanfaat untuk membuat rencana pengobatan serta untuk melihat sejauh mana kerusakan tulang yang terjadi.
Pengobatan
Pengobatan osteomielitis kronis terdiri atas :
- Pemberian antibiotic
- Tindakan operatif
Komplikasi
- Kontraktur sendi
- Penyakit amiloid
- Fraktur patologis
- Perubahan menjadi ganas pada jaringan epidermis ( karsinoma epidermoid, ulkus Marjolin ).
- Kerusakan epifisis sehingga terjadi gangguan pertumbuhan.
5. Osteomielitis akibat fraktur terbuka dan operasi
• Osteomielitis akibat frkatur terbuka
Osteomielitis akibat fraktur terbuka merupakan osteomielitis yang paling sering ditemukan pada orang dewasa. Pada suatu fraktur terbuka dapat ditemukan kerusakan jaringan, kerusakan pembuluh darah, edema, hematoma dan hubungan antara fraktur dengan dunia luar sehingga pada fraktur terbuka umumnya terjadi infeksi. Osteomielitis akibat fraktur terutama disebabkan oleh Stafilokokus aureus, B. colli, Pseudemonas dan kadang – kadang oleh bakteri anaerobik seperti Klostridium, Streptokokus anaerobic atau Bakteroideus. Pada fraktur terbuak perlu dilakukan pemeriksaan biakan kuman guna menentukan organisme penyebabnya.
Gambaran Klinis
Gambaran klinis pada osteomielitis akibat fraktur terbuka biasanya berupa demam, nyeri, pembengkakan pada daerah fraktur dan sekresi pus pada luka. Pada pemeriksaan darah ditemukan leukositosis dan peningkatan laju endap darah.
Pengobatan
Prinsip penenangan pada kelainan ini sama dengan osteomie litis lainnya. Pada fraktur terbuka sebaiknya dilakukan pencegahan infeksi melalui pembersihan dan debridemam luka. Luka dibiarkan terbuka dan diberikan antibiotik yang adekuat.

• Osteomielitis pasca operasi
Osteomielitis jenis ini terjadi setelah suatu operasi tulang (terutama pada operasi yang mengguanakan implan), yang disebabkan oleh kontaminasi bakteri pada pembedahan. Gejala infeksi dapat timbul segera setelah operasi atau beberapa bulan kemudian. Osteomielitis pasca operasi yang paling takuti adalah oeteomielitis setelah suatu operasi artroplasti. Pada keadaan ini pencegahan osteomielitis lebih penting dari pada pengobatan.
• Artritis supuraktif akut
Infeksi pada sendi dapat terjadi :
Secara langsung melalui luka pada sendi baik oleh karena luka trauma, injeksi atau tindakan artrospi. Penyebaran osteomilitis krionis yang menembus masuk ke dalam sendi. Metastasis dari tempat lain melalui sirkulasi darah.
Etiologi
Artritis supuraktif akut terutama disebabkan oleh Stafilokokus aureus, sedangkan pada bayi terutama oleh Hemofilus influenza. Penyebab lainnya adalah Streptokokus, E. colli, dan Proteus. Artritis supuraktif akut pada orang dewasa perlu dicurigai adanya infeksi gonokokus.
Patologi
Kelainan biasanya dimulai pada jaringan sinovia berupa reaksi inflamasi akut dengan cairan serosa atau cairan seropurulen. Kenudian terjadi efusi pus di dalam sendi. Tulang rawan kemudian akan mengalami erosi, destruksi, dan disentegrasi (kondrolisis) yang disebabkan oleh enzim bakteri dan enzim leukosit. Pada tahap selanjutnya timbul jaringan granulasi (panus) yang menutupi tulang rawan dan menghambat nutrisi ke jaringan sinovia sehingga trejadi kerusakan tulang rawan. Pada bayi dapat terjadi kerusakan pada epifisis yang sebagian besar merupakan tulang rawan. Pada anak – anak terjadi oklusi vaskuler yang menyebabkan nekrosis epifisis, sedangkan pada orang dewasa terjadi kerusakan tulang rawan sendi.
Proses selanjutnya dapat terjadi beberapa kemungkinan, yaitu :
- Sembuh sempurna
- Terjadi kerusakan pada sebagian tulang rawan sendi disertai fibrosis sendi
- Hilangnya tulang rawan sendi dan terjadi ankilosis tulang
- Destruksi tulang rawan sendi disertai deformitas sendi
Gambaran Klinis
Gambaran klinis artritis supuraktif akut dibagi menurut umur penderita :
- Pada bayi
- Pada anak
- Pada orang dewasa
Pemeriksaan Laboratorium
- Pemeriksaan darah
Ditemukan peningkatan leukosit dan laju endap darah. Pemeriksaan kultur darh mungkin positif. Pada foto rontgen sendi mungkin ditemukan adanya pembengkakan jaringan lunak sekitar sendi, pelebaran ruang sendi akibat efusi sendi atau tanda – tanda sublukasi. Pada lanjut baru terlihat adanya destruksi pada tulang dan tulang rawan.
Pengobatan
Aspirasi cairan sendi yang dicurigai untuk pemeriksaan pewarnaan dan klutur sel – sel dilakukan agar pemberian antibiotik sesuai dengan bakteri penyebab.
Pengobatan terdiri atas :
Terapi suportif; pemberian analgetik atau cairan intravena apabila terdapat dehidrasi. Pemasangan bidai untuk mengistirahatkan sendi. Untuk mencegah dislokasi mungkin perlu dilakukan traksi dalam posisi abduksi dan fleksi 30°. Pemberian antibiotik sesuai dengan bakteri penyebabnya terbanyak sambil menunggu hasil pemeriksaan bakteriologis. Drainase sendi dilakukan jika ditemukan efusi sendi terutama efusi sendi oleh cairan seropurulen / purulen.
Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi dibagi atas 2 :
- Komplikasi dini :
- Kematian karena septicemia
- Destruksi tulang rawan sendi
- Dislokasi sendi
- Nekrosis epifisis, terutama pada sendi panggul
Komplikasi lanjut
- Degenerasi sendi di kenudian hari
- Dislokasi yang menetap
- Ankilosis yang bersifat fibrosa
- Ankilosis karena kerusakan tulang
- Gangguan pertumbuhan akibat kerusakan lempeng epifisis
ASKEP OSTEOMIELITIS









Etiologi
Infeksi bisa disebabkan oleh penyebaran hematogen (melalui darah) dari fokus infeksi di tempat lain (mis. Tonsil yang terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas atas). Osteomielitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi ditempat di mana terdapat trauma dimana terdapat resistensi rendah kemungkinan akibat trauma subklinis (tak jelas). Osteomielitis dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan lunak (mis. Ulkus dekubitus yang terinfeksi atau ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis, fraktur ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis. Fraktur terbuka, cedera traumatik seperti luka tembak, pembedahan tulang. Pasien yang beresiko tinggi mengalami osteomielitis adalah mereka yang nutrisinya buruk, lansia, kegemukan atau penderita diabetes. Selain itu, pasien yang menderita artritis reumatoid, telah di rawat lama dirumah sakit, mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang, menjalani pembedahan sendi sebelum operasi sekarang atau sedang mengalami sepsis rentan, begitu pula yang menjalani pembedahan ortopedi lama, mengalami infeksi luka mengeluarkan pus, mengalami nekrosis insisi marginal atau dehisensi luka, atau memerlukan evakuasi hematoma pascaoperasi.
Insiden
Osteomyelitis ini cenderung terjadi pada anak dan remaja namun demikian seluruh usia bisa saja beresiko untuk terjadinya osteomyelitis pada umumnya kasus ini banyak terjadi laki-laki dengan perbandingan 2 : 1.
Patofisiologi
Staphylococcus aurens merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang. Organisme patogenik lainnya sering dujumpai pada osteomielitis meliputi Proteus, Pseudomonas dan Ecerichia coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi resisten penisilin, nosokomial, gram negatif dan anaerobik. Awitan osteomielitis setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (akut fulminan stadium I) dan sering berhubungan dengan penumpukan hematoma atau infeksi superfisial. Infeksi awitan lambat (stadium 2) terjadi antara 4 sampai 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya akibat penyebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan. Respons inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan Vaskularisas dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombosis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan dengan peningkatan dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya, kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan terbentuk abses tulang. Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan; namun yang lebih sering harus dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya terbentuk daerah jaringan mati, namun seperti pada rongga abses pada umumnya, jaringan tulang mati (sequestrum) tidak mudah mencair dan mengalir keluar. Rongga tidak dapat mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak. Terjadi pertumbuhan tulang baru (involukrum) dan mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, namun sequestrum infeksius kronis yang tetap rentan mengeluarkan abses kambuhan sepanjang hidup pasien. Dinamakan osteomielitis tipe kronik.
Manifestasi Klinis
Jika infeksi dibawah oleh darah, biasanya awitannya mendadak, sering terjadi dengan manifestasi klinis septikemia (mis. Menggigil, demam tinggi, denyut nadi cepat dan malaise umum). Gejala sismetik pada awalnya dapat menutupi gejala lokal secara lengkap. Setelah infeksi menyebar dari rongga sumsum ke korteks tulang, akan mengenai periosteum dan jaringan lunak, dengan bagian yang terinfeksi menjadi nyeri, bengkak dan sangat nyeri tekan. Pasien menggambarkan nyeri konstan berdenyut yang semakin memberat dengan gerakan dan berhubungan dengan tekanan pus yang terkumpul. Bila osteomielitis terjadi akibat penyebaran dari infeksi di sekitarnya atau kontaminasi langsung, tidak akan ada gejala septikemia. Daerah infeksi membengkak, hangat, nyeri dan nyeri tekan. Pasien dengan osteomielitis kronik ditandai dengan pus yang selalu mengalir keluar dari sinus atau mengalami periode berulang nyeri, inflamasi, pembengkakan dan pengeluaran pus. Infeksi derajat rendah dapat menjadi pada jaringan parut akibat kurangnya asupan darah.
Evaluasi Diagnostik
Pada osteomielitis akut, pemeriksaan sinar – x awal hanya menunjukkan pembengkakan jaringan lunak. Pada sekitar 2 minggu terdapat daerah dekalsifikasi ireguler, nekrosis tulang baru. Pemindaian tulang dan MRI dapat membantu diagnosis definitif awal. Pemeriksaan darah memperlihatkan peningkatan leukosit dan peningkatan laju endap darah. Kultur darah dan kultur abses diperlukan untuk menentukan jenis antibiotika yang sesuai. Pada osteomielitis kronik, besar, kavitas iregular, peningkatan periosteum, sequestra atau pembentukan tulang padat terlihat pada sinar – x. pemindaian tulang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi area infeksi. Laju sedimentasi dan jumlah sel darah putih biasanya normal. Anemia, dikaitkan dengan infeksi kronik. Abses ini dibiakkan untuk menentukan organisme infektif dan terapi antibiotik yang tepat.
Pencegahan
Sasaran utamanya adalah Pencegahan osteomielitis. Penanganan infeksi lokal dapat menurunkan angka penyebaran hematogen. Penanganan infeksi jaringan lunak pada mengontrol erosi tulang. Pemilihan pasien dengan teliti dan perhatian terhadap lingkungan operasi dan teknik pembedahan dapat menurunkan insiden osteomielitis pascaoperasi. Antibiotika profilaksis, diberikan untuk mencapai kadar jaringan yang memadai saat pembedahan dan selama 24 jam sampai 48 jam setelah operasi akan sangat membantu. Teknik perawatan luka pascaoperasi aseptik akan menurunkan insiden infeksi superfisial dan potensial terjadinya osteomielitis.
Penatalaksanaan
Daerah yang terkana harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman salin hangat selama 20 menit beberapa kali per hari untuk meningkatkan aliran daerah. Sasaran awal terapi adalah mengontrol dan menghentikan proses infeksi, Kultur darah dan swab dan kultur abses dilakukan untuk mengidentifikasi organisme dan memilih antibiotika yang terbaik. Kadang, infeksi disebabkan oleh lebih dari satu patogen. Begitu spesimen kultur telah diperoleh, dimulai pemberian terapi antibiotika intravena, dengan asumsi bahwa dengan infeksi staphylococcus yang peka terhadap penisilin semi sintetik atau sefalosporin. Tujuannya adalah mengentrol infeksi sebelum aliran darah ke daerah tersebut menurun akibat terjadinya trombosis. Pemberian dosis antibiotika terus menerus sesuai waktu sangat penting untuk mencapai kadar antibiotika dalam darah yang terus menerus
tinggi. Antibiotika yang paling sensitif terhadap organisme penyebab yang diberikan bila telah diketahui biakan dan sensitivitasnya. Bila infeksi tampak telah terkontrol, antibiotika dapat diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Untuk meningkatkan absorpsi antibiotika oral, jangan diminum bersama makanan. Bila pasien tidak menunjukkan respons terhadap terapi antibiotika, tulang yang terkena harus dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan nekrotik diangkat dan daerah itu diiringi secara langsung dengan larutan salin fisiologis steril. Tetapi antibitika dianjurkan. Pada osteomielitis kronik, antibiotika merupakan ajuvan terhadap debridemen bedah. Dilakukan sequestrektomi (pengangkatan involukrum secukupnya supaya ahli bedah dapat mengangkat sequestrum). Kadang harus dilakukan pengangkatan tulang untuk memajankan rongga yang dalam menjadi cekungan yang dangkal (saucerization). Semua tulang dan kartilago yang terinfeksi dan mati diangkat supaya dapat terjadi penyembuhan yang permanen.
Luka dapat ditutup rapat untuk menutup rongga mati (dead space) atau dipasang tampon agar dapat diisi oleh jaringan granulasi atau dilakukan grafting dikemudian hari. Dapat dipasang drainase berpengisap untuk mengontrol hematoma dan mebuang debris. Dapat diberikan irigasi larutan salin normal selama 7 sampai 8 hari. Dapat terjadi infeksi samping dengan pemberian irigasi ini. Rongga yang didebridemen dapat diisi dengan graft tulang kanselus untuk merangsang penyembuhan. Pada defek yang sangat besar, rongga dapat diisi dengan transfer tulang berpembuluh darah atau flup otot (dimana suatu otot diambil dari jaringan sekitarnya namun dengan pembuluh darah yang utuh). Teknik bedah mikro ini akan meningkatkan asupan darah; perbaikan asupan darah kemudian akan memungkinkan penyembuhan tulang dan eradikasi infeksi. Prosedur bedah ini dapat dilakukan secara bertahap untuk menyakinkan penyembuhan. Debridemen bedah dapat melemahkan tulang, kemudian memerlukan stabilisasi atau penyokong dengan fiksasi interna atau alat penyokong eksterna untuk mencegah terjadinya patah tulang.
B. OSTEOARTRITIS
1. Defenisi
Osteoartritis adalah penyakit peradangan sendi yang sering muncul pada usia lanjut. Jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun dan lebih sering dijumpai pada usia diatas 60 tahun.
Osteoarthritis adalah gangguan pada sendi yang bergerak yang paling umum terjadi . Penyakit ini bersifat kronik, berjalan progresif lambat, tidak meradang dan ditandai oleh adanya deteriorasi dan abrasi rawan sendi dan adanya pembentukan tulang baru pada permukaan persendian. Berdasarkan factor-faktor penyebab, penyakit ini lebih banyak terjadi pada wanita. Kondrosit adalah sel yang tugasnya membentuk proteoglikan dan kolagen pada rawan sendi. Dengan alasan-alasan yang masih belum diketahui, sintesis proteoglikan dan kolagen meningkat tajam pada osteoarthritis. Tetapi substansi ini juga dihancurkan dengan kecepatan yang lebih tinggi, sehingga pembentukan tidak mengimbangi kebutuhan. Sejumlah kecil kartilago tipe I menggantikan tipe II yang normal, sehingga terjadi perubahan pada diameter dan orientasi serat kolagen yang mengubah biomekanika dari cartilage. Rawan sendi kemudian kehilangan sifat komprebilitasnya yang unik.
Walaupun penyebab sebenarnya dari osteoarthritis tidak diketahui, tetapi kelihatannya proses penuaan ada hubungannya dengan kondrosi, menimbulkan perubahan pada komposisi rawan sendi yang mengarah pada perkembangan osteoarthritis. Factor-faktor yang berperan pada penyakit ini adalah factor genetic, hormone seks dan hormone-hormon lainnya. Sendi yang paling sering terserang adalah sendi-sendi yang harus memikul beban tubuh, antara lain lutut, panggul, vertebra lumbal dan servikal dan sendi falang distal dan proksimal. Pada arthritis reumathoid, sendi falang proksimal dan sendi metacarpal keduanya terserang, namun sendi interfalang distal tidak terlibat. Osteoarthritis terutama menyebabkan perubahan biomekanika dan biokimia didalam sendi, seringkali terjadi pula sinovitis tetapi osteoarthritis bukanlah penyakit peradangan.









Osteoartritis daerah cervical. Osteoartritis daerah lumbal








Osteoartritis pada sendi lutut
2. Etiologi
Penyebab dari osteoartritis hingga saat ini masih belum terungkap, namun beberapa faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis antara lain adalah :
1. Umur.
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor ketuaan adalah yang terkuat. Prevalensi dan beratnya orteoartritis semakin meningkat dengan bertambahnya umur. Osteoartritis hampir tak pernah pada anak-anak, jarang pada umur dibawah 40 tahun dan sering pada umur diatas 60 tahun.
2. Jenis Kelamin.
Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi , dan lelaki lebih sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keeluruhan dibawah 45 tahun frekuensi osteoartritis kurang lebih sama pada laki dan wanita tetapi diatas 50 tahun frekuensi oeteoartritis lebih banyak pada wanita dari pada pria hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis osteoartritis.
3. Genetic
Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis missal, pada ibu dari seorang wanita dengan osteoartritis pada sendi-sendi inter falang distal terdapat dua kali lebih sering osteoartritis pada sendi-sendi tersebut, dan anak-anaknya perempuan cenderung mempunyai tiga kali lebih sering dari pada ibu dananak perempuan dari wanita tanpa osteoarthritis.
4. Suku.
Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada osteoartritis nampaknya terdapat perbedaan diantara masing-masing suku bangsa, misalnya osteoartritis paha lebih jarang diantara orang-orang kulit hitam dan usia dari pada kaukasia. Osteoartritis lebih sering dijumpai pada orang – orang Amerika asli dari pada orang kulit putih. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan.
Kegemukan
Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk timbulnya osteoartritis baik pada wanita maupun pada pria. Kegemukan ternyata tak hanya berkaitan dengan osteoartritis pada sendi yang menanggung beban, tapi juga dengan osteoartritis sendi lain (tangan atau sternoklavikula).
3. Menifestasi klinis
Gejala-gejala utama ialah adanya nyeri pada sendi yang terkena, terutama waktu bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan, mula-mula rasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang saat istirahat. Terdapat hambatan pada pergerakan sendi, kaku pagi , krepitasi, pembesaran sendi, dan perubahan gaya berjalan.
4. Penatalaksanaan
1. Obat obatan
Sampai sekarang belum ada obat yang spesifik yang khas untuk osteoartritis, oleh karena patogenesisnya yang belum jelas, obat yang diberikan bertujuan untuk mengurangi rasa sakit, meningkatkan mobilitas dan mengurangi ketidak mampuan. Obat-obat anti inflamasinon steroid bekerja sebagai analgetik dan sekaligus mengurangi sinovitis, meskipun tak dapat memperbaiki atau menghentikan proses patologis osteoartritis.
2. Perlindungan sendi
Osteoartritis mungkin timbul atau diperkuat karena mekanisme tubuh yang kurang baik. Perlu dihindari aktivitas yang berlebihan pada sendi yang sakit. Pemakaian tongkat, alat-alat listrik yang dapat memperingan kerja sendi juga perlu diperhatikan. Beban pada lutut berlebihan karena kakai yang tertekuk (pronatio).
3. Diet
Diet untuk menurunkan berat badan pasien osteoartritis yang gemuk harus menjadi program utama pengobatan osteoartritis. Penurunan berat badan seringkali dapat mengurangi timbulnya keluhan dan peradangan.
4. Dukungan psikososial
Dukungan psikososial diperlukan pasien osteoartritis oleh karena sifatnya yang menahun dan ketidakmampuannya yang ditimbulkannya. Disatu pihak pasien ingin menyembunyikan ketidakmampuannya, dipihak lain dia ingin orang lain turut memikirkan penyakitnya. Pasien osteoartritis sering kali keberatan untuk memakai alat-alat pembantu karena faktor-faktor psikologis.
5. Persoalan Seksual
Gangguan seksual dapat dijumpai pada pasien osteoartritis terutama pada tulang belakang, paha dan lutut. Sering kali diskusi karena ini harus dimulai dari dokter karena biasanya pasien enggan mengutarakannya.

6. Fisioterapi
Fisioterapi berperan penting pada penatalaksanaan osteoartritis, yang meliputi pemakaian panas dan dingin dan program latihan ynag tepat. Pemakaian panas yang sedang diberikan sebelum latihan untk mengurangi rasa nyeri dan kekakuan. Pada sendi yang masih aktif sebaiknya diberi dingin dan obat-obat gosok jangan dipakai sebelum pamanasan. Berbagai sumber panas dapat dipakai seperti Hidrokolator, bantalan elektrik, ultrasonic, inframerah, mandi paraffin dan mandi dari pancuran panas. Program latihan bertujuan untuk memperbaiki gerak sendi dan memperkuat otot yang biasanya atropik pada sekitar sendi osteoartritis. Latihan isometric lebih baik dari pada isotonic karena mengurangi tegangan pada sendi. Atropi rawan sendi dan tulang yang timbul pada tungkai yang lumpuh timbul karena berkurangnya beban ke sendi oleh karena kontraksi otot. Oleh karena otot-otot periartikular memegang peran penting terhadap perlindungan rawan senadi dari beban, maka penguatan otot-otot tersebut adalah penting.
7. Operasi
Operasi perlu dipertimbangkan pada pasien osteoartritis dengan kerusakan sendi yang nyata dengan nyari yang menetap dan kelemahan fungsi. Tindakan yang dilakukan adalah osteotomy untuk mengoreksi ketidaklurusan atau ketidaksesuaian, debridement sendi untuk menghilangkan fragmen tulang rawan sendi, pebersihan osteofit.
ASUHAN KEPERAWATAN
A. DASAR DATA PENGKAJIAN PASIEN
Aktivitas/Istirahat
Gejala:
- Nyeri sendi karena gerakan,
- nyeri tekan,
- memburuk dengan stress pada sendi:
- kekakuan pada pagi hari.
- Keletihan
Tanda:
- Malaise
- Keterbatasan rentang gerak ;
- atrofi otot, kulit : kontraktur atau kelainan pada sendi dan otot
Kardiovaskuler
Gejala :
- Jantung cepat,
- tekanan darah menurun
Integritas Ego
Gejala:
Faktor-faktor stress akut atau kronis,Misalnya:
- finansial,
- pekerjaan,
- ketidakmampuan,
- factor-faktor hubungan
- Keputusasaan dan ketidak berdayaan
- Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi misalnya ketergantungan pada orang lain
Makanan Atau Cairan
Gejala:
Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan adekuat :
- mual.
- Anoreksia
- Kesulitan untuk mengunyah
Tanda:
- Penurunan berat badan
- Kekeringan pada membran mukosa
Higiene
Gejala:
- berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas pribadi,
- ketergantungan pada orang lain.
Neurosensori
Gejala:
- kebas/kesemutan pada tangan dan kaki,
- hilangnya sensasi pada jari tangan
Tanda:
- Pembengkakan sendi
Nyeri / Kenyamanan
Gejala: fase akut dari nyeri
Tanda:
Terasa nyeri kronis dan kekakuan
Keamanan
Gejala:
Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga
Tanda:
Kekeringan pada mata dan membran mukosa
Interaksi Sosial
Gejala:
- kerusakan interaksi dan keluarga / orang lsin :
- perubahan peran: isolasi
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa 1: Nyeri berhubungan dengan penurunan fungsi tulang
Kriteria hasil: nyeri hilang atau tekontrol
INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
kaji keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas(skala 0 – 10). Catat faktor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal
berikan matras atau kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan

biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk di kursi. Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai indikasi
dorong untuk sering mengubah posisi. Bantu pasien untuk bergerak di tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan di bawah, hindari gerakan yang menyentak
anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada waktu bangun. Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari. Pantau suhu air kompres, air mandi
berikan masase yang lembut
kolaborasi
Beri obat sebelum aktivitas atau latihan yang direncanakan sesuai petunjuk seperti asetil salisilat.
Membantu dalam menentukan kebutuhan managemen nyeri dan keefektifan program.

Matras yang lembut/empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan setres pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi / nyeri
Pada penyakit berat, tirah baring mungkin diperlukan untuk membatasi nyeri atau cedera sendi.
Mencegah terjadinya kelelahan umum dankekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi gerakan/rasa sakit pada sendi
Panas meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan melepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitifitas pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan

Meningkatkan elaksasi/mengurangi tegangan otot
Meningkatkan relaksasi, mengurangitegangan otot, memudahkan untuk ikut serta dalam terapi.

Diagnosa 2 : Intoleran aktivitas berhubungan dengan perubahan otot.
Kriteria Hasil : Klien mampu berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan.
INTERVENSI RASIONAL
Pertahankan istirahat tirah baring/duduk jika diperlukan.
Bantu bergerak dengan bantuan seminimal mungkin.
Dorong klien mempertahankan postur tegak, duduk tinggi, berdiri dan berjalan.
Berikan lingkungan yang aman dan menganjurkan untuk menggunakan alat bantu.
Berikan obat-obatan sesuai indikasi seperti steroid. Untuk mencegah kelelahan dan mempertahankan kekuatan.
Meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum.
Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas.
Menghindari cedera akibat kecelakaan seperti jatuh.
Untuk menekan inflamasi sistemik akut.
Diagnosa 3 : Risiko cedera berhubungan dengan penurunan fungsi tulang.
Kriteria Hasil : Klien dapat mempertahankan keselamatan fisik.
INTERVENSI RASIONAL
Kendalikan lingkungan dengan : Menyingkirkan bahaya yang tampak jelas, mengurangi potensial cedera akibat jatuh ketika tidur misalnya menggunakan penyanggah tempat tidur, usahakan posisi tempat tidur rendah, gunakan pencahayaan malam siapkan lampu panggil
Memantau regimen medikasi
Izinkan kemandirian dan kebebasan maksimum dengan memberikan kebebasan dalam lingkungan yang aman, hindari penggunaan restrain, ketika pasien melamun alihkan perhatiannya ketimbang mengagetkannya. Lingkungan yang bebas bahaya akan mengurangi resiko cedera dan membebaskan keluarga dari kekhawatiran yang konstan.
ΓΌ

Hal ini akan memberikan pasien merasa otonomi, restrain dapat meningkatkan agitasi, mengegetkan pasien akan meningkatkan ansietas.

Diagnosa 4 : Perubahan pola tidur berhubungan dengan nyeri
Kriteria Hasil : Klien dapat memenuhi kebutuhan istirahat atau tidur.
INTERVENSI RASIONAL
Madiri
Tentukan kebiasaan tidur biasanya dan biasanya dan perubahan yang terjadi.
Berikan tempat tidur yang nyaman
Buat rutinitas tidur baru yang dimasukkan dalam pola lama dan lingkungan baru
Instruksikan tindakan relaksasi
Tingkatkan regimen kenyamanan waktu tidur, misalnya mandi hangat dan massage.
Gunakan pagar tempat tidur sesuai indikasi: rendahkan tempat tidur bila mungkin.
Hindari mengganggui bila mungkin, misalnya membangunkan untuk obat atau terapi
Kolaborasi
Berikan sedative, hipnotik sesuai indikasi
Mengkaji perlunya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat.
Meningkatkan kenyamaan tidur serta dukungan fisiologis/psikologis
Bila rutinitas baru mengandung aspek sebanyak kebiasaan lama, stress dan ansietas yang berhubungan dapat berkurang
Membantu menginduksi tidur
Meningkatkan efek relaksasi
Dapat merasakan takut jatuh karena perubahan ukuran dan tinggi tempat tidur, pagar tempat untuk membantu mengubah posisi
Tidur tanpa gangguan lebih menimbulkan rasa segar dan pasien mungkin mungkin tidak mampu kembali tidur bila terbangun.
Mungkin diberikan untuk membantu pasien tidur atau istirahat.

Diagnosa 5 : Defisit perawatan diri berhubungan dengan nyeri
Kriteri Hasil : Klien dapat melaksanakan aktivitas perawatan sendiri secara mandiri
. INTERVENSI RASIONAL
Kaji tingkat fungsi fisik
Pertahankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan progran latihan
Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri, identifikasi untuk modifikasi lingkungan
Identifikasikasi untuk perawatan yang diperlukan, misalnya; lift, peninggian dudukan toilet, kursi roda Mengidentifikasi tingkat bantuan/dukungan yang diperlukan
Mendukung kemandirian fisik/emosional
Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian yang akan meningkatkan harga diri
Memberikan kesempatan untuk dapat melakukan aktivitas secara mandiri

Diagnosa 6 : Gangguan citra tubuh/ perubahan penampilan peran berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas umum.
Kriteria hasil : mengungkapkan peningkatan rasa percaya kemampuann Untuk menghadapi penyakit, perubahan gaya hidup dan kemungkinan keterbatasan.
INTERVENSI RASIONAl
Mandiri
Dorong pengungkapan mengenai masalah mengenai proses penyakit, harapan masa depan.
Diskusikan arti dari kehilangan/perubahan pada pasien/orang terdekat. Memastikan bagaimana pandangan pribadi psien dalam memfungsikan gaya hidup sehari-hari termasuk aspek-aspek seksual.
Diskusikan persepsi pasien mengenai bagaiman orang terdekat menerima keterbatasan.
Akui dan terima perasaan berduka, bermusuhan, ketergantungan
Perhatikan perilaku menarik diri, penguanan menyangkal atau terlalu memperhatikan tubuh/perubahan.
Susun batasan pada prilaku maladaptive. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perilaku positif yang dapat membantu koping.
Ikut sertakan pasien dalam merencanakan perawatan dan membuat jadwal aktivitas.
Kolaborasi
Rujuk pada konseling psikiatri
Berikan obat-obat sesuai petunjuk
Beri kesempatan untuk mengidentifikasi rasa takut/kesal menghadapinya secara langsung.
Mengidentifikasi bagaimana penyakit mempengaruhi persepsi diri dan interaksi dengan orang lain akan menentukan kebutuhan terhadap intervensi atau konseling lebih lanjut.
Isyarat verbal/nonverbal orang terdekat dapat mempunyai pengaruh mayor pada bagaimana pasien memandang dirinya sendiri.
Nyeri melelahkan, dan perasaan marah, bermusuhan umum terjadi.
Dapat menunjukkan emosional atau metode maladaptive, membutuhkan intervensi lebih lanjut atau dukungan psikologis.
Membantu pasien mempertahankan kontrol diri yang dapat meningkatkan perasaan harga diri.
Meningkatkan perasaan kompetensi/harga diri, mendorong kemandirian, dan mendorong partisipasi dan terapi.
Pasien/orang terdekat mungkin membutuhkadukungann selama berhadapan dengan proses jangka panjang/ketidakmampuan
Mungkin dibutuhkan pada saat munculnya depresi hebat sampai pasien mengembangkan kemampuankoping yang efektif.

C. ARTRITIS REUMATOID
a. latar belakang
Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan deformitas lebih lanjut.( Susan Martin Tucker.1998 ) Artritis Reumatoid ( AR ) adalah kelainan inflamasi yang terutama mengenai mengenai membran sinovial dari persendian dan umumnya ditandai dengan dengan nyeri persendian, kaku sendi, penurunan mobilitas, dan keletihan. ( Diane C. Baughman. 2000 )
b. etiologi
Penyebab pasti reumatod arthritis tidak diketahui. Biasanya merupakan kombinasi dari faktor genetic, lingkungan, hormonal dan faktor system reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti bakteri, mikoplasma dan virus (Lemone & Burke, 2001).
Penyebab utama kelainan ini tidak diketahui. Ada beberapa teori yang dikemukakan mengenai penyebab artritis reumatoid, yaitu :
- Infeksi streptokokus hemolitikus dan streptokokus non-hemolitikus
- Endokrin
- Autoimun
- Metabolik
Faktor genetik serta faktor pemicu lainnya.
Pada saat ini, artritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun dan infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor infeksi mungkin disebabkan oleh karena virus dan organisme mikoplasma atau grup difterioid yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi penderita.
c. manifestasi klinis
Pola karakteristik dari persendian yang terkena :
Mulai pada persendian kecil ditangan, pergelangan , dan kaki. Secara progresif menenai persendian, lutut, bahu, pinggul, siku, pergelangan kaki, tulang belakang serviks, dan temporomandibular. Awitan biasnya akut, bilateral, dan simetris. Persendian dapat teraba hangat, bengkak, dan nyeri ; kaku pada pagi hari berlangsung selama lebih dari 30 menit. Deformitasi tangan dan kaki adalah hal yang umum.
Gambaran Ekstra-artikular
- Demam,
- penurunan berat badan,
- keletihan,
- anemia
Fenomena Raynaud.
- Nodulus rheumatoid,
- tidak nyeri tekan dan dapat bergerak bebas,
- di temukan pada jaringan subkutan di atas tonjolan tulang.
Rheumatoid arthritis ditandai oleh adanya gejala umum peradangan berupa:
- demam,
- lemah tubuh dan pembengkakan sendi.
- nyeri dan kekakuan sendi yang dirasakan paling parah pada pagi hari.
- rentang gerak berkurang, timbul deformitas sendi dan kontraktur otot.
Pada sekitar 20% penderita rheumatoid artritits muncul nodus rheumatoid ekstrasinovium. Nodus ini erdiri dari sel darah putih dan sisia sel yang terdapat di daerah trauma atau peningkatan tekanan. Nodus biasanya terbentuk di jaringan subkutis di atas siku dan jari tangan.


e. komplikasi
Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus peptik yang merupakan komlikasi utama penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit ( disease modifying antirhematoid drugs, DMARD ) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada arthritis reumatoid. Komlikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas , sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis.
f. kriteria diagnostik
Diagnosis arthritis reumatoid tidak bersandar pada satu karakteristik saja tetapi berdasar pada evaluasi dari sekelompok tanda dan gejala.
Kriteria diagnostik adalah sebagai berikut:
- Kekakuan pagi hari (sekurangnya 1 jam)
- Arthritis pada tiga atau lebih sendi
- Arthritis sendi-sendi jari-jari tangan
- Arthritis yang simetris
- Nodula reumatoid dan Faktor reumatoid dalam serum
- Perubahan-perubahan radiologik (erosi atau dekalsifikasi tulang)
Diagnosis artritis reumatoid dikatakan positif apabila sekurang-kurangnya empat dari tujuh kriteria ini terpenuhi. Empat kriteria yang disebutkan terdahulu harus sudah berlangsung sekurang-kurangnya 6 minggu.
g. penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan reumatoid artritis adalah mengurangi nyeri, mengurangi inflamasi, menghentikan kerusakan sendi dan meningkatkan fungsi dan kemampuan mobilisasi penderita (Lemone & Burke, 2001).
Adapun penatalaksanaan umum pada rheumatoid arthritis antara lain :
Pemberian terapi
Pengobatan pada rheumatoid arthritis meliputi pemberian aspirin untuk mengurangi nyeri dan proses inflamasi, NSAIDs untuk mengurangi inflamasi, pemberian corticosteroid sistemik untuk memperlambat destruksi sendi dan imunosupressive terapi untuk menghambat proses autoimun.
Pengaturan aktivitas dan istirahat
pada kebanyakan penderita,istirahat secara teratur merupakan hal penting untuk mengurangi gejala penyakit.Pembebatan sendi yang terkena dan pembatasan gerak yang tidak perlu akan sangat membantu dalam mengurangi progresivitas inflamasi. Namun istirahat harus diseimbangkan dengan latihan gerak untuk tetap menjaga kekuatan otot dan pergerakan sendi.
kompres panas dan dingin
Kompres panas dan dingin digunakan untuk mendapatkan efek analgesic dan relaksan otot. Dalam hal ini kompres hangat lebih efektive daripada kompres dingin.
Diet
Untuk penderita rheumatoid arthritis disarankan untuk mengatur dietnya. Diet yang disarankan yaitu asam lemak omega-3 yang terdapat dalam minyak ikan.
Pembedahan
Pembedahan dilakukan apabila rheumatoid arthritis sudah mencapai tahap akhir. Bentuknya dapat berupa tindakan arhthrodesis untuk menstabilkan sendi, arthoplasty atau total join replacement untuk mengganti sendi.
II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
a. pengkajian
Data dasar pengkajian pasien tergantung padwa keparahan dan keterlibatan organ-organ lainnya ( misalnya mata, jantung, paru-paru, ginjal ), tahapan misalnya eksaserbasi akut atau remisi dan keberadaaan bersama bentuk-bentuk arthritis lainnya.
Aktivitas/ istirahat
Gejala :
- Nyeri sendi karena gerakan,
- nyeri tekan,
- memburuk dengan stres pada sendi;
- kekakuan pada pagi hari,
- biasanya terjadi bilateral dan simetris.
- Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang, pekerjaan, keletihan.
Tanda : Malaise
Keterbatasan rentang gerak;
- atrofi otot,
- kulit,
- kontraktor/ kelaianan pada sendi.
Kardiovaskuler
Gejala :
Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki ( mis: pucat intermitten, sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).
Integritas ego
Gejala:
Faktor-faktor stres akut/ kronis: mis;
- finansial,
- pekerjaan,
- ketidakmampuan,
faktor-faktor hubungan. Keputusan dan ketidakberdayaan ( situasi ketidakmampuan ) Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi ( misalnya ketergantungan pada orang lain).
Makanan/cairan
Gejala:
Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan adekuat:mual,anoreksia,Kesulitan untukmengunyah.
Tanda:
Penurunan berat badan Kekeringan pada membran mukosa.
Hygiene
Gejala:
Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi. Ketergantungan
Neurosensori
Gejala:
- Kebas,
- semutan pada tangan dan kaki,
- hilangnya sensasi pada jari tangan.
- Gejala : Pembengkakan sendi simetris
Nyeri/kenyamanan
Gejala :
Fase akut dari nyeri ( mungkin tidak disertai oleh pembengkakan jaringan lunak pada sendi ).
Keamanan
Gejala :
- Kulit mengkilat,
- tegang, nodul subkutan,
- Lesi kulit,
- ulkus kaki.
- Kesulitan dalam ringan dalam menangani tugas/ pemeliharaan rumah tangga. Demam ringan menetap Kekeringan pada mata dan membran mukosa.
Interaksi sosial
Gejala :
Kerusakan interaksi sosial dengan keluarga/ orang lain; perubahan peran; isolasi.
b. diagnosa keperawatan
Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan : agen pencedera; distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi. Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas skeletal Nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot. Gangguan citra tubuh./perubahan penampilan peran berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal; penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan kurangnya pemahaman/ mengingat,kesalahan interpretasi informasi
c. intervensi keperawatan
Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan : agen pencedera; distensi jaringan oleh akumulasicairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.

Kriteria Hasil:
Menunjukkan nyeri hilang/ terkontrol,
- Terlihat rileks,
- dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan.
- Mengikuti program farmakologis yang diresepkan,
- Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke dalam program kontrol nyeri.
Intervensi dan Rasional:.
Kaji nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0-10). Catat faktor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal
R/ Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan program Berikan matras/ kasur keras, bantal kecil,. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan . R/Matras yang lembut/ empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi/nyeri Tempatkan/ pantau penggunaan bantl, karung pasir, gulungan trokhanter, bebat, brace. (R/ Mengistirahatkan sendi-sendi yang sakit dan mempertahankan posisi netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan dapat mengurangi kerusakan pada sendi)
Dorong untuk sering mengubah posisi,. Bantu untuk bergerak di tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan bawah, hindari gerakan yang menyentak. (R/ Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi gerakan/ rasa sakit pada sendi) Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada waktu bangun dan/atau pada waktu tidur. Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari. Pantau suhu air kompres, air mandi, dan sebagainya. (R/ Panas meningkatkan relaksasi otot, dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan melepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitivitas pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan) Berikan masase yang lembut (R/meningkatkan relaksasi/ mengurangi nyeri) Dorong penggunaan teknik manajemen stres, misalnya relaksasi progresif,sentuhan terapeutik, biofeed back, visualisasi, pedoman imajinasi, hypnosis diri, dan pengendalian napas. (R/ Meningkatkan relaksasi, memberikan rasa kontrol dan mungkin meningkatkan kemampuan koping)
Libatkan dalam aktivitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu. (R/ Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat) Beri obat sebelum aktivitas/ latihan yang direncanakan sesuai petunjuk. (R/ Meningkatkan realaksasi, mengurangi tegangan otot/ spasme, memudahkan untuk ikut serta dalam terapi)
Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai petunjuk (mis:asetil salisilat) (R/ sebagai anti inflamasi dan efek analgesik ringan dalam mengurangi kekakuan dan meningkatkan mobilitas.) Berikan es kompres dingin jika dibutuhkan (R/ Rasa dingin dapat menghilangkan nyeri dan bengkak selama periode akut
Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas skeletal
Nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot.
Kriteria Hasil :
- Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/ pembatasan kontraktur.
- Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/atau konpensasi bagian tubuh
- Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas Intervensi dan Rasional:.
Evaluasi/ lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi/ rasa sakit pada sendi (R/ Tingkat aktivitas/ latihan tergantung dari perkembangan/ resolusi dari peoses inflamasi) Pertahankan istirahat tirah baring/ duduk jika diperlukan jadwal aktivitas untuk memberikan periode istirahat yang terus menerus dan tidur malam hari yang tidak terganmggu.(R/ Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan seluruh fase penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan mempertahankan kekuatan) Bantu dengan rentang gerak aktif/pasif, demikiqan juga latihan resistif dan isometris jika memungkinkan (R/ Mempertahankan/ meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum. Catatan : latihan tidak adekuat menimbulkan kekakuan sendi, karenanya aktivitas yang berlebihan dapat merusak sendi)
Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup. Demonstrasikan/ bantu tehnik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas, mis, trapeze (R/ Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi. Memepermudah perawatan diri dan kemandirian pasien. Tehnik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit) Posisikan dengan bantal, kantung pasir, gulungan trokanter, bebat, brace (R/ Meningkatkan stabilitas ( mengurangi resiko cidera ) dan memerptahankan posisi sendi yang diperlukan dan kesejajaran tubuh, mengurangi kontraktor)
Gunakan bantal kecil/tipis di bawah leher. (R/ Mencegah fleksi leher) Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan berjalan (R/ Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas) Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi, menggunakan pegangan tangga pada toilet, penggunaan kursi roda. (R/ Menghindari cidera akibat kecelakaan/ jatuh)
Kolaborasi: konsul dengan fisoterapi. (R/ Berguna dalam memformulasikan program latihan/ aktivitas yang berdasarkan pada kebutuhan individual dan dalam mengidentifikasikan alat)
Kolaborasi: Berikan matras busa/ pengubah tekanan. (R/ Menurunkan tekanan pada jaringan yang mudah pecah untuk mengurangi risiko imobilitas)
Kolaborasi: berikan obat-obatan sesuai indikasi (steroid). (R/ Mungkin dibutuhkan untuk menekan sistem inflamasi akut)
Gangguan citra tubuh./perubahan penampilan peran berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas

Kriteria Hasil :
Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup, dan kemungkinan keterbatasan. Menyusun rencana realistis untuk masa depan.
Intervensi dan Rasional:
Dorong pengungkapan mengenai masalah tentang proses penyakit, harapan masa depan. (R/Berikan kesempatan untuk mengidentifikasi rasa takut/ kesalahan konsep dan menghadapinya secara langsung) Diskeusikan arti dari kehilangan/ perubahan pada pasien/orang terdekat. Memastikan bagaimana pandangaqn pribadi pasien dalam memfungsikan gaya hidup sehari-hari, termasuk aspek-aspek seksual. (R/Mengidentifikasi bagaimana penyakit mempengaruhi persepsi diri dan interaksi dengan orang lain akan menentukan kebutuhan terhadap intervensi/ konseling lebih lanjut)
Diskusikan persepsi pasienmengenai bagaimana orang terdekat menerima keterbatasan. (R/ Isyarat verbal/non verbal orang terdekat dapat mempunyai pengaruh mayor pada bagaimana pasien memandang dirinya sendiri) Akui dan terima perasaan berduka, bermusuhan, ketergantungan. (R/ Nyeri konstan akan melelahkan, dan perasaan marah dan bermusuhan umum terjadi Perhatikan perilaku menarik diri, penggunaan menyangkal atau terlalu memperhatikan perubahan. (R/ Dapat menunjukkan emosional ataupun metode koping maladaptive, membutuhkan intervensi lebih lanjut) Susun batasan pada perilaku mal adaptif. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perilaku positif yang dapat membantu koping. (R/ Membantu pasien untuk mempertahankan kontrol diri, yang dapat meningkatkan perasaan harga diri)
Ikut sertakan pasien dalam merencanakan perawatan dan membuat jadwal aktivitas. (Meningkatkan perasaan harga diri, mendorong kemandirian, dan mendorong berpartisipasi dalam terapi) Bantu dalam kebutuhan perawatan yang diperlukan.(R/ Mempertahankan penampilan yang dapat meningkatkan citra diri) Berikan bantuan positif bila perlu. (R/ Memungkinkan pasien untuk merasa senang terhadap dirinya sendiri. Menguatkan perilaku positif. Meningkatkan rasa percaya diri)
- Kolaborasi: Rujuk pada konseling psikiatri, mis: perawat spesialis psikiatri, psikolog. (R/ Pasien/orang terdekat mungkin membutuhkan dukungan selama berhadapan dengan proses jangka panjang/ ketidakmampuan)
- Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai petunjuk, mis; anti ansietas dan obat-obatan peningkat alam perasaan. (R/ Mungkin dibutuhkan pada sat munculnya depresi hebat sampai pasien mengembangkan kemapuan koping yang lebih efektif.
Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal; penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi.
Kriteria Hasil :
- Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan kemampuan individual.
- Mendemonstrasikan perubahan teknik/ gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
- Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi/ komunitas yang dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Intervensi dan Rasional:
Diskusikan tingkat fungsi umum (0-4) sebelum timbul awitan/ eksaserbasi penyakit dan potensial perubahan yang sekarang diantisipasi. (R/ Mungkin dapat melanjutkan aktivitas umum dengan melakukan adaptasi yang diperlukan pada keterbatasan saat ini). Pertahankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan program latihan. (R/ Mendukung kemandirian fisik/emosional) Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri. Identifikasi /rencana untuk modifikasi lingkungan. (R/ Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian, yang akan meningkatkan harga diri)
- Kolaborasi: Konsul dengan ahli terapi okupasi. (R/ Berguna untuk menentukan alat bantu untuk memenuhi kebutuhan individual. Mis; memasang kancing, menggunakan alat bantu memakai sepatu, menggantungkan pegangan untuk mandi pancuran)
- Kolaborasi: Atur evaluasi kesehatan di rumah sebelum pemulangan dengan evaluasi setelahnya. (R/ Mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin dihadapi karena tingkat kemampuan aktual)
- Kolaborasi : atur konsul dengan lembaga lainnya, mis: pelayanan perawatan rumah, ahli nutrisi. (R/ Mungkin membutuhkan berbagai bantuan tambahan untuk persiapan situasi di rumah)
Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan kurangnya pemahaman/ mengingat,kesalahan interpretasi informasi.

Kriteria Hasil :
- Menunjukkan pemahaman tentang kondisi/ prognosis, perawatan.
- Mengembangkan rencana untuk perawatan diri, termasuk modifikasi gaya hidup yang konsisten dengan mobilitas dan atau pembatasan aktivitas.
Intervensi dan Rasional:
Tinjau proses penyakit, prognosis, dan harapan masa depan. (R/ Memberikan pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi) Diskusikan kebiasaan pasien dalam penatalaksanaan proses sakit melalui diet,obat-obatan, dan program diet seimbang, l;atihan dan istirahat.(R/ Tujuan kontrol penyakit adalah untuk menekan inflamasi sendiri/ jaringan lain untuk mempertahankan fungsi sendi dan mencegah deformitas)
Bantu dalam merencanakan jadwal aktivitas terintegrasi yang realistis,istirahat, perawatan pribadi, pemberian obat-obatan, terapi fisik, dan manajemen stres. (R/ Memberikan struktur dan mengurangi ansietas pada waktu menangani proses penyakit kronis kompleks) Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakoterapeutik. (R/ Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung pada ketepatan dosis)
Anjurkan mencerna obat-obatan dengan makanan, susu, atau antasida pada waktu tidur. (R/ Membatasi irigasi gaster, pengurangan nyeri pada HS akan meningkatkan tidur dan m,engurangi kekakuan di pagi hari)
Identifikasi efek samping obat-obatan yang merugikan, mis: tinitus, perdarahan gastrointestinal, dan ruam purpuruik. (R/ Memperpanjang dan memaksimalkan dosis aspirin dapat mengakibatkan takar lajak. Tinitus umumnya mengindikasikan kadar terapeutik darah yang tinggi) Tekankan pentingnya membaca label produk dan mengurangi penggunaan obat-obat yang dijual bebas tanpa persetujuan dokter. (R/ Banyak produk mengandung salisilat tersembunyi yang dapat meningkatkan risiko takar layak obat/ efek samping yang berbahaya) Tinjau pentingnya diet yang seimbang dengan makanan yang banyak mengandung vitamin, protein dan zat besi. (R/ Meningkatkan perasaan sehat umum dan perbaikan jaringan) Dorong pasien obesitas untuk menurunkan berat badan dan berikan informasi penurunan berat badan sesuai kebutuhan. (R/ Pengurangan berat badan akan mengurangi tekanan pada sendi, terutama pinggul, lutut, pergelangan kaki, telapak kaki)
Berikan informasi mengenai alat bantu (R/ Mengurangi paksaan untuk menggunakan sendi dan memungkinkan individu untuk ikut serta secara lebih nyaman dalam aktivitas yang dibutuhkan) Diskusikan tekinik menghemat energi, mis: duduk daripada berdiri untuk mempersiapkan makanan dan mandi (R/ Mencegah kepenatan, memberikan kemudahan perawatan diri, dan kemandirian)
Dorong mempertahankan posisi tubuh yang benar baik pada sat istirahat maupun pada waktu melakukan aktivitas, misalnya menjaga agar sendi tetap meregang , tidak fleksi, menggunakan bebat untuk periode yang ditentukan, menempatkan tangan dekat pada pusat tubuh selama menggunakan, dan bergeser daripada mengangkat benda jika memungkinkan. ( R: mekanika tubuh yang baik harus menjadi bagian dari gaya hidup pasien untuk mengurangi tekanan sendi dan nyeri Tinjau perlunya inspeksi sering pada kulit dan perawatan kulit lainnya dibawah bebat, gips, alat penyokong. Tunjukkan pemberian bantalan yang tepat. ( R: mengurangi resiko iritasi/ kerusakan kulit
Diskusikan pentingnya obat obatan lanjutan/ pemeriksaan laboratorium, mis: LED, Kadar salisilat, PT. ( R; Terapi obat obatan membutuhkan pengkajian/ perbaikan yang terus menerus untuk menjamin efek optimal dan mencegah takar lajak, efek samping yang berbahaya.
Berikan konseling seksual sesuai kebutuhan ( R: Informasi mengenai posisi-posisi yang berbeda dan tehnik atau pilihan lain untuk pemenuhan seksual mungkin dapat meningkatkan hubungan pribadi dan perasaan harga diri/ percaya diri. Identifikasi sumber-sumber komunitas, mis: yayasan arthritis ( bila ada). (R: bantuan/ dukungan dari oranmg lain untuk meningkatkan pemulihan maksimal).
D. INFEKSI GRANULOMATOSA
Infeksi granulomatosa adalah infeksi kronik yang terutama disebabkan oleh mikrobakterium tuberkulosa,sifilis,brucella dan jamur.reaksi peradangan yang terjadi merupakan proses peradangan kronik yang didominasi oleh eksudat,karakteristik inflamasi kronik pada infeksi granulomatosa yaitu adanya reaksi sel-sel histiosit dan sel- epiteloid pada jaringan setempat yang membentuk lesi granuler dengan ukuran 1-2 mm. mikrobakterium tuberkulosa merupakan organisme penyebab terbanyak infeksi granulomatosa.
1. Infeksi Tuberkulosa
Tuberkulosis Tulang
Faktor predisposisi tuberkulosis adalah :
- Nutrisi dan sanitasi yang jelek
- Ras; yg ditemukan pada orang asia,meksiko,indian,dan negro
- Trauma pada tulang dapat merupakan lokus minoris
- Umur;terutama ditemukan setelah umur 1 thn,paling sering pd umur 2-10 tahun
- Penyakit sebelumnya seperti morbili dan varisela dapat memprovokasi kuman
- Masa pubertas dan kehamilan dapat mengaktifkan tuberculosis
Patologi
- Kompleks Primer
Lesi primer biasanya pada paru-paru,faring dan usus dan kemudian melalui saluran limfa menyebar ke limfonodus regional disebut primer kompleks
- Penyebaran Sekunder
Bila day tahan tubuh menurun,maka terjadi penyebaran melalui sirkulasi darah yang akan menghasilkan tuberkulosis milier dan meningitis.
- Lesi tersier
Tulang dan sendi mrupakan tempat lesi tersier dan sebanyak 5% dari tuberkulosis paru akan menyebar dan akan berakhir sebagai tuberkulosis sendi dan tulang.
2. Spondilitis Tuberkulosa (Penyakit POTT)
Spondilitis tuberculosa adalah infeksi yang sifatnya kronis berupa infeksi granulomatosis di sebabkan oleh kuman spesifik yaitu mycubacterium tuberculosa yang mengenai tulang vertebra (Abdurrahman, et al 1994; 144 )
Insiden
Spondilitis tuberkulosa merupakan 50% dari seluruh tuberkulosis tulang dan sendi yang terjadi. Spondilitis tuberkulosa sering terjadi pada kelompok umur 2-10 tahun dengan perbandingan yang hampir sama antara wanita dan pria.
Etiologi
Tuberkulosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di tempat lain ditubuh 90-95% disebabkan oleh mikrobakterium tuberkulosa tipik (2/3 dari tipe human dan 1/3 dari tipe bovin) dan 5-10% oleh mikrobakterium atipik.lokalisasi mikrobakterium tuberkulosa terutama pada vertebra torakal bawah dan lumbal atas sehingga diduga adanya infeksi sekunder dari suatu tuberkulosis traktus urinarius yang penyebaranya melalui pleksus batson pada vena paravertebralis.
Patofisiologi
Spondilitis tuberkulosa merupakan suatu tuberkulosis tulang yang sifatnya sekunder dari TBC tempat lain di tubuh. Penyebarannya secara hematogen, di duga terjadinya penyakit tersebut sering karena penyebaran hematogen dari infeksi traktus urinarius melalui pleksus Batson. Infeksi TBC vertebra di tandai dengan proses destruksi tulang progresif tetapi lambat di bagian depan (anterior vertebral body). Penyebaran dari jaringan yang mengalami pengejuan akan menghalangi proses pembentukan tulang sehingga berbentuk "tuberculos squestra". Sedang jaringan granulasi TBC akan penetrasi ke korteks dan terbentuk abses para vertebral yang dapat menjalar ke atas / bawah lewat ligamentum longitudinal anterior dan posterior. Sedang diskus Intervertebralis oleh karena avaskular lebih resisten tetapi akan mengalami dehidrasi dan terjadi penyempitan oleh karena dirusak jaringan granulasi TBC. Kerusakan progresif bagian anterior vertebra akan menimbulkan kiposis.
Manifestasi Klinik
Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan gejala tuberkulosis pada umumnya,yaitu badan lesu,nafsu makan berkurang,berat badan menurun,suhu sedikit meningkat (subfebril) terutama pada malam hari serta sakit pada punggung.pada anak-anak sering disertai dengan menangis pada malam hari (night cries).pada tuberkulosis vertebra servikal dapat ditemukan nyeri di daerah belakang kepala,gangguan menelan dan gangguan pernafasan akibat adanya abses nasofaring.kadangkala penderita datang dengan gejala abses pada daerah paravertebral,abominal,inguinal,poplitea atau bokong,adanya sinus pada daerah paravertebral atau penderita datang dengan gejala paraparesis,gejala paraplagia, keluhan gangguan pergerakan tulang belakang akibat spasme atau gibus.
Pemeriksaan Laboratorium
- Peningkatan laju endap darah dan mungkin disertai leukositosis
- Uji mantoux positif
- Pada pemeriksaan biakan kuman mungkin ditemukan mikrobakterium
- Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional
- Pemeriksaan histopatologis dapat ditemukan tuberkel
Pemeriksaan Radiologis
- Pemeriksaan foto toraks
- Foto Polos Vertebra
- Pada Foto AP
- Pemeriksaan Foto dengan zat kontras
- Pemeriksaan Mielograf
- Pemeriksaan CT Scan atau CT dengan Mielografi
- Pemeriksaan MRI
Pengobatan
- Terapi Konservatif berupa :
- Tirah Baring (Bed Rest)
- Memperbaiki keadaan umum penderita
- Pemasangan brace
- Pemberian obat anti tuberkulosa
- Kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila :
- Keadaan umum penderita bertambah baik
- Laju endap darah menurun dan menetap
- Gejala klinis berupa nyeri dan spasme berkurang
- Gambaran radiologik ditemukan adanya union pada vertebra
Terapi Operatif
- Abses dingin (cold abses)
- Debridemen fokal
- Kosto-tranveresektomi
- Debridemen fokal radikal yang disertai bone graft dibagian depan
- Paraplegia
- Pengobatan dengan kemoterapi
- Laminektomi
- Operasi radikal
- Osteotomi
Komplikasi
Cedera corda spinalis (spinal cord injury). Dapat terjadi karena adanya tekanan ekstradural sekunder karena pus tuberkulosa, sekuestra tulang, sekuester dari diskus intervertebralis (contoh : Pott’s paraplegia – prognosa baik) atau dapat juga langsung karena keterlibatan korda spinalis oleh jaringan granulasi tuberkulosa (contoh : menigomyelitis – prognosa buruk). Jika cepat diterapi sering berespon baik (berbeda dengan kondisi paralisis pada tumor). MRI dan mielografi dapat membantu membedakan paraplegi karena tekanan atau karena invasi dura dan corda spinalis. Empyema tuberkulosa karena rupturnya abses paravertebral di torakal ke dalam pleura.
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian.
Yang perlu dikaji pada pasien dengan gangguan Spondilitis Tuberkulosa adalah:
- Identitas klien
Identitas klien meliputi: nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, status perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, alamat, tanggal/jam MRS dan
diagnosa medis.
- Riwayat penyakit sekarang.
Keluhan utama pada klien Spondilitis tuberkulosa terdapat nyeri pada punggung bagian bawah, sehingga mendorong klien berobat kerumah sakit. Pada awal dapat dijumpai nyeri radikuler yang mengelilingi dada atau perut. Nyeri dirasakan meningkat pada malam hari dan bertambah berat terutama pada saat pergerakan tulang belakang. Selain adanya keluhan utama tersebut klien bisa mengeluh, nafsu makan menurun, badan terasa lemah, keringat dingin dan penurunan berat badan.
- Riwayat penyakit dahulu.
Tentang terjadinya penyakit Spondilitis tuberkulosa biasanya pada klien di dahului dengan adanya riwayat pernah menderita penyakit tuberkulosis paru.
- Riwayat kesehatan keluarga.
Pada klien dengan penyakit Spondilitis tuberkulosa salah satu penyebab timbulnya adalah klien pernah atau masih kontak dengan penderita lain yang menderita penyakit tuberkulosis atau pada lingkungan keluarga ada yang menderita penyakit menular tersebut.
- Riwayat psikososial
Klien akan merasa cemas terhadap penyakit yang di derita, sehingga akan kelihatan sedih, dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit, pengobatan dan perawatan terhadapnya maka penderita akan merasa takut dan bertambah cemas sehingga emosinya akan tidak stabil dan mempengaruhi sosialisai penderita.
- Pola-pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat.
Adanya tindakan medis serta perawatan di rumah sakit akan mempengaruhi persepsi klien tentang kebiasaan merawat diri yang dikarenakan tidak semua klien mengerti benar perjalanan penyakitnya. Sehingga menimbulkan salah persepsi dalam pemeliharaan kesehatan. Dan juga kemungkinan terdapatnya riwayat tentang keadaan perumahan, gizi dan tingkat ekonomi klien yang mempengaruhi keadaan kesehatan klien.
b. Pola nutrisi dan metabolisme.
Akibat dari proses penyakitnya klien merasakan tubuhnya menjadi lemah dan amnesia. Sedangkan kebutuhan metabolisme tubuh semakin meningkat sehingga klien akan mengalami gangguan pada status nutrisinya.
c. Pola eliminasi.
Klien akan mengalami perubahan dalam cara eliminasi yang semula bisa ke kamar mandi, karena lemah dan nyeri pada punggung serta dengan adanya penata laksanaan perawatan imobilisasi sehingga apabila mau BAB dan BAK harus ditempat tidur dengan suatu alat. Dengan adanya perubahan tersebut klien tidak terbiasa sehingga akan mengganggu proses aliminasi.
d. Pola aktivitas.
Sehubungan dengan adanya kelemahan fisik dan nyeri pada punggung serta penatalaksanaan perawatan imobilisasi akan menyebabkan klien membatasi aktivitas fisik dan berkurangnya kemampuan dalam melaksanakan aktivitas fisik tersebut.
e. Pola tidur dan istirahat.
Adanya nyeri pada punggung dan perubahan lingkungan atau dampak hospitalisasi akan menyebabkan masalah dalam pemenuhan kebutuhan tidur dan istirahat.
f. Pola hubungan dan peran.
Sejak sakit dan masuk rumah sakit klien mengalami perubahan peran atau tidak mampu menjalani peran sebagai mana mestinya, baik itu peran dalam keluarga ataupun masyarakat. Hal tersebut berdampak terganggunya hubungan interpersonal.
g. Pola persepsi dan konsep diri.
Klien dengan Spondilitis tuberkulosa seringkali merasa malu terhadap bentuk tubuhnya dan kadang - kadang mengisolasi diri.
h. Pola sensori dan kognitif.
Fungsi panca indera klien tidak mengalami gangguan terkecuali bila terjadi komplikasi paraplegi.
i. Pola reproduksi seksual.
Kebutuhan seksual klien dalam hal melakukan hubungan badan akan terganggu untuk sementara waktu, karena di rumah sakit. Tetapi dalam hal curahan kasih sayang dan perhatian dari pasangan hidupnya melalui cara merawat sehari-hari tidak terganggu atau dapat dilaksanakan.
j. Pola penaggulangan stres.
Dalam penanggulangan stres bagi klien yang belum mengerti penyakitnya akan mengalami stres. Untuk mengatasi rasa cemas yang menimbulkan rasa stres, klien akan bertanya-tanya tentang penyakitnya untuk mengurangi stres.
k. Pola tata nilai dan kepercayaan.
Pada klien yang dalam kehidupan sehari-hari selalu taat menjalankan ibadah, maka semasa dia sakit ia akan menjalankan ibadah pula sesuai dengan kemampuannya. Dalam hal ini ibadah bagi mereka di jalankan pula sebagai penaggulangan stres dengan percaya pada tuhannya.
7) Pemeriksaan fisik.
a. Inspeksi. Pada klien dengan Spondilitis tuberkulosa kelihatan lemah, pucat, dan pada tulang belakang terlihat bentuk kiposis.
b. Palpasi. Sesuai dengan yang terlihat pada inspeksi keadaan tulang belakang terdapat adanya gibus pada area tulang yang mengalami infeksi.
c. Perkusi. Pada tulang belakang yang mengalami infeksi terdapat nyeri ketok.
d. Pada pemeriksaan auskultasi keadaan paru tidak di temukan kelainan.
8) Hasil pemeriksaan medik dan laboratorium.
a. Radiologi
Terlihat gambaran distruksi vertebra terutama bagian anterior sangat jarang menyerang area posterior. Terdapat penyempitan diskus. Gambaran abses para vertebral ( fusi form ).
b. Laboratorium
Laju endap darah meningkat
c. Tes tuberkulin.
Reaksi tuberkulin biasanya positif.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien Spondilitis tuberkulosa adalah:
Gangguan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan muskuloskeletal dan nyeri.
Tujuan: Klien dapat melakukan mobilisasi secara optimal.
Kriteria hasil:
a) Klien dapat ikut serta dalam program latihan
b) Mencari bantuan sesuai kebutuhan
c) Mempertahankan koordinasi dan mobilitas sesuai tingkat optimal.
Rencana tindakan:
a) Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan kerusakan.
b) Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai toleransi.
c) Memelihara bentuk spinal yaitu dengan cara :
Mattress Bed Board ( tempat tidur dengan alas kayu, atau kasur busa yang keras yang tidak menimbulkan lekukan saat klien tidur).
d) Mempertahankan postur tubuh yang baik dan latihan pernapasan ;
Latihan ekstensi batang tubuh baik posisi berdiri ( bersandar pada tembok ) maupun posisi menelungkup dengan cara mengangkat ekstremitas atas dan kepala serta ekstremitas bawah secara bersamaan. Menelungkup sebanyak 3 – 4 kali sehari selama 15 – 30 menit. Latihan pernapasan yang akan dapat meningkatkan kapasitas pernapasan.
e) Monitor tanda –tanda vital setiap 4 jam.
f) Pantau kulit dan membran mukosa terhadap iritasi, kemerahan atau lecet – lecet.
g) Perbanyak masukan cairan sampai 2500 ml/hari bila tidak ada kontra indikasi.
h) Berikan anti inflamasi sesuai program dokter. Observasi terhadap efek samping : bisa tak nyaman pada lambung atau diare.
Rasional:
a) Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.
b) Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuan.
c) Mempertahankan posisi tulang belakang tetap rata.
d) Di lakukan untuk menegakkan postur dan menguatkan otot – otot paraspinal.
e) Untuk mendeteksi perubahan pada klien.
f) Deteksi diri dari kemungkinan komplikasi imobilisasi.
g) Cairan membantu menjaga faeces tetap lunak.
h) Obat anti inflamasi adalah suatu obat untuk mengurangi peradangan dan dapat menimbulkan efek samping.
Gangguan rasa nyaman; nyeri sendi dan otot sehubungan dengan adanya peradangan sendi.
Tujuan:
a. Rasa nyaman terpenuhi
b. Nyeri berkurang / hilang
Kriteria hasil:
a. Klien melaporkan penurunan nyeri
b. Menunjukkan perilaku yang lebih relaks
c. Memperagakan keterampilan reduksi nyeri yang di pelajari dengan peningkatan keberhasilan.
Rencana tindakan:
a. Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri; observasi terhadap kemajuan nyeri ke daerah yang baru.
b. Berikan analgesik sesuai terapi dokter dan kaji efektivitasnya terhadap nyeri.
c. Gunakan brace punggung atau korset bila di rencanakan demikian.
d. Berikan dorongan untuk mengubah posisi ringan dan sering untuk meningkatkan rasa nyaman.
e. Ajarkan dan bantu dalam teknik alternatif penatalaksanaan nyeri.
Rasional:
a. Nyeri adalah pengalaman subjek yang hanya dapat di gambarkan oleh klien sendiri.
b. Analgesik adalah obat untuk mengurangi rasa nyeri dan bagaimana reaksinya terhadap nyeri klien.
c. Korset untuk mempertahankan posisi punggung.
d. Dengan ganti-ganti posisi agar otot-otot tidak terus spasme dan tegang sehingga otot menjadi lemas dan nyeri berkurang.
e. Metode alternatif seperti relaksasi kadang lebih cepat menghilangkan nyeri atau dengan mengalihkan perhatian klien sehingga nyeri berkurang.
Gangguan citra tubuh sehubungan dengan gangguan struktur tubuh.
Tujuan: Klien dapa mengekspresikan perasaannya dan dapat menggunakan koping yang adaptif.
Kriteria hasil: Klien dapat mengungkapkan perasaan/perhatian dan menggunakan keterampilan koping yang positif dalam mengatasi perubahan citra.
Rencana tindakan:
a. Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan. Perawat harus mendengarkan dengan penuh perhatian.
b. Bersama-sama klien mencari alternatif koping yang positif.
c. Kembangkan komunikasi dan bina hubungan antara klien keluarga dan teman serta berikan aktivitas rekreasi dan permainan guna mengatasi perubahan body image.
Rasional:
a. Meningkatkan harga diri klien dan membina hubungan saling percaya dan dengan ungkapan perasaan dapat membantu penerimaan diri.
b. Dukungan perawat pada klien dapat meningkatkan rasa percaya diri klien.
c. Memberikan semangat bagi klien agar dapat memandang dirinya secara positif dan tidak merasa rendah diri.
Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurangnya informasi tentang penatalaksanaan perawatan di rumah.
Tujuan: Klien dan keluarga dapat memahami cara perawatan di rumah.
Kriteria hasil:
a. Klien dapat memperagakan pemasangan dan perawatan brace atau korset
b. Mengekspresikan pengertian tentang jadwal pengobatan
c. Klien mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, rencana pengobatan, dan gejala kemajuan penyakit.
Rencana tindakan:
a. Diskusikan tentang pengobatan : nama, jadwal, tujuan, dosis dan efek sampingnya.
b. Peragakan pemasangan dan perawatan brace atau korset.
c. Perbanyak diet nutrisi dan masukan cairan yang adekuat.
d. Tekankan pentingnya lingkungan yang aman untuk mencegah fraktur.
e. Diskusikan tanda dan gejala kemajuan penyakit, peningkatan nyeri dan mobilitas.
f. Tingkatkan kunjungan tindak lanjut dengan dokter.
3. Tuberkulosis Sendi
Tuberkulosis sendi merupakan manifestasi lokal prnyakit tuberkulosis dari fokus ditempat lain.kelainan ini bersifat monoartikuler 80% dan hanya 20% bersifat poliartikuler. Sendi yang terkena yaitu sendi lutut.panggul,pergelangan kaki,dan kadangkala sendi bahu. Apley membagi tuberkulosis sendi atas 3 stadium:
Stadium Aktif
Stadium aktif peradangan lokal yang merupakan peradangan lokal dan pembengkakan sendi serta atrofi otot,pada reaksiini terjadi peradangan sinovisum,pembengkakan sinovisum dan belum terdapat kerusakan tulang rawan fokus pada efipisis/metafisis selanjutnya menyebar kepermukaan sendi hingga panus pada permukaan sendi membran sinovia membengkak,edema,menebal dan berwarna abu-abu,bail kemudian menembus tulang rawan sendi serta tulang subkondral dan selanjutnya terjadi erosi yang hebat pada sendi,apabila tubrkulosis berlanjut akan terjadi kaseosa pada sendi yang dapat menyebar kejaringan lunak sekitarnya atau melalui sinus menembus kepermukaan kulit.
Stadium Penyembuhan
Pada stadium ini terjadi penyembuhan secara berangsur-angsur,gejala klinis seperti panas dan nyeri menghilang serta terjadi kalsifikasi pada tulang.
Stadium Residual
Bila penyembuhan penyakit terjadi sebelum ada kerusakan pada sendi,maka akan terjadi penyembuhan sempurna,tetapi bila terjadi kerusakan pada tulang rawan sendi maka akan terdapat gejala sisa/sekuele yang bersifat permanen berupa fibrosis dan deformitas pada sendi.
Tuberkulosis Sendi Panggul
Gambaran Klinis
Tuberkulosis sendi panggul ditemukan pada anak-anak umur 2-5 tahun dan pada anak remaja.gerakan sendi panggul menjadi sangat berbatas dan pada tingkat lanjut terjadi ankilosis atau deformitas yang menetap pada panggul yang pada pemeriksaan menurt thomas hasilnya positif dan mungkin ditemukan cold abses.
Diagnosis
- Pemeriksaan klinik
- Pemeriksaan radiologi
- Pemeriksaan laboratorium
Pengobatan
- Istirahat selama 3 minggu
- Pemberian obat tuberkulosastatika 9-12 bulan
- Traksi kulit
- Artrodesis panggul
Tuberkulosis sendi Lutut
Gejala klinis
Adanya efusi cairan abses dalam sendi dan pada tingkat lanjut mungkin ditemukan fistel pada kulit.Gejala klinis tuberkulosis sendi lutut berupa pembengkakan dan nyeri sendi lutut,gerakan sendi menjadi terbatas serta atrofi otot.
Diagnosis
- Pemeriksaan klinik
- Pemeriksaan laboratorium
- Pemeriksaan radiologis
- Pemeriksaan biopsi
Pengobatan
- Obat anti tuberkulosa
- Bed rest menggunakan gips atau bidai
- Dilakukan sinovektomi serta artrodesis pada lutut
Diagnosis banding
- Osteoatritis
- Artritis rheumatoid
- Arthritis hemoragik
- Arthritis septic
- Arthritis oleh kausa gonokokus
- Sinovitis pasca trauma
4. Penyakit CAFFEY
Etiologi
Penyakit caffey adalah salah satu jenis periostitis yang mengenai anak umur 6 bulan penyebabnya belum diketahui dengan pasti.gejala klinisnya berupa malaise,nyeri disertai dengan pembengkakan pada tulang panjang,kadangkala pada mandibula dan skapula.pada pemeriksaan foto rontgen ditemukan adanya pembentukan periosteal berupa tulang baru.
Pengobatan
Pemberian penisilin 10-14 hari memberikan hasil.
Gejala klinis
- Malaise
- Nyeri
- Pembengkakan pd tulang panjang
Infeksi Spirochaeta
- Sifilis kongenital
Infeksi adalah spirochaeta adalah infeksi yang disebabkan oleh treponema pallidium yang dapat memberikan gejala klinis sebagai suatu penyakit sifilis congenital
Gambaran Klinis
Penyakit ini biasanya ditemukan pada bayi,dimana penderita kelihatan sakit dan sangat rewel ditemukan adanya splenomegali,gejala yaitu adanya pembengkakan pada tulang panjangterutama pada tibia dan sukar digerakkan oleh karena terasa sakit(pseudoparalisis). Pada tingkat lanjut dapat merubah menjadi kongenital.
Pemeriksaan laboratorium
Ditemukan adanya pemeriksaan serologis positif baik pada bayi maupun pada ibu penderita (wassermann)
Pemeriksaan radiologi
Adanya dua kelainan yaitu periostitis dimana terjadi pembentukan tulang baru pada periost sepanjang diafisis dengan gambaran union peel dan kelainan pada metafisitis serta erosi trabekuler pada daerah juksta efisial. Pada sifilis tingkat lanjut,gambaran radiologik yang dapat ditemukan berupa punched out pada diafisis dengan daerah-daerah destruksi serta penebalan dan sklerosis dari tulang panjang yang disertai dengan pembentukan tulang endosteal dan periosteal(sabre tibia)
Pengobatan
Pemberian penisilin 10-14 hari.
5. YAWS (penyakit Patek)
Penyakit ini disebabkan oleh treponema pertenue,gambaran klinis dan radiologik yang dapat ditemukan hampir sama dengan sifilis kongenital pada tulang.
Bruselosis
Etiologi
Bruselosis merupakan suatu infeksi sub akut/kronik granulomatosa pada tulang dan sendi.ada tiga macam spesies yang ditemukan pada manusia brucella melitensis, brucella abortus dan brucella suis. sering di temukan didaerah mediteranian atau negara afrika dan india dan biasanya terdapat pada petani yang sering kontak dengan binatang.
Gambaran Klinis
Gambaran klinis yang biasa ditemukan adalah demam,nyeri kepala,badan lemah/lesu rasa nyeri pada sendi dan tulang belakang dan pembengkakan.
Patologi
Infeksi pada korpus vertebra atau pada sinovia sendi-sendi besar.kelainan khas yang ditemukan adalah adanya granuloma yang disertai dengan infiltrasi sel-sel bulat dan sel raksasa.mungkin dapat ditemukan adanya nekrosis dan pembentukan kaseosa seperti pada tuberkulosis lainnya.abses yang terjadi dapat menyebar ke jaringan sekitarnya.
Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan foto rontgen memperlihatkan tanda-tanda atritis sub akut dan penyempitan ruang sendi.pada tahap lanjut dapat ditemukan destruksi tulang dan osteoporosis periartikuler.pada tulang belakang mungkin dapat ditemukan kolaps korpus vertebra serta penyempitan diskus intervertebralis.
Pemeriksaan Laboratorium
Uji aglutinasi positif diatas 1/80
Biopsi dan aspirasi sendi untuk pemeriksaan biakan
Diagnosis
- Pemeriksaan klinik
- Pemeriksaan laboratorium
- Pemeriksaan radiologis
Pengobatan
Pengobatan bluserosis berupa kombinasi tetrasiklin dan streptomisin selama 3-4 minggu dan bila terdapat abses maka perlu dilakukan drainase untuk mengeluarkan jaringan nekrotik.

6. Infeksi Jamur
Infeksi granulomatosa oleh jamur juga kadang-kadang ditemukan pada tulang dan sendi,terutama disebabkan oleh jamur sendi maduromikosis dan aktinomikosis.
Jamur Maduromikosis
Penyebab : Actinomyces israelii, Nokardia asteroides, Nokadia brasiliensis, Allescheria boydii.
Morfologi : butir-butir gumpalan hifa
Patologi Klinik : kelainan berupa nodul sub kutan, menimbulkan pembekakan, abses.
Diagnosis
- Gambaran klinik, pemeriksaan (mikros : KOH 10%, gram; makos : biakan aerob, anaerob, biokimia).
- Jamur aktinomikosis
Etiologi
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa genus Actinomyces termasuk kuman, meskipun sebelumnya diduga suatu jamur. Actinomyces ditemukan dalam gigi berlubang, pada gigi dalam pocket gingiva dan kripta tonsil sebagai saprofit. bukannya berdasarkan isolasi jamur, tetapi berdasarkan atas sifat serta bentuk-bentuk benda yang ditemukan dalam lesi penyakitnya dan sampai sekarang Actinomyces belum berhasil diisolasi dari alam bebas.




4. Kelainan Tulang Akibat Gangguan tumor dan keganasan
a. Defenisi
Tumor tulang merupakan kelainan pada sistem muskuloskeletal yang bersifat neoplastik. Tumor dalam arti sempit berarti benjolan, sedangkan setiap pertumbuhan yang baru dan abnormal disebut neoplasma. Tumor dapat bersifat jinak atau ganas. Tumor ganas tulang dapat bersifat primer yang berasal dari unsur-unsur tulang sendiri atau sekunder dari metastasis/infiltrasi tumor-tumor ganas organ lain ke dalam tulang.
b. Insidens
Dari seluruh tumor tulang primer, 65,8% bersifat jinak dan 34,2% bersifat ganas. Tumor ganas tulang menempati urutan kesebelas dari seluruh tumor ganas yang ada dan hanya 1,5% dari seluruh tumor ganas organ. Perbandingan insidens tumor tulang pada pria dan wanita adalah sama.
Tabel 13.1.Insidens tumor jinak dan tumor ganas pada tulang
Tumor jinak Tumor ganas
Jenis Insidens Jenis Insidens
Osteoma 39,3 % Osteogenik sarkoma 48,8 %
Osteokondroma 32,5 % Giant cell tumor 17,5 %
Kondroma 9,8 % Kondrosarkoma 10 %
Tumor jinak lain 18,4 % Tumor ganas lain 23,7 %

c. Klasifikasi
Tabel 13.2. Klasifikasi tumor tulang berdasarkan kriteria histologik tumor tulang (WHO tahun 1972).
ASAL SEL JINAK GANAS
Osteogenik

Osteoblastoma Osteoma Osteoid sarkoma
Osteoblastoma Osteosarkoma
Parosteal osteosarkoma
Kondrogenik

Fibroma kondromiksoid Kondroma Kondrosarkoma
Osteokondroma Kondrosarkoma juxtakortikal
Kondroblastoma Kondrosarkoma mesenkim
Fibroma kondromiksoid
Giant cell tumor Osteoklastoma
Mielogenik Sarkoma ewing
Sarkoma retikulum
Limfosarkoma
Mieloma
Vaskuler

Intermediate :
Hemangio- endotelioma
Hemangio- perisitoma Hemangioma Angiosarkoma
Limfangioma
Tumor glomus

Jaringan lunak Fibroma desmoplastik Fibrosarkoma
Lipoma Liposarkoma
Mesenkimoma ganas
Sarkoma non-Diferensiasi
Tumor lain Neurinoma Kordoma
Neurofibroma Adamantinoma
Tumor non-Klasifikasi Kista soliter
Kista aneurisma
Kista juxta-artikuler
Defek metafisis
Granuloma eosinofil
Displasia fibrosa
Miositis osifikans
Tumor brown
hiperparatiroidisme

d. Mekanisme terjadinya tumor




































Tumor berdasarkan asal jaringannya, terbagi atas :
1) TUMOR ASAL JARINGAN TULANG
a. Tumor Jinak
 Osteoma (Ivory Exostosis)
Gambaran Klinis
Osteoma merupakan tumor jinak yang paling sering ditemukan (39,3%) dari seluruh tumor jinak tulang, terutama terjadi pada usia 20-40 tahun. Bentuknya kecil tapi dapat menjadi besar tanpa menimbulkan gejala-gejala yang spesifik.









Lokasi
Kelainan ini ditemukan pada tulang tengkorak seperti maksila, mandibula, palatum, sinus paranasalis, dan dapat pula pada tulang-tulang panjang seperti tibia, femur, dan falangs.
Pemeriksaan Radiologis
Pada foto rontgen osteoma berbentuk bulat dengan batas yang tegas tanpa adanya destruksi tulang. Pada pandangan tangensial osteoma terlihat kubah.
Patologi
Dapat ditemukan lesi pada tulang kompak (compact osteoma) dengan sistem haversian atau pada tuberkula tulang dengan sumsumnya disebut spongiosteoma. Strukturnya terdiri atas jaringan tulang dewasa yang didominasi oleh struktur-struktur lamelar dengan pertumbuhan yang sangat lambat. Osteoma yang berlokasi pada tulang panjang biasanya bersifat multipel dan merupakan bagian dari sindroma gardner.


Pengobatan
Bila osteoma kecil dan tidak memberi keluhan, tidak diperlukan tindakan khusus. Pada suatu osteoma yang besar serta memberikan gangguan kosmetik atau tedapat penekanan ke jaringan sekitarnya sehingga menimbulkan keluhan, sebaiknya dilakukan eksisi.
 Osteoid Osteoma
Gambaran Klinis
Osteoid osteoma adalah tumor jinak, arang ditemukan (1,8%), terutama pada umur 10-25 tahun. Tumor ini lebih sering pada laki-laki daripada wanita dengan perbandingan 2:1. Gejala yang paling menonjol adalah nyeri pada suatu daerah tertentu dan menghilang dengan pemberian salisilat.
Lokasi
Lokasi osteoid osteoma pada femur (25%), tibia (25%) dan sisanya pada daerah lain seperti tulang belakang.
Patologi
Kelainan terdiri atas jaringan seluler dengan tingkat vaskularisasi yang tinggi dari jaringan tulang yang belum matang serta jaringan osteoid.
 Osteoblastoma
Gambaran Klinis
Tumor ini seperti osteoid osteoma ditemukan terutama pada dewasa muda dan lebih sering pada laki-laki daripada wanita. Gejala nyeri yang ditemukan lebih ringan daripada osteoid osteoma dan lebih jarang terjadi. Kelainan ini hanya merupakan 2,5% dari seluruh tumor jinak tulang.
Lokasi
Osteoblastoma terutama ditemukan pada tulang belakang dan tulang-tulang ceper lainnya seperti ilium, iga, tulang jari dan tulang kaki.
Patologi
Gambaran patologisnya mirip dengan osteoid osteoma tetapi gambaran sel dan vaskularisasinya lebih menyolok.
b. Tumor Ganas
 Osteogenik Sarkoma
Gambaran Klinis
Osteogenik sarkoma merupakan tumor ganas tulang yang paling sering ditemukan (48,8%) diluar mieloma multipel. Tumor ini merupakan tumor yang sangat ganas, menyebar secara cepat pada periosteum dan jaringan ikat di luarnya.
Osteogenik sarkoma terutama ditemukan pada umur 10-20 tahun dan lebh sering pada pria daripada wanita. Nyeri merupakan gejala utama yang pertama muncul yang bersifat konstan dan bertambah hebat pada malam hari. Penderita biasanya datang dengan tumor yang besar atau oleh karena terdapat gejala fraktur patologis. Gejala-gejala umum lainnya yang dapat ditemukan adalah anemia, penurunan berat badan serta nafsu makan yang berkurang.
Lokasi
Tumor ini sering ditemukan di daerah metafisis tulang panjang terutama pada femur distal dan tibia proksimal dan dapat pula ditemukan pada radius distal dan humerus proksimal.
Pemeriksaan Radiologis
Gambaran radiologik yang dapat ditemukan tergantung dari kelainan yang terjadi :
1. Pada tipe osteolitik proses destruksi yang lebih menonjol
2. Pada tipe osteoblastik pembentukan tulang yang lebih menonjol
3. Pada tipe campuran terdapat proses osteolitik dan osteoblastik yang seimbang
Pertumbuhan tumor yang cepat mengakibatkan destruksi tulang dan reaksi periosteum. Dari reaksi periosteal tersebut hanya sisanya yaitu pada bagian tepi yang masih terlihat yang memberikan gambaran radiologik yang khas sebagai sustu sudut segitiga, yaitu segitiga codman. Juga ditemukan adanya bagian korteks yang terputus dan tumor menembus ke jaringan sekitarnya dan membentuk garis-garis pembentukan tulang yang radier ke arah luar yang berasal dari korteks dan dikenal sebagai sunburt appearance.
Seringkali diperlukan pemeriksaan radiologis lainnya seperti CT-Scan atau MRI. Pemeriksaan foto toraks disamping dilakukan sebagai prosedur rutin juga untuk follow up adanya metastasis pada paru-paru.
Pengobatan
Pengobatan terbaik pada osteogenik sarkoma adalah amputasi tulang di atas tumor atau persendian di atas tumor dan dilakukan disartikulasi. Pengobatan tambahan yang dapat diberikan berupa kemoterapi atau radioterapi atau kombinasi keduanya. Prognosis tumor ini sangat jelek, dimana 90% penderita meninggal sebelum tiga tahun dengan cara pengobatan apapun yang dilakukan. Biasanya terjadi metastasis melalui sirkulasi darah.
Patologi
Osteogenik sarkoma secara histologis mempunyai gambaran dari jaringan tulang atau osteoid serta gambaran pleomorf jaringannya. Tulang dan osteoid akan menghasilkan tulang rawan, jaringan lunak, atau jaringan miksid. Dan juga mungkin ada daerah jaringan tumor dengan sel-sel spindle. Pembentukan jaringan tulang harus dibedakan dari pembentukan reaksi tulang. Pemeriksaan histokimia dapat menunjukkan adanya aktivitas alkali fosfatase.














 Parosteal Osteosarkoma
Gambaran Klinis
Parosteal osteosarkoma biasanya ditemukan pada umur 10-50 tahun dengan prognosis yang lebih baik dibanding dengan osteogenik sarkoma. Tumor ini terjadi pada pria dan wanita dengan frekuensi yang sama. Nyeri merupakan gejala tersering yang ditemukan tetapi lebih ringan dibanding dengan osteogenik sarkoma. Pertumbuhan paroesteal osteosarkoma sangat lambat serta terbentuk suatu massa tulang yang keras.
Lokasi
Parosteal osteosarkoma terutama ditemukan pada metafisis femur bagian distal dan bagian belakang femur dan dapat pula ditemukan pada tulang humerus dan tibia.
Patologi
Secara histologist ditemukan massa trabekula tulang yang dewasa dan lamelar dan disekitarnya terdapat korteks tulang dimana ditemukan adanya jaringan fibrosa dan kadangkala tulang rawan. Sel-sel tumor hanya memperlihatkan sedikit pleomorf dan aktivitas mitosis.
2) TUMOR ASAL JARINGAN TULANG RAWAN
a. Tumor Jinak
 Kondroma
Gambaran klinis
Kondroma disebut juga enkondroma merupakan tumor jinak tulang dengan frekuensi 9,8% dari seluruh tumor jinak tulang, biasanya ditemukan pada usia dewasa muda tetapi dapat pula pada setiap umur. Gejala biasanya berupa benjolan yang tidak nyeri.


















Lokasi
Lokasi terutama pada tulang tangan, kaki, iga, dan tulang-tulang panjang bersifat soliter tapi dapat juga multipel sebagai enkondromatosis yang bersifat kongenital (penyakit oliier)
Pemeriksaan radiologis
Gambaran radiologik memperlihatkan adanya daerah radiolusen yang bersifat sentral antara metafisis dan diafisis. Mungkin dapat ditemukan sedikit ekspansi dari tulang. Pada tulang yang matur dapat ditemukan adanya bintik-bintik kalsifikasi pada daerah lusen.
Patologi
Terdapat pembentukan tulang rawan yang matur tanpa tanda-tanda pleomorf, mitosis atau gejala-gejala keganasan lainnya. Sering ditmukan adanya perubahan miksoid pada jaringan. Apabila ditemukan enkondromatosis disertai dengan hemangioma mltipel pada jaringan lunak, maka kelainan ini disebut sindroma maffucci. Perubahan kearah keganasan pada enkondromatosis lebih sering terjadi dari padaenkondroma soliter. Tanda-tanda keganasan biasanya setelah umur 30 tahun dengan gejala berupa nyeri, pembesaran tumor yang tiba-tiba dan erosi kortek tulang.
Pengobatan
Pengobatan tidak selalu diperlukan. Apabila tumor bertambah besar atau ditemukan adanya fraktur patologis maka tumor sebaiknya dikeluarkan melalui kuretase kemudian diisi dengan jaringan tulang tempat lain (bone graft).
 Osteokondroma
Gambaran klinis
Osteokondroma merupakan tumor jina tersering kedua (32,5%) dari seluruh tumor jinak tulang dan terutama ditemukan pada remaja yang pertumbuhannya aktif dan pada dewasa muda. Gejala nyeri terjadi bila terdapat penekanan pada bursa atau jaringan lunak sekitarnya. Benjolan yang keras dapat ditemukan pada daerah sekitar lesi
Lokasi
Lokasi osteokondroma biasanya pada daerah metafisis tulang panjang khususnya femur distal, tibia proksimal dam humerus proksimal. Osteokodroma juga dapat ditemukan pada tulang skapula dan ilium. Tumor bersifat soliter dengan dasar lebar atau kecil seperti tangkai dan bila multipel dikenal sebagai diafisial aklasia (eksostosis herediter multipel) yang bersifat herediter dan diturunkan secara dominan gen mutan.
Pemeriksaan radiologis
Ditemukan adanya penonjolan tulang yang berbatas tegas sebagai eksostosis yang muncul dari metafisis, tetapi yang terlihat lebih kecil dibanding dengan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik oleh karena sebagian besar tumor ini diliputi oleh tulang rawan. Tumor dapat bersifat tunggal atau multipel tergantung dari jenisnya.
Patologi
Ditemukan adanya tulang rawan hialin di daerah sekitar tumor dan terdapat eksostosis yang berbentuk tiang di dalamnya. Lesi yang besar dapat bebrbentuk gambaran bunga kol dengan degenerasi dan klasifikasi di tengahnya.

















Pengobatan
Apabila terdapat gejala penekanan pada jaringan lunak misalnya pada pembuluh darah atau saraf sekitarnya atau tumor tiba-tiba membesar disertai rasa nyeri maka diperlukan tindakan operasi secepatnya, terutama bila hal ini terjadi pada orang dewasa.
 Kondroblastoma jinak
Gambaran klinis
Merupkana tumor jinak yang jarang ditemukan dan sering pada umur 10-25 tahun, beberapa penulis menyatakan lebih sering ditemukan pada laki-laki daripada wanita. Pertumbuhan tumor ini sangat lambat. Gejala nyeri merupakan gejala yang utama khususnya pada sendi. Ada penulis yang menganggap bahwa 50% dari tumor ini dapat menjadi ganas.
Lokasi
Kondroblastoma jinak berasal dari daerah epifisis dan berkembang ke arah metafisis. Tumor terutama ditemukan pada epifisis tibia proksimal, femur distal dan humerus proksimal.
Pemeriksaan radiologis
Pada foto rontgen terlihat rarefaksi yang jelas pada tulang kanselosa yang dapat melebar di luar dari daerah garis epifisis. Bentuknya eksentrik dengan korteks yang tipis tetapi penetrasi keluar jarang terjadi. Batas-batas tumor bersifat ireguler, tidak tegas disertai dengan bintik-bintik kalsifikasi sebagai gambaran adanya deposisi kalsium.
Patologi
Gambaran patologis ditandai dengan gejala-gejala karakteristik dari sel-sel yang banyak dan bersifat tidak berdifferensiasi dengan sel-sel yang bulat atau poligonal dari sel-sel yang menyerupai kondroblas dengan sel-sel raksasa inti banyak dari sel osteoklas yang diatur secara sendiri-sendiri atau kelompok. Hanya ditemukan sedikit jaringan seluler dari jaringan matriks tulang rawan yang disertai dengan kalsifikasi fokal dan jaringan retikulin.
Pengobatan
Pengobatan yang biasanya dilakukan berupa kuretase diikuti bone graft.
 Fibroma kondromiksoid
Gambaran klinis
Kelainan ini jarang ditemukan dan merupakan suatu tumor jinak, terutama ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda. Tidak terdapat gejala-gejala yang khas pada tumor dan biasanya ditemukan secara kebetulan saja. Pertumbuhan tumor ini sangat lambat.
Lokasi
Lokasi tumor terutama pada daerah metafisis tulang panjang atau tulang-tulang kecil pada tarsal dan metatarsal.
Pemeriksaan radiologis
Gambaran radiologis sangat khas berupa daerah radiolusen yang bulat/oval terletak eksentris pada metafisis dan dapat meluas sampai ke diafisis tulang panjang, berbatas tegas dan kadang-kadang dengan pinggiran sklerotik. Korteks sering menipis akibat ekspansi dari tumor.
Patologi
Gambaran patologis sangat khas berupa daerah lobulasi yan berbentuk spindle atau sel-sel stell dengan jaringan miksoid dan kondroid intreseluler yang dipisahkan dari jaringan yang mengandung lebih banyak sel dengan bentuk spindle dengan beberapa sel raksasa multinuklear dengan bentuk yang berbeda. Mungkin dapat ditemukan sel-sel pleomorf.
Pengobatan
Tumor ini berpotensial menjadi ganas sehingga tidak cukup hanya dilakukan kuretase saja tetapi diperlukan juga eksisi lokal.
b. Tumor Ganas
 Kondrosarkoma
Merupakan tumor yang sangat ganas, terbagi atas kondrosarkoma primer dan kondrosarkoma sekunder. Kondrosarkoma sekunder kurang ganas dibanding yang primer dan merupakan degenerasi ganas dari enkondroma/eksostosis.
Gambaran Klinis
Frekuensi kondrosarkoma sebesar 10% dari seluruh tumor ganas tulang, lebih sering pada laki-laki daripada wanita dan terutama ditemukan pada umur 30-45 tahun/
Perkembangan kondrosarkoma sangat lambat. Gejala dini biasanya berupa nyeri yang bersifat tumpul akibat pembesaran tumor yang perlahan-lahan.
Lokasi
Lokasi kondrosarkoma terutama pada daerah panggul, bahu, dan lutut
Patologi
Gambaran patologis yang khas adalah terbentuknya tulang rawan oleh sel-sel tumor tanpa disertai osteogenesis. Ditemukan jaringan dengan banyak sel pleomorf serta mitosis yang banyak.












 Kondrosarkoma juksta kortikal
Gambaran Klinis
Kondrosarkoma juksta kortikal merupakan suatu tumor ganas ditandai dengan pembentukan tulang rawan yang berasal dari bagian luar permukaan tulang, mulai dari tulang rawan di bawah periosteum. Prognosis tumor ini lebih baik disbanding dengan jenis kondrosarkoma sentral dan harus dibedakan dari kondrosarkoma sekunder akibar perubahan keganasan dari osteokondroma.
Lokasi
Lokasi juksta kondrosarkoma kortikal terutama pada femur distal, tibia proksimal serta humerus proksimal. Tumor ekstra-oseus biasanya mengadakan invasi ke korteks dan kemudian ke dalam medulla. Perkembangan tumor ini sangat cepat.
Patologi
Gambaran patologis yang khas berupa tulang rawan yang berdiferensiasi baik dengan pembentukan osifikasi yang luas pada daerah endokondral.
3) GIANT CELL TUMOR
 Osteoklastoma
Gambaran Klinis
Osteoklastoma (giant cell tumor = tumor sel raksasa) merupakan tumor tulang yang mempunyai sifat dan kecendrungan untuk berubah menjadi ganas dan agresif sehingga tumor ini dikategorikan sebagai suatu tumor ganas.
Tumor sel raksasa menempati urutan ke dua (17,5%) dari seluruh tumor ganas tulang, terutama ditemukan pada umur 20-40 tahun dan jarang sekali di bawah umur 20 tahun dan lebih sering pada wanita daripada pria.
Gejala utama yang ditemukan berupa nyeri serta pembengakakan terutama pada lutut dan mungkin ditemukan pada efusi sendi serta gangguan gerakan pada sendi. Mungkin juga penderita datang berobat dengan gejala-gejala fraktur (10%).
Lokasi
Osteoklastoma terutama ditemukan pada daerah epifisis tulang panjang (75%), khususnya pada daerah lutut yaitu pada daerah tibia proksimal, femur distal, humerus proksimal, radius distal. Sisanya dapat ditemukan pada daerah pelvis dan sakrum.
Patologi
Tumor sel raksasa yang konvensional merupakan lesi soliter dan ditemukan sel raksasa yang multinukleus menyerupai osteoklas serta sel-sel stroma pada daerah epifisis (98-99%) pada tulang orang dewasa, bersifat agresif dengan sel-sel atipik dan gambaran mitosis. Ditemukan jaringan yang kaya vaskularisasi tapi hanya sedikit jaringan kolagen
















4) TUMOR ASAL SUM-SUM TULANG
Tumor Ganas
 Sarkoma Ewing
Gambaran Klinis
Tumor ganas yang berasal dari sumsum tulang belakang dengan frekuensi sebanyak 5% dari seluruh tumor ganas tulang, terutama ditemukan pada umur 10-20 tahun dan lebih sering terjadi pada laki-laki daripada wanita.
Gejala terutama berupa nyeri dan pembengkakan pada daerah tumor dan terdapat gejala umum lainnya seperti kaheksia, nyeri tekan pada tumor dan peninggian laju endap darah. Tumor biasanya sangat ganas, berkembang secara cepat dan penderita meninggal dalam 3-18 bulan pertama (95% meninggal pada tahun pertama).














Lokasi
Tumor ini terutama terdapat pada daerah diafisis dan metafisis tulang panjang seperti femur, tibia, humerus, dan fibula atau pada tulang pipih seperti pada pelvis dan scapula.
Patologi
Tumor terdiri dari atas jaringan dengan gambaran histologist uniform dengan sel kecil dan nucleus yang bulat yang sulit ditentukan batasnya dengan batas sitoplasma. Sel-sel ini berbentuk polihidral tanpa aturan dan tidak ditemukan substansi dasarnya.
 Retikulo Sarkoma Tulang
Gambaran Klinis
Retikulo sarcoma dapat terjadi pada setiap umur tetapi terutama pada umur di atas 20 tahun (30-40 tahun). Gejala yang paling menonjol adalah nyeri serta fraktur patologis.
Lokasi
Lokasi retikulo sarcoma terutama pada tulang panjang
Patologi
Retikulo sarcoma merupakan tumor ganas limfoid dengan struktur histologist yang bervariasi. Sel-selnya terdiri atas sel bulat pleomorf dengan batas sitoplasma yang jelas. Nucleus sel biasanya berbentuk tapal kuda dengan nucleolus yang jelas. Jaringan stroma kadang-kadang mengandung serabut retikuler dan terletak secara uniform diantara sel-sel tumor. Gambaran patologis retikulo sarcoma tulang umumnya seperti pada retikulo sarcoma histiositik dan jenis campuran yaitu jenis limfatik histiositik dari limfoma maligna pada kelenjar limfe. Kelainan ini sulit dibedakan secara histologik dengan sarcoma ewing kecuali dengan pewarnaan glikogen dimana hasilnya positif pada sarcoma ewing dan negative pada retikulo sarcoma.
 Limfoma Sarkoma Tulang
Limfosarkoma tulang merupakan tumor ganas tulang yang jarang sekali ditemukan dan harus dibedakan dengan tumor tulang sekunder akibat limfosarkoma.
 Mieloma Multipel
Gambaran klinis
Mieloma multiple merupakan tumor ganas tulang yang sering ditemukan yaitu 17% dari seluruh tumor ganas organ tubuh serta menempati peringkat ketiga dari tumor ganas tulang. Ditemukan terutama pada umur 40-70 tahun, jarang di bawah 30 tahun dan lebih sering ditemukan pada laki-laki daripada wanita dengan perbandingannya 2:1
Gejala yang sering ditemukan adalah nyeri yang menetap, nyeri pinggang yang kadang-kadang disertai nyeri radikuler serta kelemahan anggota gerak. Gejala-gejala umum seperti anemia, kaheksia, anoreksia, muntah-muntah, gangguan psikis dan kesadaran juga dapat ditemukan. Penderita sering datang dengan fraktur patologis terutama pada vertebra oleh karena proses destruksi yang hebat.
Lokasi
Tumor ini berasal dari sumsum tulang dan menyebar ke tulang yang lain. Lokasi yang paling sering terkena adalah tulang belakang, panggul, iga, sternum dan tengkorak.
Patologi
Gambaran patologis myeloma multiple memperlihatkan adanya kelainan bersifat multiple yang difus pada tulang dengan karakterisik sel-sel bulat dari sel plasma dengan bentuk dan tingkat maturasi yang berbeda














 Plasmasitoma
Plasmasitoma biasanya adalah suatu myeloma yang bersifat soliter. Gejala klinis berupa nyeri atau benjolan dan mungkin disertai dengan fraktur patologis. Gambaran radiologic dapat ditemukan lesi osteolitik yang bersifat multilokuler. Pengobatan yang diberikan berupa radioterapi dan bila perlu dikombinasi dengan fiksasi interna dan pengisian rongga dengan semen metilmetakrilat.
5) TUMOR VASKULER
a. Tumor Jinak
 Hemangioma
Merupakan tumor jinak yang berasal dari system vaskuler.kelainan ini bias bersifat soliter atau multiple pada tulang, terutama ditemukan pada tulang belakang dan tengkorak tanpa disertai gejala-gejala klinis yang jelas dan harus dibedakan dengan hemangioma pada jaringan lunak.secara histologist dibedakan antara suatu hemangioma dan angiosarkoma.
Hingga saat ini apa yang menjadi penyebab hemangioma masih belum jelas namun berhubungan dengan mekanisme control pertumbuhan pembuluh darah.Angiogenesis sepertinya memiliki peranan penting dalam kelebihan pembuluh darah.cytokines seperti basic fibroblast growth factor dan vascular endothelial growth factor,mempunyai peranan dalam proses angiogenesis.peningkatan factor-faktor pembentuk angiogenesis seperti penurunan kadar angiogenesis inhibitor misalnya gamma interfreron,tumor necrosis factor beta,dan transforming growth factor beta berperan dalam etiologi hemangioma
 Limfangioma
Merupakan tumor jinak yang berlokasi pada tulang dan terbentuk dari saluran-saluran limfe, ditemukan terutama dalam bentuk kistik yang berdilatasi.Limfangioma biasanya bersifat multiple pada tulang dan mungkin disertai limfangioma pada jaringan lunak.
 Tumor glomus
Tumor glomus merupakan tumor jinak dengan sel-sel bulat yang uniform disertai dengan struktur vaskuler.tumor ini kemungkinan berasal dari glomus neuro-mioarterial dengan diameter tumor yang sangat kecil(0,5-1 mm).Badan glomus terdapat pada stratum retikulare kulit yang berfungsi untuk mengontrol hubungan antara pembuluh darah arteri dan vena.Lpkasi yang sering terjadi yaitu pada falangs terminal dibawah kuku,biasanya memberi rasa nyeri yang hebat serta nyeri tekan di daerah falangs terminal.Dibawah kuku mungkin ditemukan area yang kebiru-biruan dengan nyeri tekan yang hebat.Pada pemeriksaan radiologis mungkin ditemukan adanya erosi pada tulang falangs terminal akibat tekanan pada tulang.
b. Intermediate
 Hemangioendotelioma
Merupakan tumor yang bersifat agresif tetapi tidak bermetastasis.Kelainan ditandai dengan adanya sel-sel padat yang disertai dengan struktur – struktur vaskuler endothelial.Tumor ini sangan jarang ditemuakan dan dapat bersifat multiple.Pengobatan yang diberikan berupa eksisi tumor.
 Hemangioperisitoma
Merupakan tumor yang agresif dan dapat menjadi ganas.gambaran histologisnya berupa gambaran vaskuler yang dilapisi oleh sel endothelial yang dikelilingi oleh zona proliferasi sel.
c. Tumor ganas
 Angiosarkoma
Merupakan tumor ganas yang jarang ditemukan,secara histologist ditandai dengan pembentukan anastomnosis vaskuler yang ireguler yang dilapisi oleh satu aatu lebih sel sel endothelial yang atipik dan biasa terdapat gambaran sel yang imatur disertai dengan massa padat yang kurang berdiferensiasi.tumor ini sangat ganas dan bermetastasis secara cepat keparu-paru.Angiosarkoma tulang dapat bersifat multiple dan dapat terjadi pada tulang dan jaringan lunak.
6) TUMOR ASAL JARINGAN IKAT LAIN
a. Tumor jinak
 Fibroma desmoplastik
Merupakan tumor jinak yang dapat mengenai anak-anak dan dewasa, terutama terjadi pada tulang panjang dan tulang pipih.Gejala yang dapat ditemukan berupa pembengkakan dan nyeri.
 Lipoma
Lipoma merupakan suatu tumor jinak yang terdiri atas jaringan lemak matur dan biasanya ditemukan pada lipoma berupa massa pada jaringan lunak.
b. Tumor ganas
 Fibrosarkoma
Fibrosarkoma berasal dari jaringan lunak endosteal dan menghasilkan kolagen.fibrosarkoma dapat bersifat primer atau sekunder akibat keganasan penyakit-penyakit sebelumnya misalnya akibat penyakit paget.Penyakit ini biasanya ditemukan setelah usia 20-60 tahun,penderita umumnya dating dengan gejala pembengkakan atau fraktur patologis.
 Liposarkoma
Merupakan tumor ganas yang sangat jarang ditemukan.kelainan ditandai dengan adanya diferensiasi lipoblastik dimana ditemukan lipoblas yang atipik dengan tingkat diferensiasi yang berbeda.
 Mesenkimoma ganas
Merupakan salah satu tumor ganas yang berasal dari jaringan ikat dengan tingkat diferensiasi serta gambaran struktur sel yang multiple yang secara normal tidak ditemukan pada tulang.
 Sarkoma tak berdiferensiasi
Merupakan tumor ganas dengan struktur sel spindle yang pleomorf dan tidak ditemukan bentuk-bentuk diferensiasi histologik yang spesifik.
7) TUMOR TULANG LAIN
a. Tumor jinak
 Neurilemoma
Merupakan tumor jinak pada tulang dan dikenal juga dengan schwannoma.Jaringan neurilemoma terdiri atas sel-sel jaringan fibrosa berinti kecil dan sitoplasma sinsial dengan jaringan matriks yang tersusun atas jaringan retikuler yang longgar.kelainan ini ditemuakan pada permukaan volar lengan bawah dan pergelangan tangan.
 Neurofibroma
Merupakan tumor jinak yang dapat ditemukan pada tulang yang berkembang dari jaringan saraf.Neurofibroma harus dibedakan dengan neurofibromatosis pada jaringan lunak.
b. Tumor ganas
 Kordoma
Merupakan tumor ganas yang berasal dari sisa notokordal,sering ditemukan pada usia dewasa muda dan berkembang secara progresif pada daerah sacrum kdan koksigis.Kordoma juga dapat ditemukan pada tulang belakang dan akan memberikan nyeri pada pinggang bawah.Apabila terjadi pada sacrum kordoma dapat menimbulkan obstruksi uretra/rectum dan pada tingkat lanjut dapat timbul gejala-gejala neurologis.
8) TUMOR NON-KLASIFIKASI
a. Tumor jinak
 Kista soliter tulang
Penyebab kista soliter tulang tidak diketahui,mungkin akibat suatu trauma atau akibat gangguan perkembangan.kelainan ini sering terjadi pada tulang panjang,terutama pada bagian atas tulang panjang.
 Kista aneurisma tulang
Kista ini jarang ditemukan baik pada laki-laki maupun wanita dengan perbandingan yang sama.Tulang belakang dan tulang panjang adalah bagian tersering yang terkena .Pada tulang panjang,daerah metafisis kaput femur merupakan predileksi tersering pada tulang panjang.
 Displasia fibrosa
Kelainan ini jarang terjadi dan hanya 4-6% dari seluruh tumor jinak tulang,terutama ditemukan pada usia kanak-kanak dan dewasa muda dan lebih sering pada wanita dengan perbandingan 3:1.Displasia fibrosa monostotik lebih sering ditemukan daripada poliostotik.Pada lesi monostotik tempat tersering adalh femur,tibia,iga,tulang rahang dan lesi poliostotik terutama terjadi pada anggota gerak bawah.
 Ganglion intraoseus
Merupakan suatu kelainan jinak yang bersifat kistik dan biasanya bersifat multiokuler yang terdiri atas jaringan fibrosa dengan perubahan mukoid berlokasi pada tulang subkondral dekat pada sendi,terutama bagian distal tibia atau humerus.
 Defek metafisis fibrosa
Defek metafisis fibrosa jarang ditemukan dan terutama mengenai kelompok umur 10-20 tahun.Lokasi tersering adalah pada metafisis tulang femur distal.Gambaran klinisnya berupa rasa nyeri yang ringan pada tempat lesi dan bisa ditemukan pembengkakan baik secara spontan maupun akibat trauma.
 Granuloma eosinofilik
Mengenai system retikulo-endotelial seperti tulang,limfonodus,limpa,ginjal,dan beberapa kasus mungkin dapat mengenai lambung dan kulit.kelainan ini terutama mengenai remaja usia 10-12 tahun,lebih sering pada pria disbanding wanita dengan perbandingan 2:1.Granuloma eosinofilik jarang terjadi dan hanya 1% dari keseluruhan tumor jinak tulang.
 Miositis osifikans
Merupakan suatu kalus jaringan lunak.secara normal kalus terbentuk pada fraktur tulang, tetapi kalus pada miositis osifikans merupakan penyimpangan yang jarang terjadi akibat reaksi jaringan lunak terhadap suatu trauma.
 Tumor brown pada hiperparatiroid
Meskipun penyakit ini merupakan manifestasi lanjut patologik radiologic dari suatu hiperparatiroidisme,tetapi cukup penting untuk diketahui dan dikelompokkan secara terpisah.
9) TUMOR GANAS TULANG AKIBAT METASTASIS
Baik karsinoma maupun sarcoma dapat bermetastasis ke tulang.Metastasis karsinoma kedalam tulang lebih sering dibandingkan metastasis sarcoma.tidak jarang tumor-tumor hemopoetik ataupun retikuler mengenai juga tulang baik sebagai lesi primer ataupun sekunder.
Insidens metastasis karsinoma bervariasi,Willer menemukan insidensnya sebesar 14% sementara Abrams ,spiro dan Goldstein(1950)menyatakan bahwa dari 1000 kasus autopsy yang meninggal akibat karsinoma,ditemukan sebanyak 27% dengan metastasis tulang.lokasi tersering tumor tulang ini adalah pada tulang belakang ,tulang tengkorak,metafisis humerus,proksimal dan femur dan kadang – kadang pada tulang tangan,lengan,tungkai bawah,dan kaki.
Metastasis mungkin tidak memberikan gejala untuk jamgka waktu lama.Umumnya gejala yang muncul adalah nyeri dan lemah dan sering ditemukan adanya fraktur patologis.Adanya destruksi tulang menyebabkan peningkatan konsentrasi kalsium darah dan kalsium urin.Deposisi renal tidak jarang terjadi dan bisa menyebabkan kerusakan renal yang cukup berat.Terdapat retensi fosfat disertai peningkatan kadar fosfat darah.
e. Asuhan keperawatan tumor dengan insidens tersering
Penatalaksanaan medis
Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor tersebut saat didiagnosis. Tujuan penatalaksanaan secara umum meliputi pengangkatan tumor, pencegahan amputasi jika memungkinkan dan pemeliharaan fungsi secara maksimal dari anggota tubuh atau ekstremitas yang sakit. Penatalaksanaan meliputi pembedahan, kemoterapi, radioterapi, atau terapi kombinasi.
Osteosarkoma biasanya ditangani dengan pembedahan dan / atau radiasi dan kemoterapi. Protokol kemoterapi yang digunakan biasanya meliputi adriamycin (doksorubisin) cytoksan dosis tinggi (siklofosfamid) atau metrotexate dosis tinggi (MTX) dengan leukovorin. Agen ini mungkin digunakan secara tersendiri atau dalam kombinasi.
Bila terdapat hiperkalsemia, penanganan meliputi hidrasi dengan pemberian cairan normal intravena, diurelika, mobilisasi dan obat-obatan seperti fosfat, mitramisin, kalsitonin atau kortikosteroid.
Tindakan keperawatan
• Manajemen nyeri
Teknik manajemen nyeri secara psikologik (teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan bimbingan imajinasi ) dan farmakologi ( pemberian analgetika ).
• Mengajarkan mekanisme koping yang efektif
Motivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan berikan dukungan secara moril serta anjurkan keluarga untuk berkonsultasi ke ahli psikologi atau rohaniawan.
• Memberikan nutrisi yang adekuat
Berkurangnya nafsu makan, mual, muntah sering terjadi sebagai efek samping kemoterapi dan radiasi, sehingga perlu diberikan nutrisi yang adekuat. Antiemetika dan teknik relaksasi dapat mengurangi reaksi gastrointestinal. Pemberian nutrisi parenteral dapat dilakukan sesuai dengan indikasi dokter.
• Pendidikan kesehatan
Pasien dan keluarga diberikan pendidikan kesehatan tentang kemungkinan terjadinya komplikasi, program terapi, dan teknik perawatan luka di rumah.
pemeriksaan penunjang
Diagnosis didasarkan pada riwayat, pemeriksaan fisik, dan penunjang diagnosis seperti CT, biopsi, dan pemeriksaan biokimia darah dan urine. Pemeriksaan foto toraks dilakukan sebagai prosedur rutin serta untuk follow-up adanya stasis pada paru-paru. Hiperkalsemia terjadi pada kanker tulang metastasis dari payudara, paru, dan ginjal. Gejala hiperkalsemia meliputi kelemahan otot, keletihan, anoreksia, mual, muntah, poliuria, kejang dan koma. Hiperkalsemia harus diidentifikasi dan ditangani segera. Biopsi bedah dilakukan untuk identifikasi histologik. Biopsi harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran dan kekambuhan yang terjadi setelah eksesi tumor.
Asuhan Keperawatan Osteosarkoma
A. Pengkajian
Nyeri diatas area yang sakit dari ekstremitas, khususnya pada malam hari.
Keterbatasan pengguanaan ekstremitas
- Anoreksia
- Penurunan berat badan
- Kelelahan
- Pembengkakan lokal dengan atau tanpa trauma
- Peningkatan suhu kulit diatas area yang dipengaruhi
- Peningkatan suhu
B. Diagnosa keperawatan
1.Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosis kanker dan prognosa yang tidak pasti
 Kriteria hasil
Ansitas, kekuatiran dan kelemahan menurun pada tingkat yang dapat mendemonstrasikan kemandirian yang meningkat dalam aktivitas dan proses pengambilan keputusan.
 Intervensi keperawatan
a. gunakan pendekatan yang tenang dan berikan suatu suasana lingkungan yang dapat diterima
R / membantu pasien dalam menbangun kepercayaan pada tenaga kesehatan
b. evaluasi kemampuan pasien dalam pembuatan keputusan
R/ membantu pengkajian terhadap kemandirian dalam pengambilan keputusan.
c. dorong sikap harapan yang realistis
R/ meningkatkan kedamaian diri
d. dukung pengguanaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai
R/ meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah
e. klasifikasi persepsi pasien tentang proses penyakit, pengobatan .
R/ membantu dalam memahami informasi yang penting dan menghilangkan mitos
f. jawab pertanyaan pasien atau bantu mereka dalam mendapatkan informasi.
R/ menemulan kebutuhan penyuluhan pasien mungkin dapat membantu dalam koping
g. dorong untuk bersikap asertif dalam mencari informasi
R/ untuk menemukan kebutuhan pasien
2. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan pengobatan kemoterapi berkaitan dengan destruksi secara cepat pembelahan sel hematopoetik normal yang mengakibatkan immunosupresi.
 Kriteria hasil
Penurunan potensial infesksi
 Intervensi keperawatan
a. pantau infeksi sistemik atau lokal infeksi
R/ kekurangan neutropil selama granulositopenia menghambat kemampuan untuk melawan infeksi dan dapat menutupi munculnya tanda- tanda infeksi.
b. pantau tanda- tanda vital setiap 4 jam dan lebih sering jika diperlukan
R/ demam atau hipotermia mungkin mengindikasikan munculnya infeksi pada pasien granulositopetik.
c. kaji semua daerah prosedur invasif terhadap kemungkinan adanya tanda infeksi
R/ membantu mengidentifikasi komplikasi
d. kaji kemungkinan adanya kerusakan kulit dan permukaan mukosa
R/ kulit dan membran mukosa memberikan jalan pertama dari pertahanan terhadap mikroorganisme
e. laporkan demam diatas 37,7 C dengan segera
R/ peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan jumlah sel darah putih yang rendah mungkin hanya merupakan tanda infeksi pasien.
f. mulai terapi antibotik dengan segera setelah diperoleh kultur yang perlu.
R/ pasien dapat mengalami sepsis dalam12 jam demam tinggi jika tidak diobati dengan antibiotik.
g. bantu pasien mengenai kebersihan diri meliputi mandi, kebersihan mulut dan perawatan perineal.
R/ menurunkan kehadiran organisme endogen.
h. anjurkan istirahat sesuai kebutuhan
R/ keletihan dapat menekan sistem imun tubuh.
i. ganti semua balutan setiap hari termasuk pada jalur sentral
R/ mencegah sepsis pada daerah invasif atau daerah lain.

3. Perubahan eliminasi urinarius berhubungan dengan efek samping kemoterapi yang dapat mengakibatkan kemoterapi hematuriaatau tosisitas renal.
 Kriteria hasil
Eliminasi urine optimal dapat dipertahankan
 Intervensi keperawatan
- pantau eliminasi urine yang meliputi warna, jumlah, adanya sel darah merah. Ureum, keratinin.
- berikan kemoterapi pada pagi hari .
- instruksikan pasien untuk minum paling sedikit 8- 12 gelas perhari sebelum atau sesudah kemoterapi.
- Instruksikan pasien untuk berkemih setiap dua sampai tiga jam sebelum tidur dan ketika bangun di malam hari.
- Beritahu mengenai rasioanal untuk masukan cairan adekuat dan sering berkemih.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah dan diare karena kemoterapi
 kriteria hasil
pasien mempertahankan berat badan 5 % sebelum pengobatan. Pasien tidak mengalami mual, muntah atau jika akan dikontrol dan diminimalkan.
 Intervensi keperawatan
a. kaji masukan makanan dan cairan.
b. beritahu jika pasien mempunyai beberapa jenis alergi
c. kolaborasi dengan ahli gizi sesuai kebutuhan
5. Nyeri berhubungan dengan intervensi pembedahan
 Kriteria hasil
Nyeri tidak ada atau terkontrol
 Intervensi keperawatan
a. tentukan letak nyeri, karakteristik, kualitas dan beratnya sebelum pasien mendapatkan pengobatan.
b. Cek pesanan medis terhadap obat, dosis dan frekuensi pemberian analgetik
c. Cek riwayat alergi obat
d. Pilih analgesik yang sesuai jika lebih dari satu yang diresepkan.

e. Pantau tanda- tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgetik narkotik untuk dosis pertama atau jika ada tanda yang tidak umummohon dicatat.
f. Bantu relaksasi untuk memfasilitasi respon terhadap analgetik
g. Berikan analgetik pada waktunya terutama untuk nyeri berat.
6. kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan penuruana kekuatan otot, nyeri karena pembedahan atau amputasi bagian tubuh yang terkena, interupsi pembedahan atau pengangkatan otot – otot ,kartilago dan ligamen.
- kriteria hasil
Pasien mampu bergerak atau berpidah secara mandiri
- Intervensi keperawatan
a. Kaji puntung terhadap pembengkakan dan tanda –tanda infeksi.
b. Kaji balutan terhadap perdarahan
c. Tinggikan kepala tempat tidur selama 24 jam pertama setelah amputasi
d. Posisikan anggota badan yang sakit pada kesejajaran tubuh yang tepat
e. Posisikan pasien degan amputasi kaki pada lambung 3 x sehari
f. Posisikan puntung dibawah lutut pada posisi ekstensi
g. Berikan alat untuk berpegangan diatas tempat tidur
h. Bantu dalam latihan dengan tepat














BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Sistem rangka membentuk dasar dari tubuh manusia. Semua organ-organ, daging, darah, otot, cair dan udara semua terkandung dalam tubuh dan memiliki kestabilan dan kekuatan tertentu karena tulang.
Akan tetapi, ternyata sistem rangka ini juga dapat mengalami kelainan baik bentuk maupun fungsinya yang disebabkan oleh berbagai gangguan misalnya karena adanya proses degeneratif/penuaan dan gangguan metabolik, selain itu adanya infeksi dan inflamasi menyebabkan peradangan pada tulang dan sendi, adanya tumor pada tulang, dan kelainan bawaan yang menyebabkan kelainan bentuk tulang yang paling tampak.
Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pemahaman dan tindakan dalam penyelesaian permasalahan-permasalahan ini.

B. SARAN
Dari penjelasan di atas, kita bisa melihat bahwa sungguh kompleks gangguan pada sistem rangka itu. Oleh karena itu, sebagai calon perawat kita tentunya harus memahami berbagai konsep gangguan-gangguan tersebut sehingga dengan memahami kita dapat memberikan intervensi yang sesuai.












DAFTAR PUSTAKA

- Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Ed.8, Vol.3. Jakarta: EGC.
- Price & Wilson. 2005. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit,Ed.6, Vol.2. Jakarta: EGC.
- Tim Muskulosceletal FK-UH. 2006. Modul Anatomi Sistem Muskuloskeletal. Makassar: Bagian Sistem muskuloskeletal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
- Tim Muskuloskeletal FK-UH. Diktat Sistem Muskuloskeletal. Makassar: Bagian Sistem muskuloskeletal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
- Lauralee Sherwood. 2001. Fisiologi Manusia dari sel ke sistem, Ed.2. Jakarta: EGC.
- Prof. Chairuddin Rasjad,MD.,Ph.D. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: Yarsif Watampone.

0 komentar:


Blogspot Templates by Isnaini Dot Com and Wedding Bands. Powered by Blogger